Ketika Anda sering menghadiri pesta maupun hajatan pernikahan, pastinya tidak asing lagi dengan benda yang satu ini. Piring kertas atau orang lebih sering menyebutnya piringan kertas menjadi benda yang sering digunakan untuk alas menu makanan dan buah-buahan. Dan tahukah Anda, bahwa memproduksi piring kertas tersebut ternyata bisa menjadi peluang usaha yang menjanjikan.   Hal itulah yang sejak tahun 1995 ditekuni oleh Nur Hidayat (42), bapak berputra empat ini memproduksi piring kertas di rumahnya Klitern Lor Gondokusuman Yogyakarta.

Ditemui di rumahnya Sabtu (12/3), pria asli Semarang ini berujar bahwa kemampuan yang dia miliki sebagai pembuat piring kertas didapatnya ketika masih tinggal di kampung halaman. “Saat itu di kampung saya mayoritas penduduknya sebagai pembuat piring kertas, dan dari situlah saya mulai belajar secara otodidak tentang bagaimana prosesnya,” kata Nur Hidayat yang ditemani seluruh anggota keluarganya. Dari hasil belajarnya itu, kemudian Nur Hidayat mengembangkan usaha pembuatan piring kertas secara sederhana. Dengan mengusung nama Ria Collection, kini Nur Hidayat menjadikan bisnis piring kertas tersebut menjadi produksi pokok keluarganya.

Pada proses produksinya, bahan baku yang digunakan juga sederhana, yaitu menggunakan kertas manila yang mudah didapatkan di toko-toko kertas. Kertas manila yang berupa lembaran-lembaran tersebut dipotong sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. “Kami biasanya kulakan kertas dalam jumlah yang banyak, sekalian dipotongkan sesuai dengan ukuran piring kertas, sehingga tinggal proses finishingnya yang kami kerjakan sendiri,” penjelasan Nur Hidayat tentang proses produksinya. Potongan-potongan kertas itulah kemudian dipress dengan menggunakan mesin press yang dibuat sendiri oleh Nur Hidayat. Dari hasil rutin produksi, Nur Hidayat mengaku bisa menghasilkan 200 pack piring kertas setiap harinya (per pack berisi 50 buah).

Saat ini Ria Collection memproduksi tiga jenis piring kertas, yaitu piring kertas kotak berwarna, piring kertas panjang berwarna, dan piring kertas kotak putih. Harga yang diwarkan juga sangat terjangkau, yaitu Rp.1.250,00 sampai dengan Rp.2.000,00 per pack. Nur Hidayat mengaku bahwa produk piring kertasnya sudah dipasarkan melalui agen reseller yang sudah 5 tahun menjalin kerjasama dengannya. Setiap 3 hari sekali, Nur Hidayat menyetor 1.000 pack kepada agennya tersebut. Dari permintaan rutin tersebut, saat ini Nur Hidayat harus mempekerjakan seorang tenaga produksi untuk membantu proses produksinya. Tidak jarang ketika permintaan banyak, dia dan istrinya harus rela lembur untuk memenuhi permintaan itu. “Permintaan saat ini stabil, namun ada kalanya juga sepi order, terutama ketika Bulan Ramadhan dan Bulan Syuro,” imbuh Nur Hidayat yang juga menjabat ketua RT di wilayahnya.

Untuk menyikapi persaingan yang ketat dan harga bahan baku kertas yang tidak stabil, Nur Hidayat mengaku harus pintar-pintar dalam berinovasi menciptakan produk. Sehingga, selain memproduksi rutin piring kertas, kini beliau juga rutin memproduksi kerajinan dari kain flannel.

Produksi kerajinan dari kain flannel tersebut sudah dijalaninya selama 10 tahun. Dibantu istri dan 3 orang tetangganya, Nur Hidayat fokus dalam membuat kerajinan kain flannel terutama boneka flannel. Boneka dari tokoh-tokoh kartun dan binatang yang lucu menjadi ide kreatif tersendiri baginya dan keluarga. Bahkan Nur Hidayat mengaku, saat ini produk boneka yang bisa diberi nama pembelinya masih sangat jarang ditemui. Sehingga, selain piring kertas tadi, boneka flannel itu juga menjadi produk andalan yang dipasarkannya melalui event Sunday Morning di kampus UGM Yogyakarta.

Dengan dua produk andalannya itu, Nur Hidayat mengaku tidak terbebani dalam hal produksinya. Terlebih, untuk produksi boneka flannelnya, beliau juga dibantu oleh tetangganya sebagai tenaga jahit. Dalam sehari, 50 boneka flannel beragam jenis mampu diproduksi Ria Collection. “Pemasaran produk boneka flannel selain di Sunday Morning UGM juga kami lakukan di pameran-pameran dan lapak kami di Jalan Solo setiap malam hari,” jelas Nur Hidayat.

Di akhir wawancaranya, Nur Hidayat berharap dalam waktu dekat bisa memiliki toko permanen yang bisa dia jadikan lokasi pemasarannya. Meskipun terkendala modal, namun dengan niat dan ketekunan yang beliau miliki, harapan besarnya tersebut bisa segera terwujud.

Tim liputan bisnisUKM