Kopi Wak Somet Angkat Pamor Kopi Kampung Khas Kalbar

Owner Kopi Wak SometTak banyak yang mengenal Kalbar sebagai daerah penghasil kopi, karena Kalbar memang merupakan dataran rendah dan tidak cocok untuk perkebunan kopi. Namun hal itu dipatahkan oleh seorang Indra Vijaya (43) yang lebih dikenal dengan julukan Indra Ae’.

Bisnis Kopi Wak SometIndra yang mengaku seorang penggila kopi ini sangat paham akan berbagai rasa kopi di berbagai warung kopi (warkop) di Pontianak. Dari pengamatannya, ia melihat ternyata warkop-warkop itu mendatangkan kopi dari Lampung, Bengkulu, dan Palembang.

Bertekad memperkenalkan kopi khas dataran rendah Kalbar, Indra nekat berburu kopi jenis Libirika dan Robusta hingga ke Kecamatan Ambawang dan Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu raya, Kalbar. Hingga pada April 2015 silam, lahirlah produk kopi kampung hasil racikan tangannya yang ia beri nama Kopi Wak somet.

Baca Juga Artikel Ini :

Kopi Luwak Borneo Hadirkan Kopi Kelas Premium di Kota Khatulistiwa

Mbok Ngopi, Sajikan Kopi Tradisional Dalam Bentuk Modern

“Nama Wak Somet dalam bahasa Indonesia berarti ‘bapak berkumis,” kata Indra. Ia juga mencampur kopi kampung racikannya dengan kopi dari Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Ketapang, Kalbar.

kemasan Kopi Wak SometDalam 1,5 bulan, Indra mampu menjual sebanyak 250 kg Kopi Wak Somet, dengan harga jual per kilogram Rp 70.000 (tanpa kemasan). Sedangkan untuk kemasan gelas 200 gram dijual seharga Rp 35.000, kemasan alumunium valve 250 gram dijual seharga Rp 40.000, dan dalam kotak berwarna emas (kemasan lama) Kopi Premium Libireka 300 gram dijual seharga Rp 90.000.

Saat ini, Kopi Wak Somet sudah dipesan oleh beberapa konsumen dan re-seller dari seluruh kabupaten/ kota di Kalbar. Untuk luar Kalbar, pesanan datang dari Bali, Lampung, Jakarta, dan Medan.

Masih Diolah Secara Tradisional

Kedai Kopi Wak SometKendala usaha yang dihadapi Indra adalah masalah pengiriman bahan baku dari Ambawang dan Kubu ke Pontianak. Indra mengaku, ia mesti menunggu pengiriman kopi dari daerah dan hasil produksinya masih sedikit tidak seperti di Sumatera, yang memang merupakan daerah penghasil kopi di Indonesia.

Selain itu, jika sedang musim hujan, Indra tidak dapat menjemur kopi sehingga harus menunggu adanya sinar matahari. Sedangkan keunggulan produk kopi buatan Indra adalah murni dan tidak dicampur jagung seperti kopi kampung pada umumnya.

“Cara penggorengan juga masih tradisional, dari pengolahan sampai penjemuran. Untuk menjemur dan menggoreng kopi, saya serahkan ke pihak ketiga,” ujar indra.

BINGUNG CARI IDE BISNIS ?
Dapatkan Ratusan Ide Bisnis Dilengkapi Dengan Analisa Usaha.
Klik Disini

Ke depan, Indra berharap memiliki beberapa booth di teras supermarket agar dapat mempekerjakan lebih banyak lagi karyawan. Ia ingin mengangkat potensi kopi lokal. Selain itu, Indra juga ingin memiliki mesin penggorengan kopi modern agar dapat memproduksi kopi lebih banyak dari saat ini.

Tim Liputan BisnisUKM

(/Vivi)

Kontributor BisnisUKM.com wilayah Kalimantan Barat