produk bambu awetan
produk bambu awetan

Selain tanaman rotan, bambu merupakan salah satu jenis tumbuhan yang banyak dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan baku kerajinan. Tak hanya dikreasikan menjadi aneka jenis produk kerajinan, sekarang ini tanaman bambu juga banyak dijadikan sebagai bahan bangunan atau material yang sifatnya sementara. Kondisi inilah yang menginspirasi Indra Setia Darma (34) untuk meraup untung puluhan juta rupiah dengan mengubah bahan baku bambu yang awalnya bersifat sementara menjadi bahan bangunan atau material permanen yang bisa bertahan dalam kurun waktu yang cukup lama.

Ditemui tim BisnisUKM Senin (7/1) di lokasi workshopnya yang terletak di Kalasan Sleman, lelaki jangkung yang akrab dipanggil Indra ini menuturkan bahwa bisnis pengawetan bambu tersebut telah berdiri sejak tahun 2007 silam. Mengangkat “Sahabat Bambu” sebagai nama usahanya, selama ini Indra bertanggungjawab sebagai pengelola usaha sedangkan direktur Sahabat Bambu sendiri adalah Lukman Hakim yang sekarang ini berdomisili di Kota Pekanbaru. “Sahabat bambu sendiri merupakan sebuah bisnis yang bergerak khusus di bidang pengawetan bambu dan konstruksi,” tutur Indra kepada tim bisnisUKM.

Ketika ditanya mengenai latar belakang usahanya, Indra menjawab bila Ia bersama rekan-rekannya tertarik menekuni bisnis bambu karena Ia melihat ketersediaan bahan baku bambu yang sangat luar biasa di Indonesia dan belum dikelola secara maksimal sehingga Ia tertarik untuk mencoba mengelolanya. “Titik balik Sahabat Bambu itu sendiri adalah ketika pasca bencana gempa Jogja sekitar tahun 2006 silam, kami melihat banyak bambu yang dijadikan sebagai bahan baku bangunan atau selter namun sifatnya hanya sementara sekitar 3-6 bulan dan itu menjadi poin kita kenapa tidak bambu tersebut kita jadikan sebagai bahan bangunan yang sifatnya permanen atau bisa bertahan cukup lama,” ungkap Indra dengan penuh keyakinan. Dari sinilah Indra dan Lukman mulai merintis bisnis pengawetan dan konstruksi bambu yang bersifat permanen bahkan bisa bertahan hingga puluhan tahun.

Info Produk Sahabat Bambu

sahabat bambu kalasan
sahabat bambu kalasan

Untuk proses pengawetan bambu, Indra menggunakan Borates untuk menjaga batang bambu dari gangguan kumbang bubuk. Biasanya bambu yang digunakan adalah jenis bambu apus, bambu wulung, bambu petung, dan bambu tutul. “Selain fokus melayani pengawetan bambu, kita  juga melayani pembuatan konstruksi bambu, mulai dari segi desain sampai pembangunan konstruksinya, kita juga melayani pelatihan keterampilan bambu, dari mulai budidaya, pengawetan, sampai konstruksi,” ujar Sarjana Kehutanan tersebut.

Beberapa konstruksi bambu yang sering dikerjakan Indra antara lain membuat sebuah gazebo, rumah, jembatan, pagar dan panel, lantai bambu, dan sebagainya. Sedangkan untuk program pelatihan yang dijalankan Sahabat Bambu sendiri, sekarang ini tidak hanya menjangkau pasar nasional namun juga berhasil merambah pasar luar negeri seperti misalnya Malaysia, Filipina, dan Thailand. Begitu juga dengan produk bambu awet yang Ia produksi, sekarang ini pasarnya mulai meluas hingga ke Maladewa, Malaysia, Australia, serta beberapa negara tetangga.

Jika dibandingkan dengan batang bambu pada umumnya, tentu produk unggulan Sahabat Bambu ini lebih unggul. “Bambu kami jauh lebih tahan lama dibandingkan bambu yang tidak diawetkan, bila yang tidak diawetkan hanya bisa bertahan 1-2 tahun, maka bambu yang diawetkan bisa bertahan hingga puluhan tahun,” terang Indra yang sebelumnya bekerja sebagai salah satu tenaga kerja di sebuah LSM.

pengusaha bambu
pengusaha bambu

Selama ini bahan baku bambu Indra datangkan dari beberapa daerah di sekitarnya, seperti misalnya dari Kecamatan Cangkringan, Daerah Wonosobo, Purworejo, Tasikmalaya, dan lain-lain. Dibantu oleh enam orang karyawannya, sekarang ini Sahabat Bambu bisa memproduksi kurang lebih 3.000 batang bambu setiap bulannya. Untuk penjualan Ia menawarkan kisaran harga yang beragam, mulai dari Rp 24.000,00/ batang untuk jenis bambu apus, Rp 27.000,00/ batang untuk bambu wulung, serta Rp 100.000,00-Rp 120.000,00 untuk jenis bambu petung.

Dengan memanfaatkan strategi pemasaran yang 90% menggunakan media online dan 10% sisanya melalui jaringan yang Ia miliki, Indra berharap kedepannya bisnis bambu tersebut bisa berkembang lebih besar mengingat belakangan ini bambu menjadi material yang cukup prospektif. “Apalagi di Indonesia sumber dayanya yang cukup banyak, apresiasi dari pemerintah dan komunitas bambu di Indonesia juga cukup bagus sehingga kedepannya diharapkan bambu bisa menjadi salah satu bahan unggulan bagi negara kita agar bisa dikenal lebih luas,” jelas Indra mengakhiri pertemuan siang itu.

Tim Liputan bisnisUKM