Ketika Anda berkunjung ke suatu daerah, belum lengkap rasanya apabila tidak membawa buah tangan (oleh-oleh) yang khas dari daerah tersebut. Bahkan bagi sebagian orang, membawa oleh-oleh merupakan budaya wajib untuk dipersembahkan kepada keluarga, kerabat, maupun lingkungan sekitar. Belakangan, budaya masyarakat yang demikian banyak ‘dimanfaatkan’ berbagai pihak untuk dijadikan sebuah peluang bisnis, dalam bentuk toko oleh-oleh. Awalnya, keberadaan toko oleh-oleh sangat erat kaitanya dengan wilayah yang dikenal sebagai tujuan wisata, seperti Bali, Yogyakarta, Semarang, Solo, dll. Namun, saat ini hampir di seluruh wilayah tanah air memiliki sentra toko oleh-oleh yang melayani para pelancong lokal maupun asing.

Salah satu daerah yang mulai menggeliat dengan bisnis toko oleh-oleh semacam itu adalah Purwodadi Jawa Tengah. Sebagai ibu kota Kabupaten Grobogan, Purwodadi kini mulai banyak ‘ditumbuhi’ toko oleh-oleh yang menjual beragam produk khas, terutama produk kuliner. Tim liputan bisnisUKM yang pekan lalu mengunjungi Purwodadi (9/3), berkesempatan mengunjungi salah satu toko oleh-oleh yang dikenal paling lengkap di kota tersebut, yaitu Toko Oleh-Oleh Dewi. Aneka jenis jajajan pasar seperti getuk lindri, tahu petis, sale pisang, kue dan roti basah, kue lapis, lemper, dan lain-lain, seolah memberikan sambutan kepada setiap pengunjung saat pertama masuk ke dalam toko tersebut.

Berdiri sejak 20 tahun yang lalu, Toko Dewi saat ini dikelola langsung oleh Ibu Maria Magdalena (45). “Sebenarnya usaha ini awalnya yang merintis adalah kakak saya sekitar tahun 1978, namun setelah kakak meninggal dunia tahun 1998, tongkat estafet pengelolaan toko ini kami yang meneruskannya,” jelas Ibu Lena. Tahu petis dan getuk lindri menjadi produk khas yang menjadi cikal bakal berdirinya Toko Oleh-Oleh Dewi. Namun, seiring berjalannya waktu, toko yang berada di ruas jalan utama Purwodadi Grobogan tersebut, kini menjual puluhan hingga ratusan jenis makanan yang cocok dijadikan sebagai buah tangan.

Dalam sehari, Ibu Lena yang dibantu puluhan tenaga produksinya, memproduksi aneka jenis jajanan pasar, baik yang dijajakan langsung, maupun untuk melayani pesanan. Di dapur produksi yang terletak di belakang toko, para karyawan yang didominasi ibu-ibu, sangat antusias mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. “Kurang lebih jam lima pagi kami sudah mulai beraktivitas, dan itu rutin kami lakukan untuk mempersiapkan segalanya, tentunya demi kepuasan pelanggan,” jelas Ibu Lena.

Info Produk

Getuk lindri menjadi salah satu produk andalan Toko Dewi yang ‘gaung’nya sudah tersebar ke seluruh tanah air. Makanan berbahan baku singkong tersebut, bahkan beberapa kali menghiasai layar televisi swasta dan menjadi kuliner khas Purwodadi. Tim liputan bisnisUKM berkesempatan melihat langsung proses produksi getuk lindri kreasi Toko Dewi. “Cara membuatnya diawali dengan memotong ketela pohon yang sudah dibersihkan dari kulitnya, cuci bersih lalu kukus hingga matang, setelah matang (masih dalam kondisi panas), ketela tersebut digiling sampai halus, baru kemudian bisa dicampur dengan bahan baku lain,” terang Ibu Lena.

Dengan Rp.6.000,00/ paket, para pengunjung bisa menikmati legitnya 10 potong getuk lindri yang menggoda selera. Sementara untuk produk jajanan pasar lainnya, harganya juga sangat terjangkau, yaitu Rp.2.000,00-Rp.10.000,00/ pcs. Untuk mengatasi kejenuhan pasar yang sangat mungkin terjadi, Toko Dewi selama ini senantiasa mengembangkan produk olahannya. “Banyak pengembangan produk yang berhasil kami kreasi, diantaranya tiwul modifikasi, wedang ronde, olahan jagung, dan lain-lain, tentunya sambil jalan, kami juga akan terus membuat inovasi-inovasi lainnya,” jelasnya.

Variasi dan inovasi produk yang dikembangkan Toko Dewi ‘memancing’ beberapa pihak untuk menjalin kerjasama dengan mereka. “Ada produsen tepung terigu ternama yang menjalin kerjasama dengan kami sejak tahun 2000, hal itu tentunya sangat membantu dalam hal penyediaan bahan baku, selain itu ada juga hotel di sini yang juga menjalin kerjasamanya dengan kami,” imbuhnya.

Dalam kesehariannya, Ibu Lena yang dibantu Bapak Budi Suseno (50) juga mengandalkan dunia maya sebagai media promosinya. Untuk hal itu, Ibu Lena menyerahkan sepenuhnya kepada putranya yang kebetulan menekuni dunia online. Sementara itu, ketika ditanya mengenai rencana kemungkinan naiknya harga bahan baku minyak (BBM) dalam waktu dekat, Ibu Lena berujar jika pihaknya tidak akan menaikkan harga jual produknya. Namun, kemungkinan besar langkah yang akan Ibu Lena lakukan adalah menyesuaikan bentuk dan ukuran setiap produk olahannya. Maju terus UKM Indonesia!

Tim liputan bisnisUKM