Memulai Bisnis Batik Setelah Gagal di Trading Saham

Bisnis batik proboparonLika-liku menjalani dunia usaha agaknya sudah pernah dirasakan oleh Mawan Probodipuro (34) sebelum akhirnya bisa sukses merintis Bisnis Batik Proboparon seperti sekarang ini. Mengawali usahanya di bisnis batik pada tahun 2012 silam, sebelumnya Ia telah malang melintang di dunia perdagangan. Mulai dari bisnis mie rebus, milo, dan susu saat masih duduk di bangku kuliah di Bandung, menjualkan barang para pedagang di Pasar Cielunyi ketika ada bazar di masjid kampus, hingga sempat mencoba trading saham di tahun 2009 yang akhirnya hancur dan membuatnya terpuruk karena mengalami kebangkrutan cukup besar.

Pengalamannya jatuh bangun dalam merintis usaha tak lantas membuat Mawan kapok untuk bisa sukses di dunia usaha. “Tahun 2009 usaha saya di bidang trading saham hancur dan disitulah saya terpuruk. Mobil dan rumah pun terjual. Saya pun stress dan bingung. Kemudian saya mencoba terjun di bisnis online, tiap malam pergi ke warnet terdekat dari rumah untuk browsing produk serta menawarkan dagangan berupa mainan anak–anak yang barangnya saya ambil dari teman yang jualan di pasar. Saya membantu menjualkannya secara online dengan modal gambar yang saya foto dengan kamera handphone,” ujar Mawan sembari mengenang pahit getirnya merintis usaha.

Mendapat Ide Bisnis Dari Obrolan Santai

Owner batik proboparonTak hanya berjualan produk mainan anak, Mawan juga sempat berjualan produk kecantikan dan kain lurik dari seorang temannya yang memproduksi kain lurik di Klaten. “Itupun tidak berjalan lama, setelah kemudian saya dengan adik–adik yang masih kuliah di ISI Solo ngobrol–ngobrol di teras rumah, omong kosong sana sini akhirnya muncullah ide untuk membuat bisnis batik,” terangnya.

Dari obrolan santai bersama sang adik di teras rumah, alhasil Mawan mulai memproduksi beberapa kain batik dengan motif abstrak. “Awalnya saya bercerita kepada adik saya tentang harga batik tulis yang cukup mahal, dan kebetulan adik saya mengatakan ada tugas dari dosen untuk membuat sebuah karya, dan itu bisa diwujudkan salah satunya batik. Lalu ketika ide bisnis tersebut saya share ke teman saya yang ada di Jakarta, dia bersedia meminjamkan modal uang sebesar Rp 13.900.000,- untuk memulai usaha itu,” kata pengusaha sukses yang masih menyempatkan diri untuk berbisnis merchandising pada tahun 2008 dengan bergabung bersama Kedai Digital.

Saat itu Mawan mengaku bingung untuk membuat brand batiknya, hingga salah satu adiknya mengusulkan nama Batik Proboparon yang artinya Probo adalah Prabu, dan Paron berarti Separo. “Konsep kami saat itu adalah dalam satu kain batik ada motif yang beraneka ragam, bisa separo motif tradisional dan separo motif abstrack kontemporer. Saat itu produksi kami lakukan di kost adik saya di belakang kampus UNS Surakarta. Hasil produksi kemudian saya promosikan melalui media sosial, berbekal pengalaman berbisnis online saya sudah tidak awam dengan internet dan promosi online. Media sosial, iklan online, lapak jual beli dan lainnya saya pasang produk batik tulis Proboparon tersebut. Akhirnya banyak yang mengenali dan melakukan pemesanan,” ucap Mawan.

Mulai Memberdayakan Pengrajin Batik

Proses pembuatan batik proboparonSeiring dengan banyaknya permintaan konsumen, tempat kost yang awalnya dijadikan sebagai tempat produksi sudah tidak mampu menampung seluruh aktivitas bisnis batik Proboparon. “Ruang kost yang terbatas serta waktu kuliah adik yang semakin padat, memaksa saya untuk mencari pengrajin di wilayah Solo dan sekitarnya. Dan saya pun bertemu dengan beberapa pengrajin batik yang mau bekerjasama untuk memproduksi batik Proboparon tersebut. Konsep dan ide saya arahkan, namun pembuatan bisa dilakukan di rumah mereka masing–masing dengan bahan baku kain dari saya,” jelas pengusaha sukses yang setiap bulannya bisa mengantongi omzet lebih dari Rp 10 juta tersebut.

