Inspirasi Bisnis, Video UKM

Mengemas Warung Ayam Geprek Dengan Konsep Mahasiswa

Menjamurnya warung ayam geprek di Yogyakarta tak lantas membuat Ahmad Hasani Al Mubarok (27), Dinul Faizin, Izra Bakron, dan Karisma Azana Amalia ciut nyali sebagai pendatang baru di bisnis ayam geprek.

Mengusung Ayam Geprek Mahasiswa sebagai brand bisnisnya, keempat sekawan yang sama-sama merantau ke Kota Jogja sebagai mahasiswa ini tak hanya berhasil menyandang gelar sarjana dari universitas ternama di Yogyakarta namun juga sukses menjadi pengusaha muda dengan membuka tiga cabang Ayam Geprek Mahasiswa dalam waktu kurang dari 1 tahun.

Kampus Ayam Geprek Mahasiswa

Ditemui Selasa (27/10) yang lalu, di salah satu warungnya yang berlokasi di Daerah Sapen, Yogyakarta, Ahmad Hasani Al Mubarok yang akrab dipanggil Amak ini mengaku sebelum sukses merintis bisnis Ayam Geprek Mahasiswa, Ia sebelumnya pernah gagal di bisnis travel dan catering.
“Sebelum terjun di bisnis ayam geprek, saya dan Dinul Faizin mencoba bisnis travel dan bisnis katering. Kita jatuh bangun di bisnis tersebut sampai banyak hutang dan bingung bagaimana caranya membayar hutang. Waktu itu kita masih kuliah dan sibuk skripsi, akhirnya kurang fokus dan kami berhenti selama 1 bulan untuk mencari ide bisnis baru agar bisa melunasi hutang-hutang kami. Alhamdulillah kita mendapatkan ide bisnis ayam geprek,” kata Amak.

Baca Juga Artikel Ini :

Bisnis Tanpa Modal Kini Ayam Gobyos Mulai Dikenal

Sukses Menjadi Pelopor Kuliner Ayam Saus Pedas di Yogyakarta

Punya Gerai Nyoklat, Sudah Pasti Untung!

Punya Gerai Nyoklat, Sudah Pasti Untung!

Peluang usaha minuman dengan 100% keuntungan milik mitra, Dapatkan Promo Paket Nyoklat Super.

Bersama rekan seperjuangannya (Dinul Faizin), Amak mencoba membuka warung ayam geprek di sekitar kampus Universitas Negeri Yogyakarta. Tak jauh berbeda dengan dua bisnis sebelumnya, 3 bulan berjalan warung ayam geprek tersebut harus ditutup karena bangkrut.

Akhirnya modal tidak balik, dan bulan pertama bisnis kuliner ini terpaksa tutup. “Bulan kedua kami menambahkan suntikan dana, kemudian jalan lagi, dan di bulan ketiga kami memutuskan untuk menutup selamanya. Setelah itu ada teman yang mengembalikan semangat kami, yakni mas Izra dan mba Rizma, dua orang ini yang kemudian bergabung menjadi owner Ayam Geprek Mahasiswa dan kami membuka kembali bisnis ini di Sapen,” ceritanya kepada tim liputan BisnisUKM.com.

Belajar Dari Kegagalan Sebelumnya

 

mengemas-warung-ayam-geprek-dengan-konsep-mahasiswa

Ketika ditanya mengapa memilih bisnis ayam geprek, Amak berujar karena keempat ownernya sama-sama suka pedas. “Selain itu proses pembuatannya juga simple, ayam digoreng krispy kemudian ditambahkan cabe, garam, bawang, lalu digeprek,” tambah pengusaha muda asli Probolinggo tersebut.

Dengan bermodalkan kemudahan tersebut, Amak dan ketiga rekannya memberanikan diri untuk membuka bisnis Ayam Geprek Mahasiswa. Mereka sengaja memilih konsep ayam geprek mahasiswa karena pasar yang dibidik memang kalangan mahasiswa. Harganya juga harga mahasiswa, cara display makanan juga sesuai dengan kesukaan mahasiswa (ambil sendiri), dan yang jelas murah.

