Angkat Potensi Bisnis Kuliner Betawi Lewat Festival Makanan

Festival makanan Betawi di Setu Babakan

Festival makanan Betawi di Setu Babakan

Makanan tradisional Betawi ternyata masih mendapat tempat di hati warga Jakarta. Buktinya, saat Festival Makanan Betawi yang diramaikan 30 pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) di Perkampungan Budaya Betawi (PBB) Setu Babakan, Jagakarsa. Jakarta Selatan, pengunjung sangat antusias merubung stand aneka makanan Betawi seperti kerak telor, dodol, kue geplak, wajik, kembang goyang, akar kelapa hingga laksa.

Usai menyantap makanan yang mulai langka itu, pengunjung juga bisa menikmati segarnya es selendang mayang. Beberapa pengunjung ada juga yang memilih bir pletok yang bisa diminum dengan es atau bisa juga dalam keadaan hangat. Uniknya meski diminum dengan es, bir pletok yang merupakan ramuan campuran rempah seperti kapulaga, cengkeh, dan jahe justru membuat badan terasa hangat dan segar.

Baca Juga Artikel Ini :

Bir Pletok, Minuman Tradisional Potensi Daerah Betawi

Kue Tradisional Asli Betawi

Walikota Jakarta Selatan, Tri Kurniadi mengaku senang dengan antusiasme warga. Pasalnya, di tengah maraknya makanan modern, makanan tradisional Betawi tetap banyak peminatnya. Ia berharap kecintaan warga terhadap makanan Betawi tidak hanya membuat kekayaan kuliner lokal tetap eksis, tapi juga mampu mengangkat perekonomian pelaku UKM.

Pembukaan festival makanan Betawi di Setu Babakan

Pembukaan festival makanan Betawi di Setu Babakan

“Ini kekayaan yang harus tetap dilestarikan, agar generasi mendatang juga bisa menikmatinya,” ujarnya, Sabtu (17/12).

Namun, ia berharap selain bisa mempertahankan rasa yang khas, pelaku UKM Kuliner Betawi juga harus menjaga kebersihan dan kesehatan makanan yang dijual. Karena itu, UKM yang ikut serta dalam acara itu, harus mengikuti tahapan pemeriksaan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta.

“Makanan yang dijual harus higienis. Harga boleh kaki lima, tapi rasanya bintang lima,” tegasnya.

Standar kesehatan makanan memang menjadi perhatian Pemprov DKI di tempat wisata. Di Lokasi Binaan pedagang seperti Lenggang Jakarta Monas misalnya, Pemprov DKI secara berkala selalu melakukan pemeriksaan pada makanan yang dijual pedagang. Dengan begitu, penggunaan bahan pengawet berbahaya seperti boraks dan formalin bisa dicegah sedini mungkin.

30 UKM ramaikan festival makanan Betawi di Setu BabakanPengunjung pun jadi lebih tenang menyantap makanan yang dijajakan, karena makanan yang disajikan sudah jelas standar kesehatannya. Meskipun begitu, selain soal standar makanan, penggunaan bahasa di PBB Setu Babakan juga harusnya menjadi perhatian. Sebab, banyak di antara pedagang yang dari daerah justru memakai bahasa daerahnya dalam berkomunikasi sehari-hari di PBB Setu Babakan.  Harusnya pedagang menghargai kearifan lokal budaya setempat dengan menggunakan bahasa Betawi.

“Iya, banyak pedagang dari daerah, termasuk pedagang kerak telor. Kalau yang orang Betawi, Bang Toyib. Dia biasa dagang di ujung Setu Babakan,” tandas Rian, pedagang souvenir di PBB Setu Babakan.

Tim Liputan BisnisUKM
(/Dunih)
Kontributor Daerah Untuk BisnisUKM.com