Batik Tulis Bermotif Bambu Menjadi Ikon Lokal Grobogan

Aneka Motif Batik GroboganSelain dikenal dengan sale pisang dan getuk lindrinya, Kabupaten Grobogan saat ini juga memiliki ikon produk lokal khas lain berupa batik tulis. Berbagai motif batik tulis diproduksi dengan nuansa yang berbeda dibandingkan batik tulis pada umumnya. Pada hari Kamis (26/4), tim liputan bisnisUKM berkesempatan mengunjungi salah satu kelompok UMKM yang bergerak di bidang pembuatan batik tulis khas Grobogan, yaitu Kelompok Usaha Bersama (KUB) Flamboyan. KUB Flamboyan menjadi salah satu kelompok yang selama setahun belakangan ini rutin memproduksi batik tulis beragam motif.

Latar belakang berdirinya KUB Flamboyan tidak terlepas dari peran aktif Ibu Nunung Wijayanti (34) yang saat ini menjadi ketua paguyuban. “Tahun 2010 atas fasilitas dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Grobogan, saya bersama 10 orang rekan mengikuti training dan studi banding pembuatan batik tulis di Jogja, Solo, dan Pekalongan, sekembalinya dari sana kami mengajarkan ilmu yang diperoleh kepada masyarakat sekitar,” jelas Ibu Nunung di rumahnya Desa Pulorejo Purwodadi. Sejak itulah, Ibu Nunung aktif memberikan pelatihan pembuatan batik tulis ke beberapa kelompok ibu-ibu di wilayah di Grobogan, terutama di lingkungan tempat tinggalnya.

BATIK TULIS BERMOTIF BAMBU MENJADI IKON LOKAL GROBOGAN

Respon positif dari masyarakat di sekitar lokasi tempat tinggalnya membuat ibu dua orang putra tersebut makin bersemangat untuk mengembangkan batik tulis menjadi sebuah industri. Oleh karena itu, sejak Desember 2010 Ibu Nunung dan rekan-rekannya sepakat membentuk KUB Flamboyan. “Butuh perjuangan memang untuk melatih dan meyakinkan mereka (ibu-ibu) untuk menekuni hal ini, namun lambat laun timbul kesadaran sendiri dari mereka bahwa batik tulis ini menjanjikan untuk membantu sektor perekonomian mereka,” imbuh Ibu Nunung.

Secara keseluruhan, motif tanaman/ tumbuhan menjadi produk utama batik tulis KUB Flamboyan. Kedelai, bambu, jati, dan jagung merupakan motif yang menjadi andalan dan ciri khas produk mereka. “Bahkan untuk motif bambu atau biasa disebut pring sedapur saat ini mulai diperkenalkan sebagai ikon produk lokal oleh Pemerintah Daerah Grobogan,” terang Ibu Nunung. Kondisi tersebut tidak lantas membuat Ibu Nunung berpuas diri, akan tetapi justru menjadi pemicu semangat baginya untuk senantiasa mempertahankan dan mengembangkan motif-motif  batik baru yang lebih unik.

Info Bisnis

Motif Pring SedapurUntuk bahan baku seperti kain batik, malam, canting, dan zat pewarna, Ibu Nunung membelinya dari Solo. Kain yang digunakan adalah kain prima/ primisima, sementara untuk pewarnanya menggunakan pewarna remasol. “Sebulan sekali saya rutin ‘kulakan’ bahan baku ke Solo, biasanya belinya saya lebihkan untuk mengantisipasi adanya lonjakan permintaan,” tambahnya. Saat ini, dengan harga Rp.100.000,00-Rp.150.000,00/ potong (200 cm x 115 cm), Ibu Nunung mengaku bisa menjual lebih dari 100 potong per bulannya. Hasil penjualannya dibagi menjadi 40% untuk UMKM, 10% untuk kas KUB, dan 50% untuk gaji.

Untuk proses produksi, Ibu Nunung tidak mengalami kesulitan karena masing-masing anggota KUB sudah paham dengan tanggung jawab sesuai dengan kemampuannya. “Runtutan proses produksinya seperti batik tulis kebanyakan, yaitu gambar sesuai dengan pola, dicanting, diwarnai, waterglass, direndam semalaman, nglorot, dijemur, setelah itu di setrika, dan terakhir finishing,” terangnya. Hasil produksinya kemudian dipasarkan melalui toko-toko, pameran, serta menggunakan media online.

Kunjungan tim bisnisUKM ke KUB FlamboyanSelain fokus dalam bidang produksi, KUB Flamboyan juga menerima paketan magang (training) bagi pihak-pihak yang tertarik ingin menekuni kreasi batik tulis. “Dengan biaya Rp.350.000,00/ paket, maka yang bersangkutan bisa mengikuti training selama satu minggu penuh,” tambahnya. Adanya training tersebut merupakan upaya bagi Ibu Nunung dan rekan-rekannya untuk lebih memperkenalkan dan mempopulerkan batik tulis sebagai salah satu ikon lokal khas Kabupaten Grobogan.

Di akhir wawancaranya, Ibu Nunung berharap bisa mempertahankan eksistensi KUB Flamboyan serta memiliki workshop sendiri. Untuk mewujudkan hal tersebut, KUB Flamboyan saat ini juga memberlakukan iuran wajib setiap bulannya untuk menambah modal ketika ada kebutuhan mendadak.

Tim liputan bisnisUKM