kerajinan kain perca
kerajinan kain perca

Berkunjung ke kota Jogja ternyata tak hanya oleh-oleh bakpia dan kuliner gudegnya saja yang diminati para wisatawan. Kreativitas masyarakat di sekitar Jogja kini juga mampu menghasilkan berbagai macam kreasi kerajinan yang sangat cocok dijadikan sebagai buah tangan. Salah satunya saja seperti kreasi kerajinan perca kaos katun yang diproduksi oleh Rumah Perca.

Mengawali usaha kerajinan perca sejak tahun 2006 silam, Mualimah (36) selaku pemilik Rumah Perca menuturkan bahwa sebenarnya ide bisnis tersebut sudah mulai Ia susun pada tahun 2003. Namun berhubung segala sesuatunya membutuhkan persiapan yang tidak mudah, Ia baru mulai memperkenalkan ke pasaran luas pada tahun 2006. Moment inilah yang kemudian menjadi awal mula kesuksesan Imah (panggilan akrab Mualimah) menggeluti bisnis kerajinan perca.

Ditemui Jumat (15/3) di lokasi workshopnya yang terletak di kawasan belanja oleh-oleh bakpia Pathuk, Yogyakarta, Imah yang saat itu mengenakan jilbab berwarna cokelat tak sungkan-sungkan untuk menceritakan awal mulanya memilih bisnis kerajinan perca kaos. “Jogja itu kan pusat kreativitas, dan selama ini ketika kita bicara tentang kerajinan perca pasti yang diangkat perca batik, kita melihat kerajinan perca kaos belum ada, jadi kita mulai tertarik mencoba sesuatu yang baru dengan warna-warna yang menarik dan dinamis menggunakan perca kaos katun,” ujarnya kepada tim bisnisUKM.

Perkembangan Bisnis Rumah Perca

bed cover perca
bed cover perca

Berbekal passion sang suami yang gemar menggambar, Imah mencoba meramu kain-kain sisa kaos katun menjadi berbagai macam produk kerajinan. Sebut saja seperti bed cover, selimut, sarung bantal sofa, penutup kulkas, penutup galon, tas punggung, tas laptop, sprei, show case, dompet, sarung hp, jaket dan masih banyak lagi. “Rata-rata hampir semuanya laku di pasaran, tapi yang paling laris karpet, sarung bantal, dan bed cover,” terang ibu tiga anak ini.

Dibandrol dengan kisaran harga mulai dari yang termurah Rp 15.000,00 untuk produk dompet perca dan yang termahal sekitar Rp 650.000,00 untuk produk bed cover perca, Rumah Perca mencoba menawarkan produk berkualitas bagi para konsumennya. “Kita sengaja menggunakan perca kaos katun soalnya untuk bahan kaos lain hasilnya kurang bagus, sama-sama menghabiskan tenaga, kami lebih memilih perca kaos katun yang lebih bagus sekalian, karena lebih awet, tidak melar, dan tidak luntur,” jelasnya.

Melihat perkembangan pasar yang semakin beragam, tiga tahun belakangan ini Imah dan suaminya mulai merambah perca batik untuk memenuhi kebutuhan konsumen. “Biasanya untuk perca batik kita malah sedikit kesulitan mencari bahan baku kain percanya, karena kita menggunakan perca batik katun untuk memproduksi aneka macam kerajinan,” kata istri Mahmud tersebut. Mengingat produk yang dibuat Rumah Perca memanfaatkan kain-kain sisa, maka produknya pun selalu limited edition, karena ketersediaan warna kainnya tidak selalu ada yang sama.

pengusaha kerajinan perca
pengusaha kerajinan perca

Dibantu oleh empat sampai tujuh orang tenaga kerja yang memiliki job desc masing-masing, sedikitnya per hari Imah bisa memproduksi sekitar 5 pcs bed cover yang berukuran besar. Memanfaatkan strategi pemasaran konvensional, Imah lebih fokus membidik para wisatawan yang berbelanja di kawasan Pathuk, Malioboro untuk memasarkan produk-produknya. “Untuk agen dan reseller sementara ini kami belum ada, tapi kami membuka peluang sebesarnya-besanya bagi yang ingin bergabung menjadi reseller,” ungkapnya siang itu.

Menutup perjumpaan kami yang cukup singkat, Imah berharap agar motif yang Ia ciptakan bisa berkembang lebih variatif. Selain itu, wanita berjilbab ini juga ingin mengangkat perca agar bisa diapresiasikan lebih baik lagi supaya bisnisnya juga bisa mendunia. Di akhir sesi wawancara, Imah juga memberikan sedikit tips bagi para pemula yang ingin menekuni bisnis serupa. “Yang terpenting tetap fokus pada bidangnya dan tidak boleh putus asa, karena setiap orang sudah diatur rejekinya,” ucap Imah dengan senyum ramahnya.

Tim Liputan BisnisUKM