Langkah strategis yang diambil Mawan ternyata tidak meleset. Saat ini Batik Proboparon telah memiliki kurang lebih 10 pengrajin dan perkembangan produknya cukup signifikan, tidak hanya batik tulis yang diproduksinya namun juga mulai melayani pembuatan batik cap atau printing. Pengembangan usaha di batik cap dan printing merupakan salah satu upaya Mawan untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang beraneka ragam. “Ikon dari Batik Proboparon tetap batik tulis. Dan saat ini pun kami melayani pemesanan baik batik tulis, cap maupun printing,” imbuhnya.

Selama kurang lebih tiga tahun menjalankan bisnis batik Proboparon, Mawan mengaku kendala bisnis yang paling sering Ia hadapi adalah kenaikan harga bahan baku seiring dengan naiknya harga–harga barang akibat kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak. Selain itu, faktor cuaca seperti saat musim penghujan juga menjadi kendala karena untuk proses pengeringan kain batik memerlukan bantuan sinar matahari yang cukup.

“Untuk mengatasinya, kami melakukan upaya pengembangan usaha lain untuk menutup kekurangan yang ada pada proses produksi batik. Diversifikasi kami lakukan dengan membuat divisi yang kami namakan SG Pro. Disini kami memproduksi sablon kaos idenitas, komunitas, kaos kata dan di dalamnya selalu kami selipkan motif batik. Kedepannya, kami akan memproduksi merchan lainnya seperti sandal slop motif batik, keris batik, mug batik, tas batik, bahkan muncul ide membuat celana dalam batik,” katanya.

Batik Proboparan Rambah Pasar Internasional

Proses pengeringan batikSelain itu, Mawan juga meningkatkan kualitas produksi batik sehingga konsumen semakin suka dengan Batik Proboparon ini. Terbukti, saat ini pesanan batik mulai berdatangan dari Sabang sampai Merauke, dan ada beberapa pesanan dari Australia dan Hongkong. “Batik tulis karena unik banyak dipesan oleh para pejabat dan jajaran pemerintah daerah. Terakhir kami memproduksi 60 potong untuk pejabat di propinsi Lampung, Juni kami memproduksi pesanan dari Hongkong. Tahun 2014 kami memproduksi 6000 potong batik cap untuk perangkat desa di salah satu kabupaten di Jawa Tengah, dan masih banyak lagi pesanan lainnya,” cerita Mawan.

Dengan mengandalkan 10 pengrajin batik yang menjadi mitranya dan 8 orang tenaga kerja untuk mengerjakan pesanan merchandising, rata-rata Mawan bisa memproduksi 50 – 100 kain batik dan saat ini Batik Proboparon juga sedang mulai memproduksi batik identitas dimana konsumen minta untuk dibuatkan motif daerahnya dan dikolaborasikan dengan motif abstrack kontemporer khas Proboparon.

“Harapan kedepan, tujuan kami selain membesarkan usaha ini kami juga bertujuan melestarikan kearifan budaya lokal khususnya batik. Maka disetiap produksi merchandising kami nantinya akan selalu ada konsep motif batiknya. Dan semoga kami bisa menjadi perusahaan besar yang mampu merekrut banyak orang. Kami pun siap membuka kemitraan bagi reseller maupun agen yang tersebar di seluruh nusantara,” harapan pengusaha sukses yang menjadikan Batik Keris dan Batik Danarhadi sebagai inspirasi bisnisnya.

Mawan mengaku, kemenangan terbesar yang didapatkan Ia dapatkan saat ini yaitu selain bisa memberikan lapangan pekerjaan bagi orang-orang di sekitarnya Ia juga bisa bermanfaat bagi bangsa dengan melestarikan budaya asli bangsa Indonesia yaitu batik. “Sebab, jika bukan kita yang melestarikannya siapa lagi. Konsep batik Proboparon yang unik dan memadukan berbagai warna ini adalah agar khususnya para anak muda menyukainya, dan mereka tidak lagi berpikir memakai batik itu kuno,” ujarnya kepada tim liputan BisnisUKM.com.

Tim Liputan BisnisUKM

Info Usaha dan Kemitraan Agen Batik Proboparon :

KLIK DISINI