Aneka jenis jamur konsumsi ternyata bisa dikembangkan menjadi berbagai produk makanan olahan jamur yang memiliki cita rasa tinggi. Jika selama ini masyarakat hanya mengenal keripik  sebagai produk olahan jamur, maka bagi seorang Hermawan (42), jamur bisa dikreasi menjadi aneka olahan makanan yang lezat dan memiliki nilai jual. Mengenal jamur pada tahun 2008, Pak Wawan begitu beliau biasa disapa bersama dengan istrinya Rr. Dani Martanti (27) mulai aktif mencoba resep-resep yang bisa diolah dengan bahan baku jamur segar. Alhasil, bisnis abon sapi yang semula dijalani pria asli Bantul tersebut mulai ditinggalkan dan mencoba menggantinya menjadi keripik jamur tiram.

Produk yang pada awalnya hanya sebagai bahan coba-coba tersebut ternyata mendapat sambutan positif dari masyarakat. Apalagi, keripik jamur hasil kreasi Pak Wawan berbeda dari keripik jamur kebanyakan yang telah terlebih dahulu beredar di pasaran. “Sebenarnya keripik jamur sudah marak di pasaran kala itu, namun saya tidak ingin menjadi pengekor saja dengan menciptakan produk yang sama, kemudian kami mengkreasinya menjadi keripik jamur dengan bentuk dan rasa yang berbeda dengan nama Keripik Jamur Tiram Cariza,” jelas Pak Wawan kepada tim liputan bisnisUKM Sabtu (1/10).

Namun, seiring makin derasnya permintaan, Pak Wawan saat itu mengalami kesulitan bahan baku jamur segar, terutama yang berasal dari sekitaran tempat tinggalnya di Sentolo Kulonprogo. Setelah mencari ke beberapa produsen jamur segar di Yogyakarta, akhirnya Pak Wawan menjalin kerjasama dengan Ibu Sri Lestari yang sudah dikenal lama sebagai produsen bibit dan jamur segar. “Setelah bertemu dengan Ibu Lestari, kami merasa dimudahkan dengan pengadaan bahan baku produksi, sehingga mulai saat itu kami menjadi partner bisnis (dengan Ibu Lestari) sampai sekarang,” jelasnya.

Keberhasilan mengkreasi keripik jamur tiram membuat Pak Wawan mulai mengembangkan berbagai resep jamur lainnya. “Saat ini kami bisa mengolah jamur menjadi aneka masakan olahan, seperti keripik jamur tiram dan kuping, krispi jamur tiram dan kuping, sate jamur, abon jamur, sup bola-bola jamur, pepes jamur, kerupuk jamur, roti jamur, dan aneka olahan lainnya” imbuh pria yang mengaku pernah menjadi koki di sebuah hotel tersebut. Aneka resep tersebut dikembangkan sendiri Pak Wawan dengan dibantu istrinya. Produk yang secara rutin diproduksi Pak Wawan adalah keripik jamur tiram, sementara untuk aneka olahan lainnya diproduksi sesuai dengan pesanan.

Olahan jamur terutama keripik jamur tiram selama ini dipasarkan ke beberapa swalayan dan melalui sistem reseller. “Biasanya kami pasarkan secara curah dengan harga Rp.55.000,00-Rp.70.000,00/ kg,” tambahnya. Dalam sehari (8 jam produksi), Pak Wawan mengaku bisa memproduksi 10-15 kg keripik jamur. Kapasitas tersebut akan meningkat dengan sendirinya ketika pesanan banyak yang datang. Dengan kondisi seperti saat ini, Pak Wawan bisa menghasilkan omzet penjualan rata-rata 2-3 juta/ minggu.

Hasil kreasi keripik jamur Pak Wawan juga mendapat pengakuan dari pemerintah terutama dari Dinas Pertanian. “Tahun ini (2011) keripik jamur produksi kami dipercaya untuk mengikuti pameran mewakili DIY di Jakarta melalui Dinas Pertanian dan mendapat apresiasi yang luar biasa dalam pameran tersebut,” jelas Pak Wawan. Tidak ada kendala berarti yang dialami Pak Wawan selama menjalankan bisnis aneka olahan jamur. Hanya saja, masalah klasik seperti permodalan diakui Pak Wawan sering menjadi ganjalan ketika ingin meningkatkan kapasitas produksi olahannya. Untuk itu, beliau berupaya memperbanyak mitra usaha agar mimpinya untuk memasarkan aneka olahan jamur terutama keripik ke seluruh wilayah di Indonesia bisa segera terwujud.

Di akhir wawancaranya, Pak Wawan mengaku tetap percaya diri dalam menghadapi segala macam persaingan usaha sejenis. Menurutnya, produk keripik jamurnya saat ini belum banyak diritu oleh orang lain, bahkan belum pernah beliau menemukan produk sejenis di pasaran. Selain itu, diharapkan jamur semakin dikenal dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Dengan begitu, secara otomatis pasar aneka jenis olahan jamur juga semakin terbuka lebar.


Tim liputan bisnisUKM