Dari Hobi Menempel Tisu, Ria Hasilkan Uang Dari Kerajinan Decoupage

Dilisna Riatri dari hobi tempel tisu jadi peluang usaha

Dilisna Riatri, dari hobi tempel tisu yang Ia dapatkan dari sang mama, kini wanita yang akbrap disapa Ria ini menekuni hobinya jadi usaha kerajinan decoupage.

Yogyakarta – Setiap orang mendengar kata tisu yang terlontar pastilah berfungsi untuk membersihkan. Tapi, kali ini tisu digunakan untuk membuat kerajinan dan sebagai penambah keindahan pada suatu media tas dan produk fashion lainnya. Lantas bagaimanakah fungsi tisu tersebut untuk menghias tas, furniture atau talenan?

Seni menghias dengan teknik menempel tisu bergambar ke obyek tertentu itu dikenal dengan istilah Decoupage. Berasal dari bahasa Prancis, sebenarnya Decoupage artinya memotong, teknik itu telah populer di mancanegara terutama di Eropa. Tisu yang digunakan memang berbeda dengan tisu kebanyakan yang sering kita temukan. Tisu ini biasa dikenal dengan nama servietten.

Awalnya Coba-coba Bisa Jadi Peluang Usaha

Kreasi cantik dari seni kerajinan decoupage

Kreasi cantik dari seni kerajinan Decoupage buatan Ria sudah merambah pasar luar kota.

Saat ini di Indonesia kerajinan decoupage mulai digemari para ibu rumah tangga maupun anak muda. Tak terkecuali Ria, ibu satu putra itu tertarik mencoba kerajinan decoupage setelah melihat sang mama yang gemar membuat kerajinan tersebut. Dari hobi ibu dan anak itulah, koleksi tas dengan ragam hiasan yang mereka hasilkan menjadi semakin banyak.

”Dari hobi iseng isi waktu luang ikutan Mama buat decoupage. Terus keasikan, tasnya makin banyak. Ada temen mama datang ke rumah lihat koleksi suka dan beli. Terus dari situ terpikir untuk dibisniskan saja,” ungkap Ria.

Wanita pemilik nama lengkap Dilisna Riatri ini menekuni usahanya sejak 6 bulan lalu dengan berjualan offline di rumahnya di Griya Perwita Asri, Condong Catur, Depok, Sleman. Meski terbilang baru, namun Ria begitu lihai menerapkan teknik decoupage ke media tas berbahan pandan, lontar, dan rotan. Tas pandan yang tadinya nampak biasa, bisa menjadi sesuatu yang luar biasa dan bernilai jual tinggi.

Modalnya Keuletan dan Keterampilan 

Merintis usaha kerajinan decoupage dari hobi

Merintis usaha kerajinan decoupage dari hobi, Ria mengaku modal utama yang dibutuhkan hanya keuletan dan keterampilan saja.

”Teknik ini memang kelihatan mudah, tetapi dibutuhkan keahlian dan ketelitian. Didukung teknik potong, menempel, dan membuat motif pas dan cocok diterapkan pada tas model yang seperti apa,” ungkap Lulusan Management UPN ini.

Ria melanjutkan, untuk membuat kerajinan decoupage peralatan yang dibutuhkan kuas, lem kertas, gunting, dan vernis. Ambil tas yang ingin dihias, kemudian gunting tisu sesuaikan pola yang disukai. Kemudian oleskan lem pada media yang rata, tempelkan pola tisu yang sudah digunting tadi. Biarkan kering, beri lapisan lem lagi pada tisu yang telah tertempel tadi.

Selanjutnya, setelah kering beri lem lagi. Langkah terakhir semprotkan vernis untuk hasil yang sempurna dan lebih awet. Pengerjaannya membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk motif simple, dan 4 sampai 5 jam pengerjaan untuk yang rumit.

Ria rutin mengikuti pameran untuk mengenalkan kerajinan Decoupage

Ria rutin mengikuti pameran untuk mengenalkan usaha kerajinan Decoupage ke khalayak ramai.

Mantan pelatih senam ini mengaku hanya merogoh kocek sekitar Rp 500 ribu untuk memulai usahanya itu. Yaitu untuk membeli bahan baku tisu dan tas di Malioboro. Harga untuk produknya pun dibandrol mulai Rp 10 ribu hingga Rp 400 ribuan.

”Kalau untuk bahan rotan memang lebih mahal. Tapi untuk tas pandan tidak sampai Rp 200 ribu. Harga masih sangat murah dibanding di Jakarta dan Bandung yang lebih mahal hingga 50%,” tuturnya.

Baca Juga Artikel Ini :

Kreasi Kerajinan Decoupage Laku Mahal di Pasaran

Sering Ditolak Kerja, Kini Ria Sukses Bisnis Tas Kerajinan Jogja

Usaha yang diberi nama Ria Craft ini mulai merambah pemasaran online sejal dua bulan lalu melalui akun Instagram @Ria_destore dan Facebook Page Riadestore. Peminatnya pun tak lagi di seputar Jogja saja, melainkan mulai merambah ke Jakarta, Bandung, Klaten, dan Solo.

Dalam sebulan Ria mampu menjual tas nya hingga 10 picis dengan ragam produk mulai aneka tas, clucth/dompet, dompet kosmetik, dompet koin, dan tempat tisu. Ria Craft juga siap menerima pesanan.

”Dari pemasaran online cepet responnya. Pernah dapat pesanan souvenir berupa clucth dan dompet koin untuk souvenir pernikahan,” kata ibu dari Kevin Ankefra ini.

Bulan depan Ria memiliki target bisa tembus pasar luar kota yang lebih luas lagi. Ia pun akan terus menggali potensi dan ide-ide baru agar produk yang dihasilkan memiliki nilai lebih dan siap bersaing di pasaran.

Tim Liputan BisnisUKM.com

(/TITIS A.W)

Kontributor BisnisUKM.com wilayah Yogyakarta