pengusaha-ekspor-mebelKalau kita masuk ke dalam rumah pasti kita akan menemukan berbagai macam perlengkapan dari mebel. Mulai dari meja,kursi, lemari,bingkai, temapat tidur dll. Hampir tidak ada perlengkapan aksesoris rumah yang tidak menggunakan furniture. Karena kemasyuran furniture dari indonesia ini sudah merambah dan merajai pasaran furniture di dunia.

Video Praktisi

Memaksimalkan Bisnis Berbasis Hobi, Asimetris Craft

Kami berbincang dengan salah seorang pengusaha mebel yang sudah memasarkan produknya mulai dari daratan Eropa hingga Amerika. Heru Purnomo laki-laki yang dilahirkan 40 tahun ini sudah menggeluti usaha mebel sejak tahun 2002.

Krisis Moneter 1998

Kami berhasil mewawancarai beliau untuk berbincang mengenai pengalamannya dalam mengarungi dunia usaha. Pria kurus berkaca mata ini awalnya hanya coba-coba untuk membangun usaha selepas menyelesaikan kuliahnya di teknik sipil UGM pada tahun 1998 di saat krisis moneter melanda negeri ini. Usaha yang pertama dia geluti adalah pemborong untuk pendirian rumah secara prsonal. Usaha ini ia jalankan mulai tahun 1999 hingga tahun 2004.

Disela-sela menjalankan usaha kontraktornya ini, Heru mencoba untuk berbisnis makanan jepang. Usahanya diawali dari kaki lima di jalan kaliurang dekat UGM. Dalam menjalankan usahanya ini dia mendatangkan koki dari jakarta. Usaha yang dirintisnya ini kemudian berkembang hingga ada salah seorang yang menawari untuk kerjasama. Akhirnya disepakati untuk mendirikan rumah makan di jalan jenderal Sudirman dengan nama Mia Sama.

Model kerjasama ini adalah profit sharing 75% untuk pengelola dan 25% untuk investor. Setelah berjalan beberapa tahun, di jogja mulai menjamur usaha-usaha serupa. Dengan tingkat kompetisi yang tinggi akhirnya perang harga sesama penjual tidak bisa dihindarkan. Pada tahun 2005 Heru akhirnya memutuskan untuk berhenti dan  menyerahkan usahanya ini kepada kokinya.

Untuk usaha furniture ini awalnya heru bekerjasama dengan kakaknya yang berprofesi sebagai desain interior pada tahun 2002. setelah menjalani beberapa tahun Heru merasa cocok dengan usahanya ini dibanding dengan usaha sebagai pemborong dan rumah makan jepang. Akhirnya tahun 2005 heru memutuskan untuk total berbisnis furniture dengan mendirikan perusahaan sendiri.

Giat mengikuti pameran

Titik berat pemasarannya difokuskan pada pasar ekspor, untuk itu Heru sering mengikuti pameran produk. Event yang ditunggu-tunggu adalah PPE (Pameran Produksi Ekspor). Acara ini diselenggarakan hanya setahun sekali di jakarta, sehingga Heru benar-benar memaksimalkan event ini. Walaupun untuk mengisi pameran ini heru harus membayar cukup besar.

Tiap meter stand yang dia sewa, Heru harus membayar 1,3 juta tiap meternya. Biasanya dia menghabiskan 20 juta per  4 hari untuk biaya sewanya. Selain rajin mengikuti pameran produk ia juga memasarkan lewat internet marketing. Untuk hal ini Heru bekerjasama dengan kakaknya dengan membuat website : www.bale-furniture.com.

Meminimalkan Resiko

Heru, yang awalnya hanya pedagang kaki lima sekarang ekspor ke mancanegara. Konsumen yang telah dilayani Heru tersebar di seluruh dunia antara lain Turki, Spanyol, Amerika, Itali, Australia, Prancis dan masih banyak lagi lainnya. Heru mengaku menyukai pembeli dari luar negeri karena pembayaran yang lancar. Biasanya mereka pesan barang dengan memberikan DP, barang jadi dikirim, dicek oleh buyer, barang sesuai pesanan pembayaran segera dilunasi.

Biasanya untuk pasaran ekspor ia hanya mengambil keuntungan sekitar 15% untuk buyer yang telah dikenal atau yang biasa berbelanja di Indonesia. Bagi buyer yang belum dikenal heru mengambil keuntungan 30% karena resiko lebih besar. Atau untuk meminimalkan resiko sistem pembayaran dengan menggunakan LC. Biasanya ada dua harga untuk kebutuhan ekspor yaitu harga gudang dan harga FOB.

Dengan adanya krisis global ini Heru mengaku untuk sekarang belum terasa, tetapi untuk mengatasinya ia mulai membidik pasar domestik. Belum lama ini ia mendapatkan order untuk desain interior hotel mustika ratu sheraton, dan shantika.

Kiat-kiat usaha dari Heru yang dia praktekkan untuk menghadapi persaingan di usaha furniture adalah :

  • Membuat atau mencari pangsa pasar terlebih dahulu sebelum melakukan produksi. Setelah mendapatkan pesanan kita bisa memulai dengan bekerjasama dengan suplier furniture. Untuk memastikan produk sesuai pesanan kita ikut mengawasi jalannya produksi di pihak pemasok. Setelah dirasa cukup baik modal dan pengalaman baru kita membuat produksi sendiri
  • Cari margin yang tinggi untuk mendapatkan keuntungan. Kita bisa menetapkan harga yang tinggi jika memperhatikan dan menjaga kuailitas produk maupun pelayanannya.

Heru sedikit mengkritisi kebijakan pengusaha meubel yang cenderung untuk menurunkan harga dengan tujuan yang penting barangnya laku. Dia menambahkan tidak harus menurunkan harga untuk mendapatkan pasar, yang penting karya kita inovatif.

Hak Paten

Pernah juga Heru bekerjasama dengan pengusaha Eropa untuk mematenkan desain produk miliknya. Dalam kerjasama ini Heru mendapatkan royalti dari setiap produk yang dipasarkan di Eropa yang menggunakan desainnya. Walaupun Heru mengakui cukup sulit untuk mendapatkan hak paten untuk desain.

Untuk memelihara hak paten ini biasanya dikenakan tarif  2 juta setiap tahunnya. “ agak sulit untuk mengklaim bahwa seseorang mengambil desain dari kita, karena diubah sedikit saja sudah beda walaupun coraknya sama” keluh Heru . “ walaupun kita punya patennya cukup sulit juga menuntut orang, kecuali benar-benar menjiplak secara persis” pungkas  Heru mengakhiri pembicaraan.

sumber gambar : http://www.detikfinance.com/images/content/2009/04/22/4/mebel-dalam.jpg