budidaya kroto toplesAnda pernah mendengar istilah “Kroto“? Kroto adalah nama yang diberikan oleh orang Jawa untuk campuran larva dan pupa semut penganyam Asia (terutama Oecophylla smaragdina). Campuran ini terkenal di kalangan pencinta burung dan nelayan di Indonesia, karena larva semut populer sebagai umpan ikan, dan juga sebagai makanan tambahan untuk meningkatkan ketrampilan burung-burung pedendang (berkicau). Para penggemar burung memberikan kroto yang kaya protein dan vitamin untuk mendapatkan kicauan burung yang merdu serta untuk menyiapkan stamina burung-burungnya sebelum mengikuti lomba burung pedendang.

Mengingat besarnya permintaan konsumen terhadap produk kroto, wajar adanya bila sekarang ini larva semut ini memiliki nilai jual yang cukup tinggi di pasaran. Bahkan seiring dengan meningkatnya permintaan pasar, sekarang ini ketersediaan kroto di pasaran cukup terbatas, sehingga tak jarang para pecinta burung cukup kesulitan untuk mencari kroto.

Melihat kondisi tersebut, tim bisnisukm tertarik menyambangi salah satu penggiat komunitas kroto yang cukup terkenal di Desa Sukolilo, untuk melihat lebih dekat bagaimana proses budidaya kroto menggunakan toples.

Terletak sekitar 35 km ke arah Utara dari Kabupaten Grobogan, rasanya tak terlalu sulit untuk menjangkau lokasi komunitas kroto di Desa Sukolilo ini. Hawa sejuk khas perbukitan yang masih terasa serta melimpahnya potensi kekayaan alam di sekitarnya, tak ayal membuat masyarakat di sekitar hutan tersebut mengambil kekayaan alam khususnya ‘Kroto’ sebagai mata pencaharian mereka setiap harinya. Atas latar belakang itulah, Triyono (31) tergerak untuk mengawali komunitas kroto di Desanya agar tingkat kebutuhan kroto di berbagai daerah dapat dipenuhi secara kontinyu.

budidaya krotoBila dibandingkan harus selalu ke hutan mencari sarang-sarang semut rangkang atau semut Kroto ini, Triyono memilih membudidayakannya karena dirasa lebih efektif dan menguntungkan. “Bila ke hutan mencari sarang semut tentunya akan jauh lebih sulit karena beberapa faktor, pertama jarak yang cukup jauh untuk mencari, kedua sarang semut akan berpindah-pindah bila sudah dipanen karena merasa terganggu habitatnya, ketiga terkendala faktor cuaca bila musim penghujan tiba, keempat tidak semua orang dapat melakukannya karena harus membawa peralatan seperti bambu sebagai ‘sengget‘ atau alat pengambil kroto di pohon dan besek plastik atau dari anyaman untuk wadah kroto setelah dipanen dari pohon, kelima susah untuk memenuhi kebutuhan pasar yang cukup tinggi, dan keenam cukup berbahaya,” jelasnya ketika ditemui tim bisnisukm pada Rabu (15/5) silam.

Resiko itulah yang kemudian mendorong Tri (panggilan akrab Triyono) bersama teman-teman yang juga tertarik dengan bisnis kroto ini untuk mulai mempelajari bagaimana caranya menangkar atau membudidayakan semut rangrang penghasil kroto. Mengawali bisnis budidaya semut penghasil kroto sejak tahun 2005 yang lalu, komunitas kroto yang digawangi Triyono ini telah dapat menjawab kesulitan-kesulitan dan kendala para pelaku bisnis serupa ketika harus mencari kroto di alam bebas.

“Dengan penangkaran semut rangrang penghasil kroto ini, saya dan teman-teman tidak harus jauh-jauh mencari kroto ke hutan, pemenuhan kebutuhan pasar juga bisa tetap stabil dan sekaligus menjadi wahana pelatihan bagi rekan-rekan yang tertarik di bidang bisnis kroto ini,” ungkap Tri. Disamping itu, bibit semut rangrang dan telurnya atau krotonya juga memilikii nilai ekonomi yang cukup tinggi sehingga bisa memberikan keuntungan besar bagi para pelakunya dan menjaga kelestarian hutan serta habitat semut tersebut karena tidak merusak pohon sebagai sarang asli di alam/hutan.

pengusaha krotoKandungan vitamin dan protein yang terdapat pada kroto, ternyata tak hanya bisa dimanfaatkan sebagai makanan utama pada burung berkicau namun juga dapat digunakan sebagai bahan kosmetik dan jamu karena beberapa kandungan yang ada di dalamnya cukup bermanfaat bagi kesehatan dan industri kecantikan. “Meskipun keuntungan yang dijanjikan cukup besar, namun peluang bisnis ini tidak membutuhkan modal usaha yang terlalu besar,” imbuh bapak satu putri tersebut.

Sebagai contoh saja, untuk tahap awal pemula hanya membutuhkan 100 hingga 300 toples bibit sarang semut rangrang ini dengan kisaran harga per toples sekitar Rp 65.000,00. Jadi dengan asumsi 100 toples saja hanya mengelurkan modal Rp 6.500.000,00 ditambah dengan tambahan alat-alat lain diperkirakan total modal yang dibutuhkan sekitar Rp 8.500.000,00. Cukup terjangkau karena investasi di awal bisa untuk waktu yang cukup lama dan BEP yang relatif singkat saja. Sedangkan untuk kebutuhan operasional seperti misalnya pakan, ternyata hanya 10% dari total keuntungan. Sangat-sangat efisien jika dibandikan dengan bisnis budidaya hewan lainnya.

Untuk analisa perhitungan keuntungan adalah per 10 toples mampu menghasilkan 5 ons kroto, dengan asumsi per ons Rp 25.000,00 sampai Rp 30.000,00. Jadi untuk per kg bisa mencapai kisaran harga hingga Rp 250.000,00, dengan asumsi 100 toples menghasilkan 5 kg kroto siap jual maka Anda bisa meraup total omzet sebesar Rp 1.250.000,00 setiap kali panen. “Biasanya panen kroto dilakukan per 3 bulan, ini  dilakukan agar koloni semut tersebut nyaman karena dengan merasa nyaman mereka akan menghasilkan kroto yang bagus dan banyak,” ujarnya sembari menutup perjumpaan kami siang itu.

Artikel Ditulis Oleh :

Tim Liputan BisnisUKM
Kantor Cabang Jawa Tengah