“Faktor pembedanya kenapa di lokasi lama bangkrut dan di UIN berhasil, karena disana kami tidak memiliki banyak teman. Setelah pindah ke daerah Sapen saya mulai banyak belajar, saya mulai ikut komunitas, bertemu banyak teman, ketemu dengan investor yang menawarkan membuka cabang ayam geprek mahasiswa di Malang, Surabaya, Probolinggo, kita sudah siap buka cabang baru di manapun. Karena kita sudah tahu ilmunya seperti apa, kita juga sudah tau medan seperti apa, dan punya banyak relasi,” jelas alumni jurusan ilmu hukum pidana Islam di UIN Yogyakarta ini.

Membidik Mahasiswa Dengan Konsep Unik

Saat ini bisa dikatakan Kota Jogja sudah digeprek, karena ketika kita berjalan di jalan raya ketemunya warung ayam geprek bahkan sampai masuk ke dalam gang sempit pun ada banyak warung geprek yang bisa ditemui. Kemudian apa yang membuat Ayam Geprek Mahasiswa ini terlihat berbeda dari warung geprek lainnya, ternyata konsep yang diusung adalah konsep mahasiswa. Yang mana Ayam Geprek Mahasiswa ini tidak disebut sebagai warung, tetapi sebagai kampus.

“Jadi ketika kita menyebutkan alamat, kami tidak menyebutnya sebagai warung ayam geprek namun dengan sebutan AGM (Ayam Geprek Mahasiswa) kampus 1, AGM kampus 2, AGM kampus 3 dan lain sebagainya,” terangnya.

Konsep masuk ke warung pun ketika konsumen akan mengambil makanan, nama konsepnya pun bukan ambil makanan tetapi “input KRS”. Ada juga beasiswa bagi para geprekers (sebutan untuk pelanggan Ayam Geprek Mahasiswa), dan ada pula menu paketan (paket wisuda, paket seminar, paket skripsi, paket DO. Sedangkan untuk menu terpisah biasa disebut dengan sistem “per SKS”. Semua nama disesuaikan dengan mahasiswa.

“Yang paling sering dipesan geprekers adalah paket wisuda, karena selain lebih ekonomis ternyata para mahasiswa juga berharap ketika makan paket ini mereka juga ingin bisa cepat wisuda. Jadi mimpi kami, AGM bisa menjadi kampus kedua bagi para mahasiswa, selain kampus tempat mereka belajar,” terang Amak.

Memadukan Makan Gratis dan Promo Sosmed

Bsnis ayam geprek mahasiswaUntuk mendatangkan konsumen pertama kali, Amak bersama rekan-rekannya selalu memberikan layanan makan gratis menu ayam geprek dari hari 1 – 3 pembukaan. “Selanjutnya di hari ke 3 – 6 diskon 50% dan hari ke 7 – 9 kami diskon 30%. Ilmu ini kita dapat dari beberapa pengusaha ayam geprek yang ada di Jogja. Untuk promosi grand opening kami melakukan strategi tersebut,” imbuhnya.

BINGUNG CARI IDE BISNIS ?

Dapatkan Ratusan Ide Bisnis Dilengkapi Dengan Analisa Usaha.

Klik Disini

Sedangkan untuk memperluas jangkauan promosi, saat ini Ayam Geprek Mahasiswa juga aktif promosi dari mulut ke mulut, membagikan brosur di tempat-tempat strategis, mulai merambah sosial media, bahkan sampai bergabung dengan komunitas termasuk sebagai ajang promosi bagi mereka. “Karna sekarang ini eranya sosial media, tidak bisa kita pungkiri kita juga harus bermain di sosmed. Kita menggunakan promo-promo sosmed seperti salah satunya memanfaatkan artis endors di instagram,” tuturnya.

Terbukti cara ini cukup efektif untuk mendongkrak popularitas AGM di kalangan mahasiswa Jogja. Setiap harinya, Amak bisa menghabiskan sekitar 180-250 porsi ayam geprek di setiap cabangnya. Kedepannya, keempat pengusaha muda ini berharap bisa membawa bisnis ayam geprek ini seperti Mc Donald. “Bayangan saya Ayam Geprek Mahasiswa ini bisa seperti McD, baik pelayanannya, sistemnya, saya selalu penasaran dengan restoran orang lain yang ramai,” ungkapnya sembari menutup sesi wawancara kami.

Tim Liputan BisnisUKM