Inspirasi Bisnis

Dari Ide Sederhana, Dua Pemuda Ini Angkat Indonesia di Mata Dunia

Yogie, salah satu pendiri Eastwood.

Yogie, salah satu pendiri Eastwood.

SOLO, JAWA TENGAH – Ide usaha bisa datang dari hal yang sangat sederhana. Bahkan bukan tak mungkin dari ide sederhana tersebut tercipta produk yang mampu merambah pasar Eropa. Itulah yang dibuktikan dua anak muda Yogie Irawan Cendana dan Mahendra Agung Saputra dengan usaha kacamata kayu mereka bernama Eastwood.

Kacamata kayu tengah menjadi tren beberapa tahun terakhir dan salah satu pembawa tren tersebut tak lain Eastwood dari Solo. Berdiri sekitar empat tahun lalu, usaha kacamata kayu Eastwood sudah menjelajah pasar luar negeri seperti Malaysia, Singapura, bahkan Eropa.

Ampuhnya lagi, produk-produk yang melanglang buana tersebut tercipta dari daur ulang limbah kayu. “Awal-awal dulu Saya dan Putra memasarkan kacamata kayu ini di Bandung dan Bali soalnya banyak wisatawan asing di sana,” kata Yogie saat ditemui di showroom Eastwood di Jalan Kalingga Barat III, Banjarsari, Solo, Jumat (30/12/2016).

Lambat laun, pasar Eastwood pun meluas hingga luar negeri. Yogie mengaku modal mereka hanya percaya diri, berani, dan sedikit kemampuan bahasa Inggris. Pertama mereka membuat katalog produk Eastwood kemudian menawarkan produk tersebut melalui surat elektronik.

Kemudahan teknologi semakin dimanfaatkan benar oleh dua anak muda asal Solo itu dengan membuat website dan berbagai media sosial Eastwood. Kini pembeli dapat melihat koleksi kacamata kayu Eastwood dengan mudah. Bahkan mayoritas transaksi mereka dilakukan tanpa tatap muka.

Franchise King Coklat Premium

Franchise King Coklat Premium

Harga Promo 3,8 Juta Saja Mendapatkan Booth, Blender, X-Banner, 100 Bahan Baku Gratis, dan semua perlengkapannya.

Angkat Nama Indonesia di Mata Dunia

Yogie dan Putra menyematkan kata Nusantara di beberapa produk Eastwood

Selain menggunakan sonokeling dan jati asli Indonesia, Yogie dan Putra juga menyematkan kata Nusantara di beberapa produk untuk mengangkat nama negeri ini.

Yogie dan Putra sengaja menggunakan bahan limbah kayu sonokeling dan kayu jati untuk seluruh produk Eastwood. Selain sederhana dan ramah lingkungan, mereka mengaku ingin memperkenalkan kayu asal Indonesia itu ke kancah internasional. Pasalnya sonokeling dan jati memang menjadi komoditas kayu terbesar dari Indonesia.

Selain itu, mereka juga memanfaatkan limbah lain seperti potongan rantai gearbox sebagai bahan engsel kacamata. Mereka memilih rantai gearbox karena selain bentuk yang sesuai dengan tema, sifatnya juga lebih kuat.

Baca Juga Artikel Ini :
Mainan Kayu Jati, Wanita Ini Hasilkan Omzet Per Bulan Rp 40-50 Juta

Industri Kerajinan Kayu di Bali Masih Diminati Buyer Mancanegara

 

Dalam produksinya, Yogie dan Putra dibantu tujuh orang teman

Dalam produksinya, Yogie dan Putra dibantu tujuh orang teman yang semuanya warga Benowo, Palur, Karanganyar.

Yogie dan Putra juga beberapa kali menyematkan ornamen khas Indonesia seperti batik dalam produk yang dijual terbatas. Yogie mengatakan pasar luar negeri lebih apresiatif dengan produk olahan limbah dan produk yang kental dengan sifat kedaerahan Indonesia. “Ini masih jadi pekerjaan rumah, bagaimana membuat pasar lokal semakin aware dengan produk Eastwood,” lanjut Yogie.

Yogie mengaku seluruh produksi saat ini masih dilakukan secara manual layaknya industri rumahan lainnya. Yogie dan Putra melibatkan tujuh orang warga Benowo, Palur, Karanganyar, dimana rumah produksi mereka juga berada di desa tersebut. Sedangkan untuk penjualan, mereka dibantu beberapa orang lainnya.

Kunci Suksesnya Cuma Satu, INOVASI

Ada banyak koleksi produk yang dibuat Eastwood

Ada banyak koleksi produk yang dibuat Eastwood. Di antaranya yang terlaris dexter, pinisi, kokila, malaka dan moris.

Dalam hal menjaga kualitas produk, Yogie dan Putra selalu menekankan pada inovasi. Mereka selalu mempertimbangkan selera pasar yang tengah berkembang. “Kalau pemasaran sampai sekarang syukur belum ada kendala yang terlalu besar,” lanjut Yogie menegaskan.

Inovasi juga dilakukan pada poin pemasaran dan branding. Mereka pernah menggaet band indie terkenal seperti Navicula untuk membantu memperkenalkan produk-produk Eastwood. Hasilnya bisa dibilang bersahil. Dalam sebulan mereka dapat membuat ratusan kacamata kayu dan dijual kisaran harga 500 ribu hingga 800 ribu rupiah.

Ditanya soal harapan, Yogie mengaku akan sangat senang bila pemerintah lebih mendorong industri kecil seperti usaha kacamata kayu Eastwood untuk dapat menjangkau dan bertahan dalam persaingan pasar luar negeri. Ia mengaku sangat mau bila pemerintah menawari mereka fasilitas pameran ke luar negeri. “Itu sih Mas yang sepertinya belum dilakukan pemerintah untuk usaha kecil,” tutupnya.

Tim Liputan BisnisUKM

(Rizki B.P)

Kontributor BisnisUKM.com wilayah Solo Raya