karya seniBermodalkan pengalaman pahit dimasa lalu yang terlilit dengan pusaran obat terlarang, membuat Heri Sepriyanto berusaha keras mencari ide untuk bisa bangkit kembali menata masa depannya. Memanfaatkan limbah kaca dari botol-botol minuman yang berserakan di salah satu sudut rumahnya, Heri mencoba menggunakan kreatifitas sebagai modal utamanya dalam menciptakan karya seni miniatur limbah kaca.

Siapa sangka bila limbah kaca yang dulunya tidak memiliki nilai, kini berhasil disulap Heri menjadi berbagai karya seni unik berupa miniatur mobil dan becak yang memiliki harga jual cukup tinggi. Melihat dua produk kerajinannya dapat memikat hati para konsumen, Heri pun mulai termotivasi untuk mencoba berkreasi menciptakan bentuk-bentuk lainnya. Seperti miniatur pesawat, miniatur kereta api, miniatur roket, miniatur motor, miniatur masjid, seruling, patung berukuran besar, hingga beraneka macam bunga cantik.

Di rumahnya yang beralamatkan di Perumahan Jati Kramat Indah II, Jalan Berlian VIII Blog A9 No. 10, Pondok Gede, Bekasi, lelaki asli Yogyakarta ini mengubah tempat tinggalnya menjadi bengkel produksi aneka kerajinan dengan nama “Seni Limbah Kaca”. Dengan memanfaatkan kreatifitas dan ketekunan yang dimilikinya, saat ini Heri mengerjakan semua pesanan konsumen seorang diri. Inilah yang membuat suami Sundari ini membatasi kapasitas produksinya. Yaitu hanya berkisar lima sampai enam pesanan dalam satu bulan.

Proses Produksi

Langkah pertama yang dilakukan Heri dalam menciptakan industri kreatif miniatur ini dimulai dengan mencari contoh gambar yang akan dibuatnya. Biasanya Ia mencari inspirasi melalui internet, kemudian lelaki berusia 51 tahun ini dengan sabar dan teliti meniru gambar tersebut untuk dijadikan miniatur unik yang sangat mirip dengan bentuk aslinya.miniatur mobil

Setelah inspirasi diperoleh, selanjutnya proses produksi yang dikerjakan yaitu memotong limbah kaca dari botol, gelas, piring, sampai layar televisi dengan bantuan alat khusus dan disesuaikan dengan ukuran benda yang akan dibuat. Langkah berikutnya Heri memanaskan kaca yang telah dipotong untuk menciptakan lekukan-lekukan yang sesuai dengan bentuk aslinya. Setelah bentuknya sudah sempurna, kemudian potongan-potongan kaca direkatkan dengan menggunakan lem dari bahan kimia. Dan tahapan yang terakhir adalah proses pengamplasan agar produk terlihat lebih halus dan mengkilat.

Rumitnya proses produksi yang dikerjakan Heri, tentu sebanding dengan tingginya harga jual produk-produknya. Sampai hari ini Heri mematok harga Rp 50.000,00 sampai Rp 10 juta, untuk berbagai macam hasil karyanya. Cukup mahal karena disesuaikan dengan keunikan ide dan tingkat kerumitan selama proses produksi.

Meskipun begitu, animo masyarakat terhadap karya seni miniatur Heri masih sangat tinggi. Bahkan kini permintaan pasar tidak hanya datang dari dalam negeri saja, namun berhasil menembus pasar internasional seperti di kawasan Asia Tenggara maupun Eropa. Peluang pasar ini tentu tidak disia-siakan Heri begitu saja. Dengan modal tekad dan niat yang cukup kuat untuk bisa bangkit dari keterpurukannya, Heri Sepriyanto tidak pernah lelah mengenalkan produk-produknya kepada masyarakat luas dari satu pameran ke event pameran lainnya.

Semoga info produk pada pekan ini dapat memberikan inspirasi bagi para pembaca untuk bisa memanfaatkan limbah yang tidak bernilai, menjadi peluang usaha yang menjanjikan untung besar bagi pelakunya. Cobalah dari yang ada di sekitar Anda, dan mulailah sekarang juga. Salam sukses.

sumber gambar : http://hprasetyo.files.wordpress.com/2008/08/11-kaca.jpg dan http://3.bp.blogspot.com/_svNvj9QXYeY/SZGgLpkhLlI/AAAAAAAAAGE/TXJZBqycziY/s400/ReplikaJeep_Herry.JPG