Pengalaman menekuni beberapa bidang usaha membuat Bapak Sunarto (50) paham betul tentang peluang pasar yang bisa dikembangkan dan memiliki prospek menjanjikan dewasa ini. Pernah bekerja pada sebuah lembaga keuangan hingga berjualan mie ayam, membuat jiwa wirausaha suami dari Ibu Siti Hindun tersebut semakin matang. Bersama dengan istrinya, Pak Sunarto memilih membudidayakan jamur kuping dan jamur tiram sebagai ladang bisnis yang dikembangkan pada tahun 2002. Alhasil, sebuah lokasi pembibitan jamur yang beralamat di Tapanrejo Depok, Sleman berhasil dibangun dengan standar pembibitan yang sudah lolos sertifikasi dari dinas terkait.

Ditemui di lokasi pembibitannya Kamis (7/7), Pak Sunarto berujar jika perkembangan usaha jamur saat ini mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. “Konsumsi jamur di masyarakat menunjukkan peningkatan yang signifikan, hal itu mengindikasikan bahwa jamur konsumsi saat ini makin diminati, sehingga wajar banyak bermunculan produsen jamur di berbagai tempat,” terangnya. Menggunakan Artha Sifantara sebagai nama usahanya, Pak Sunarto yang dibantu 8 orang tenaga produksinya, mampu menghasilkan 1.000 baglog dalam sehari.  Dalam produksinya tersebut, Pak Sunarto mengaku konsisten menggunakan bibit terbaik yang sudah lolos sertifikasi.

Dengan harga jual Rp.1.600,00/baglog, Pak Sunarto mengaku dalam sebulan bisa memperoleh omzet lebih dari 30 juta. Baglog-baglog Arta Sifantara banyak dipasarkan ke Kalimantan Barat, Jambi, Pekanbaru, dan Bali. “Pada awalnya, kami hanya melakukan pemasaran dari mulut ke mulut, dan seiring berkembangnya teknologi, kami juga memanfaatkan media online (internet) sebagai media pemasaran,” jelas ayah 5 orang putra tersebut.

Selama menjalankan usahanya, Pak Sunarto senantiasa melakukan sosialisasi jamur dengan membentuk kelompok tani bersama warga sekitar tempat tinggalnya. Dengan langkah seperti itu, beliau banyak dikenal warga sebagai salah seorang produsen jamur pertama yang melakukan budidaya di daerah panas. “Karena jamur itulah saya sering mendapat kepercayaan untuk mengisi pelatihan, menjadi pembimbing, dan seminar tentang pembibitan dan budidaya jamur,” imbuh Pak Sunarto. Bahkan, saat ini beliau sudah menjalin kerjasama dengan dinas terkait dalam hal pelatihan dan seminar-seminar pendidikan.

Menyikapi persaingan usaha yang semakin ketat, Pak Sunarto kemudian berinisiatif mendirikan rumah makan jamur yang menyajikan berbagai kuliner olahan jamur. “Tahun 2006 saya memutuskan untuk mendirikan rumah makan dengan menu olahan jamur di dekat Stadion Maguwoharjo Sleman, setelah tiga tahun di lokasi tersebut, tahun 2009 kami  pindah di lokasi saat ini (Jl. Raya Tajem km 1 Maguwoharjo, Depok, Sleman)”, jelas Pak Sunarto. Rumah makan yang dibangun dengan nuansa pondok bambu tersebut memiliki menu andalan tongseng jamur dan sate jamur. Dengan 2 orang karyawannya, rumah makan itu saat ini sudah melakukan beberapa variasi masakan, yaitu bakso jamur dan soto jamur. Harga yang ditawarkan juga cukup terjangkau, berkisar pada harga Rp.2.000,00-Rp.20.000,00/ porsi.

Rumah makan yang juga dikenal dengan rumah makan Ibu Hindun tersebut sering melakukan eksperimen untuk memperoleh varian menu baru. Hal itulah yang membuat rumah makan itu sering kebanjiran pesanan untuk menu masakan jamurnya. Bahkan salah seorang pengunjung yang berhasil ditemui tim liputan bisnisUKM mengaku sudah menjadi langganan rumah makan itu sejak pertam kali berdiri. Pengunjung yang berasal dari Jakarta tersebut selalu menyempatkan berkunjung ke rumah makan Ibu Hindun ketika berkunjung ke Yogyakarta. Beliau berujar jika masakan yang ada di rumah makan tersebut selain bebas kolesterol juga memiliki rasa yang pas di lidah.

Di akhir wawancaranya, Pak Sunarto berharap agar jamur khususnya jamur konsumsi bisa lebih berkembang dan memasyarakat. “Berkembangnya tidak hanya dalam negeri saja, namun hingga ke luar negeri, kemudian cara budidaya jamur kalau bisa disertakan dalam kurikulum agar masyarakat bisa lebih mudah mengenal dan mengetahui seluk beluk budidayanya,” tambahnya. Harapan yang sepertinya menjadi harapan banyak pihak agar jamur makin dikenal dan menjadi salah satu pangan alternatif yang mengandung gizi tinggi.

Tim liputan bisnisUKM