Benahi Dulu Produk Baru Bicara Ekspor

/ / Berita UKM /

benahi-dulu-produk-baru-bicara-ekspor

Kaltim punya begitu banyak produk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang sejatinya layak untuk ekspor ke luar negeri. Namun, nyatanya banyak produk yang belum standar nasional Indonesia (SNI), dan International Organization for Standardization (ISO). Juga, biaya angkut yang masih mahal untuk menuju negara tujuan. Sebab terlebih dahulu harus mampir di pelabuhan Surabaya atau Jakarta sebelum keluar negeri.

Pengamat Ekonomi Kaltim Aji Sofyan Effendi mengatakan, UMKM memiliki alasan hingga saat ini belum bisa mengekspor keluar yakni biaya masih sangat tinggi. Mulai dari bahan baku dan upah tenaga kerja yang sulit dibayar, apabila membuat produk skala pabrik. “Logistik atau pengangkutan masih mahal. Belum lagi biaya kargo dan biaya lain di pelabuhan, itu juga masih sangat tinggi,” ujarnya seperti dikutip dari Kaltim Post Minggu (25/12).

Padahal, menurut Aji, biaya angkut peti kemas dari Balikpapan ke Shanghai lebih murah, dibandingkan biaya angkut Balikpapan ke Surabaya lalu ke negara tujuan. Tapi hal itu mesti ditempuh sebab pelabuhan di Kaltim belum berstatus direct call. Jadi mesti transit ke pelabuhan yang diperbolehkan langsung ekspor. Rute produk UMKM Kaltim sekarang, dari Balikpapan, menuju Tanjung Perak Surabaya lalu ke negara tujuan. “Selain itu, faktor penyebabnya Balikpapan tidak langsung ke luar negeri karena kontainer dari Kaltim ke luar negeri minim produk yang layak ekspor,” ujarnya.

Aji mengatakan, satu kontainer penuh sekitar Rp 1,2 juta biaya Surabaya lalu ke Tiongkok Shanghai. Jauh lebih murah dibandingkan biaya pengiriman dari Balikpapan ke Surabaya yang mencapai Rp 3 -5 juta. “Itu dikarenakan adanya kontainer kosong, ketika perusahaan pelayaran mengirimkan penuh barang dari Surabaya, namun ketika pulang kembali ke Surabaya barang kosong dari Balikpapan. Tak ada pendapatan tambahan yang didapatkan perusahaan petikemas,” ujarnya.

Jadi masalahnya tambahnya, bukan sekadar direct call atau indirect call yang membuat cost logistic tinggi. Masalahnya adalah, bagaimana meningkatkan kapasitas dan kontinuitas UMKM agar barang siap ekspor dari Kaltim semakin banyak kuantitasnya sehingga semuanya mendapatkan manfaat dari perdagangan internasional. “Ide direct call bagus, tapi persoalannya adakah pada komoditas kita apa yang bisa diekspor yang bisa memenuhi satu kontainer peti kemas,” ujarnya.

Menurutnya, padahal banyak peluang pasar UMKM Kaltim di luar negeri. Seperti, Tiongkok sangat potensial untuk UMKM Kaltim dalam penjualan minyak, kacang-kacangan, dan cokelat. Macao, Malaysia, Thailand, dan Turki, sangat potensial untuk menjual produk roti, dan produk teh. Negara-negara di Asean dan Eropa, sangat memerlukan obat-obatan herbal Kaltim, produk kerajinan seperti ukiran Dayak, bahan kulit dan lainnya.

“Tapi karakteristik UMKM kita ini, kebanyakan sertifikasi belum ada yang SNI. Belum ada yang berstandar ISO untuk sistem manajemen proses pangan. Ini juga menjadikan belum bisa, maksimalnya UMKM Kaltim,” ucap dosen Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan di Universitas Mulawarman itu.

Aji mengatakan, cara manajemen bisnis UMKM Kaltim belum sesuai standar. Umumnya, dikelola secara internal berbasis kekeluargaan atau perusahaan keluarga atau rumah tangga. Belum adanya visi dan misi jangka panjang perusahaan. Belum adanya rencana aksi yang jelas, dan belum adanya target pencapaian. “Apapun prospek bisnis di Kaltim yang ada, tidak bisa tercapai ketika produknya belum berstandar SNI dan ISO,” ujarnya.