Inspirasi Bisnis

Bawa Suri ke Pontianak, Kurniawati Produksi Kain Tenun Sambas

Pengrajin tenun SambasBerawal dari kepindahan Kurniawati (37) di tahun 1999 dari Sambas ke Pontianak dengan membawa suri, yaitu alat untuk menenun kain songket Sambas. Ibu tiga anak ini kemudian aktif menenun kain khas Sambas tersebut dan mulai menjual hasil tenunnya ke Daerah Sambas. “Di Sambas, ada keluarganya yang  siap menampung dan menjual kembali kain tenun Sambas buatan saya,” ujarnya.

Selama 16 tahun menetap di Jalan Khatulistiwa Gang Sambas Jaya Kelurahan Batulayang, Pontianak Utara, selama itu pula Kurniawati memproduksi kerajinan kain tenun sambas. Namun sayangnya, ketekunannya merintis bisnis kerajinan ini tak sebanding dengan hasil yang didapatkannya. Sebab kain tenun Sambas kurang diminati konsumen Pontianak.

Baca Juga Artikel Ini :

 

Dengan Bantuan Internet Sukses Memberdayakan Perajin Tenun

Kerajinan Tenun Dari Desa Wisata Gamplong Sleman

Kurniawati membuat tenun Sambas“Kalau di Pontianak, saya jarang jual kain ini, karena sepi pembeli. Kadang ada tamu datang dari luar kota sampai tiga bis untuk melihat kain tenun bikinan saya, tapi tidak ada satu pun yang beli,” ujarnya.

Kurniati menceritakan, pernah suatu kali ia dikunjungi tamu Dari Islamic Development Bank, dari Malaysia, dan Jakarta, tapi mereka hanya melihat-lihat saja dan tidak membeli. Ia juga menceritakan ada pembeli yang sudah memesan kain, dan taplak meja dengan warna dan ukuran tertentu, tapi setelah pesanannya jadi tidak diambil sampai sekarang.

Tambahkan Varian Produk Untuk Menarik Konsumen

Suri alat pembuat tenun SambasSelain menjual produk utama berupa kerajinan kain tenun (Songket) Sambas, Kurniawati juga menjual Kain Cual, Sajadah, Syal, Kopiah, Sarung Bantal yang semua bahannya dari Kain Tenun Sambas. Selain itu, ia juga menjual Kain Corak Insang khas Melayu Pontianak.

“Kain Cual bahannya lebih halus dari Kain Tenun Sambas. Cocok dibikin baju,” kata Kurniati.

Untuk kisaran harga, saat ini ia mematok mulai dari Rp 800.000 untuk ukuran 1,20 meter hingga Rp 1.800.000 untuk satu set Kain Sambas lengkap dengan selendang. Selanjutnya untuk kain sarung buat pria, harganya Rp 500.000 tanpa selendang. Sedang Kain Corak Insang ukuran 1,20 meter dijual mulai dari Rp 400.000 dan Kain Cual seharga Rp 500.000 untuk ukuran yang sama. Seluruh kain buatannya terbuat dari benang emas, benang tersebut ia beli di agen dan untuk benang dengan pewarnaan alami selama ini ia bikin sendiri.Proses pewarnaan tenun secara alami

Dengan omzet sekitar Rp 3 juta setiap bulan, Kurniati mempunyai 6 orang karyawan yang semuanya merupakan warga sekitar tempat tinggalnya. Namun, saat ditemui tim liputan BisnisUKM.com, Kurniati mengatakan bahwa karyawannya ada yang masih berstatus pelajar dan saat itu belum pulang sekolah.“Sisanya lagi demam jadi ijin tidak masuk hari ini,” ujarnya.

Untuk bisa terus produksi kain tenun khas Sambas, Kurniati juga membuat sendiri sembilan alat suri untuk memintal benang emas. Ia juga bergabung dalam Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Mekar Sari di mana KSM-nya pernah mendapat penghargaan dari Kementerian Koperasi dan UKM pada 14 April 2015 silam sebagai salah satu UKM 500 WOW!

BINGUNG CARI IDE BISNIS ?

Dapatkan Ratusan Ide Bisnis Dilengkapi Dengan Analisa Usaha.

Klik Disini

Ditanya soal target ke depan, ia menjawab ingin membuka workshop di tanah kosong dekat rumahnya. Ia juga ingin menjadikan Gang Sambas Jaya sebagai kampung para penenun, seperti Desa Semberang di Kabupaten Sambas yang tersohor sebagai desa penenun.

“Selain itu juga, tentu saya ingin memasang spanduk di depan rumah saya agar pengunjung tidak tersesat lagi kalau ke mari,” katanya.

Tim Liputan BisnisUKM

(/Vivi)

Kontributor Daerah