Menumbuhkan jiwa kreatifitas dari dalam diri memang membutuhkan waktu dan latihan. Karena kreatifitas yang didapatkan secara instant kadang tidak akan bisa bertahan dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat. Prinsip tersebut yang selama ini diterapkan oleh Lisa (34) dalam menggeluti bisnis aneka souvenir dari flanel dan gerabah. Ditemui di rumahnya Piyungan Bantul (23/2), Lisa mengaku sudah menekuni dunia bisnis sejak masih di bangku kuliah di universitas negeri ternama di Yogyakarta. Meskipun hanya diawali dari bisnis kecil-kecilan, namun seiring berjalannya waktu usaha tersebut kini menjadi salah satu tulang punggung keluarganya.

Tahun 2000 menjadi langkah awal Lisa menggeluti dunia bisnis. Waktu itu, souvenir yang berbahan gerabah menjadi produk andalannya untuk dipasarkan. Produk-produk gerabah seperti Pen holder, asbak, tempat sabun, tempat lilin, celengan, dan gelas mini menjadi komoditi jualannya hingga tetap bertahan sampai saat ini. Sempat merasakan juga sebagai bekerja di salah satu perusahaan bonafit yang ada di Yogyakarta, Lisa akhirnya memutuskan untuk menggeluti dunia flanel saat resign dari tempat kerjanya Desember 2009.

Awal tahun 2010, berawal dari rasa penasaran akan uniknya kerajinan dari kain flanel, akhirnya Lisa mencoba mencari beragam referensi yang berkaitan dengan kain flanel. “Saya penasaran karena sering melihat beberapa souvenir dari flanel, terlebih ketika membaca bukunya saya baru tahu kalau flanel bisa dibuat berbagai souvenir cantik dan menarik”, kata Lisa ditemani putra kecilnya. Dari referensi tersebut, Lisa yang kini mengusung Cira Craft sebagai nama usahanya mencoba sendiri memproduksi souvenir flanel aneka jenis. Souvenir seperti gantungan kunci, tempelan kulkas, dompet, hingga kotak tissue berhasil  dikreasi hingga layak untuk dipasarkan.

Meskipun di tiga bulan pertama sempat mengalami sepi order, namun Lisa tidak patah arang. Terbukti beberapa waktu kemudian datang pesanan dalam jumlah banyak dari Papua. “Orderan pertama dari Papua tersebut berjumlah kira-kira 3 kodi souvenir pernikahan”, penjelasan Ibu asli Jakarta tersebut. Dari situlah, kemudian Lisa tidak ragu menekuni dunia flanel ini hingga bekerjasama dengan beberapa ibu-ibu muda yang ada di sekitar kediamannya untuk membantu memproduksi. “Ibu-ibu tersebut sebenarnya sudah dulu ‘bermain’ di flanel, sehingga saya tidak meragukan kapasitas dan kemampuannya”, terangnya sambil menunjuk dua orang ibu-ibu muda yang selama ini membantu produksinya.

Datangnya berbagai orderan dari daerah tidak terlepas dari proses pemasaran Cira Craft yang menggunakan media online. Blog, jejaring sosial, hingga rutin update di berbagai portal iklan gratis dilakoni Lisa demi memasarkan aneka produknya. Bahkan saking banyaknya portal iklan gratis yang diikutinya, sampai-sampai pernah ada candaan dari rekannya kalau Cira Craft tersebut nongol di mana-mana. “Saat ini, karena keterbatasan yang masih kami miliki, media online menjadi solusi yang sangat efektif sebagai media pemasaran”, imbuh Lisa yang mengenalkan Cira Craft sebagai nama blog produknya. Selain online, Cira Craft juga rutin memasok produk untuk ‘dititipkan’di beberapa swalayan yang ada di Jogja dan Solo.

Dari berbagai produk flanel yang diproduksi, respon/ minat paling tinggi adalah kotak tissue. Kotak tissue yang biasa ternyata bisa berubah menjadi produk yang unik dan cantik ketika mendapat sentuhan asesoris/ sarung dari kain flanel. Gantungan kunci aneka jenis dan bentuk juga menjadi salah satu produk paling laris di Cira Craft. Bentuk lucu seperti kodok, ubur-ubur, ikan, kucing, lebah, dll bisa diproduksi hingga 500 buah dalam setiap minggunya. Sementara untuk kotak tissue berkisar 3-4 buah per minggunya. Harga yang ditawarkan Cira Craft untuk setiap produk flanelnya juga cukup terjangkau. Menurut Lisa, “Untuk yang paling murah itu gantungan kunci yang harganya Rp. 1.000,- sementara untuk kotak tissue kami hargai Rp. 40.000,- sesuai dengan desainnya”.

Tahun lalu Lisa mengaku juga pernah mendapat orderan dari orang asing yang tinggal di Bali untuk dibawa ke Moskow Rusia. Saat itu, 4.000-5.000 buah souvenir harus dipenuhi Lisa dan dua orang rekannya untuk pesanan tersebut. Dan menurutnya, orderan itulah yang sampai saat ini menjadi orderan paling banyak yang pernah dia dapatkan. Di akhir wawancaranya, Lisa mengaku meskipun sudah menggunakan media online, namun proses pemasaran masih menjadi kendala utamanya dalam mengembangkan usahanya. Sambil berharap ada mitra baik dari pemerintah maupun swasta, Lisa juga memiliki harapan mulia untuk membangun toko yang nantinya akan diisi dengan produsen ‘kecil’ seperti dirinya agar bisa memasarkan produk secara bersama-sama. Sungguh sebuah harapan mulia yang semoga bisa secepatnya terwujudkan.

Tim liputan bisnisUKM