Takmir Masjid Mutohirin Jalan Sorogenen, Nitikan Yogyakarta kembali menggelar Pasar Sore Jalur Gaza (Jajanan Lauk, Sayur, Gubug Ashar Zerba Ada). Pasar sore yang diselenggarakan untuk ketiga kalinya ini digelar setiap bulan Ramadhan selama sebulan penuh. Sebanyak 98 peserta (pedagang) ikut serta menempati stand gubug dari bambu di sepanjang Jalan Sorogenen. Beragam menu jajanan tradisional khas Bulan Ramadhan bisa didapatkan di pasar sore tersebut dengan harga yang cukup terjangkau. Selain menu makanan, Pasar Sore Jalur Gaza juga diikuti pedagang yang menjual pakaian, souvenir, dan kerajinan khas Nitikan. Hal itulah yang membuat pasar sore tersebut makin menarik untuk dikunjungi.

Tim liputan bisnisUKM berkesempatan mengunjungi lokasi Pasar Sore Jalur Gaza Kamis (11/8), dan melihat banyak sekali makanan tradisional yang bisa dibeli sebagai menu kudapan berbuka puasa. Aneka hidangan seperti es kelapa muda, otak-otak bandeng, coro, kicak, kipo, gorengan, kolak, sup buah, sate, dan beragam jajanan pasar lainnya, dijual dari mulai harga Rp.500,00-Rp.13.000,00/ buah. Kebanyakan pedagang membuat sendiri aneka makanan tersebut, namun tidak sedikit pula yang menerima titipan dari produsen makanan lainnya.

Dari keseluruhan pedagang yang berjualan di Pasar Sore Jalur Gaza, 32 diantaranya berasal dari kawasan Nitikan Yogyakarta. Salah seorang diantaranya adalah Ibu Inung (30), yang sudah berjualan di pasar sore tersebut sejak pertama kali digelar tahun 2009. Menjual aneka sayuran, makanan, lauk-pauk, dan jajanan pasar, Ibu Inung berujar jika tahun lalu dirinya bisa memperoleh keuntungan bersih Rp.800.000-Rp.1.000.000,00 selama sebulan. ”Rata-rata dagangan saya habis setiap harinya, terlebih disini saya juga memiliki para pelanggan tetap,” ujar Ibu Inung. Sementara jika ada makanan yang tidak habis, warga asli Nitikan tersebut akan memberikannya ke masjid.

Menurut keterangan panitia kepada media, penyelenggaraan Pasar Sore Jalur Gaza pada tahun pertama bisa memperoleh omzet sekitar Rp. 83 juta. Sementara pada tahun lalu, omzet yang diraih bisa naik hingga tiga kali lipat menjadi Rp. 230 juta. “Untuk tahun ini kami menargetkan bisa meraih lebih dari tahun lalu. Yang jelas, kami terus mencoba meningkatkan antusiasme dan potensi warga setempat, dengan melibatkan mereka melalui event-event semacam ini,” ujar ketua panitia Fachruddin. Tingkat apresiasi yang tinggi dari warga tersebut membuat pihak panitia makin bersemangat untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan event dari tahun ke tahun.

Selain diisi dengan pasar makanan dan aneka produk lainnya, Pasar Sore Jalur Gaza juga memiliki banyak kegiatan bernuansa Islami lainnya. Kegiatan-kegiatan tersebut dikemas dalam berbagai bentuk acara seperti pengajian, buka bersama, sahur bersama, tarawih, bedah buku, dll yang dilaksanakan di Masjid Mutohirin. Kegiatan tersebut bersifat umum dan bisa diikuti seluruh lapisan masyarakat, baik dari warga Nitikan sendiri maupun dari warga luar.

Hadirnya Pasar Sore Jalur Gaza semakin melengkapi adanya pasar sore Ramadhan di Yogyakarta. Sebelumnya, kita mengenal Pasar Sore Ramadhan Kauman, Kampoeng Ramadhan Jogokariyan, Pasar Sore Ramadhan Lembah UGM, dll yang telah lebih dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat. Sehingga, dengan makin banyaknya titik-titik pasar Ramadhan yang tersebar di beberapa lokasi itu, diharapkan tingkat perekonomian warga akan semakin meningkat selama bulan Ramadhan. Jadi, bagi Anda yang ingin menikmati beragam jajanan tradisional untuk menu berbuka puasa dengan harga yang terjangkau, silakan mengunjungi Pasar Sore Jalur Gaza.

Tim liputan bisnisUKM