Melestarikan Budaya Jawa dengan Blangkon Kaswanto

/ / Inspirasi Bisnis, Video UKM /

MELESTARIKAN BUDAYA JAWA DENGAN BLANGKON KASWANTO

Bagi sebagian besar masyarakat Jawa, blangkon diibaratkan sebagai simbol atau sebuah ciri khas. Bahkan konon, blangkon dulunya digunakan sebagai penutup kepala untuk membedakan kaum ningrat atau abdi dalem keraton dengan masyarakat jelata yang hanya menggunakan iket sebagai penutup kepala. Seiring berkembangnya jaman, blangkon kini tidak hanya dikenal sebagai sebuah benda budaya semata, namun digunakan juga sebagai pelengkap fashion, sampai dengan cinderamata untuk wisatawan. Di beberapa kota yang masih menjunjung tinggi akar budaya Jawa seperti Jogja dan Solo, banyak sentra produksi blangkon yang rata-rata merupakan usaha keluarga dan berlangsung turun temurun.

Salah satu sentra produksi blangkon dimana sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup sebagai pengrajin blangkon adalah Kelurahan Serengan Solo. Tim liputan bisnisUKM mengunjungi kampung tersebut Sabtu (12/11), dan menemui salah seorang produsen blangkon, yaitu Ibu Kaswanto (62). Beliau merupakan istri dari (alm) Kaswanto yang selama ini dikenal sebagai salah seorang pionir pengrajin blangkon dari Serengan. Menurut Ibu Kaswanto, usaha pembuatan blangkon yang diberi nama ‘Blangkon Kaswanto’ tersebut sudah ada sejak tahun 1970. “Bapak (alm.Kaswanto) mewarisi keahlian membuat blangkon dari ayahnya, kemudian sekitar tahun 70’an beliau membuka usaha Blangkon Kaswanto sembari mewariskan ilmu (pembuatan blangkon) kepada para murid-muridnya,” ujarnya.

blangkon Jogja KaswantoAtas ilmu yang diwariskan oleh (alm) Kaswanto, saat ini Serengan dikenal sebagai sentra produksi blangkon, karena hampir sebagian besar warganya menjadi pengrajin blangkon berbagai motif. Tidak hanya blangkon khas Solo, namun sebagian besar pengrajin juga memproduksi blangkon yang bercorak Jogja, Madura, Bali, Sunda, dan Betawi. “Memang coraknya berbeda, namun dari bahan baku yang digunakan kebanyakan sama, yaitu menggunakan kain modang,” terang Ibu Kaswanto. Menurut ibu empat orang putra tersebut, kain modang biasa dibelinya dari Pasar Klewer Solo dan Sragen, dengan harga Rp.18.000,00/ m².

Perkembangan Usaha

Saat ini, dengan dibantu empat orang karyawannya, Blangkon Kaswanto mampu menghasilkan 1.000 blangkon/ bulannya. Namun jumlah tersebut tidak pasti, karena selama ini produksi mereka tergantung pesanan dari konsumen. Blangkon-blangkon tersebut kemudian dipasarkan ke beberapa daerah, seperti Jogja, Surabaya, Jakarta, Bandung, dan Semarang. “Sebagian besar konsumen kami adalah para pedagang, jadi setiap minggu sekali mereka mengambil dalam jumlah yang besar, untuk kemudian mereka pasarkan kembali,” jelas Ibu Kaswanto di rumahnya Jln. Arjuna 1 No.6 Serengan Solo.

produksi blangkon kaswantoSelain dipasarkan di beberapa wilayah Indonesia, produk Blangkon Kaswanto juga pernah dikirim hingga ke Belanda dan Amerika Serikat. “Yang terakhir, kami mengirimkan blangkon Reog Ponorogo ke Amerika Serikat untuk sample dalam rangka kegiatan budaya disana,” kata Wardoyo salah seorang putra Ibu Kaswanto. Dengan proses pemasaran hingga ke mancanegara, selain dalam rangka bisnis, juga bisa menjadi media untuk memperkenalkan salah satu budaya Indonesia kepada dunia luar.

Selama menjalankan usahanya tersebut, Ibu Kaswanto mengaku sering terkendala masalah cuaca yang tidak menentu. Hal itu berpengaruh terhadap proses pengeringan blangkon yang bisa memakan waktu lebih lama ketika cuaca sedang tidak mendukung. “Kami melakukan proses pengeringan manual, hanya kami jemur di pinggiran jalan sepanjang gang kampung sini,” imbuhnya. Namun, dengan banyaknya pengrajin blangkon yang menjemur di pinggiran jalan, justru menjadi sebuah pemandangan yang menarik dan menambah keunikan Kampung Serengan Solo.

Di akhir wawancaranya, Ibu Kaswanto berharap usaha yang dikembangkannya tersebut akan terus berjalan dengan lancar. “Kami juga berharap bisa melebarkan sayap produksi dan pemasaran hingga ke berbagai daerah dan tentunya hingga ke mancanegara,” tambahnya. Dengan meluasnya pasar lokal dan mancanegara, beliau berharap bisa membawa misi ganda, yaitu bisnis sekaligus melestarikan budaya Jawa melalui salah satu simbolnya, yaitu blangkon.

Tim liputan bisnisUKM