kerajinan fiberPengalaman bekerja sebagai tukang kayu dan buruh bangunan menjadi latar belakang Bapak Sujadi (51) memiliki bekal ketrampilan cukup untuk mendirikan Ary Souvenir. Usaha yang fokus memproduksi aneka produk berbahan baku fiber/ resin tersebut didirikan bapak empat orang putra itu pada tahun 1991. Beragam produk seperti lambang garuda pancasila, topi Belanda dan Inggris, serta miniatur pesawat terbang menjadi andalan Ary Souvenir yang kini memiliki 6 orang tenaga produksi.

Ditemui di rumahnya Rabu (25/5), Bapak Sujadi berujar jika pengalaman pekerjaan terdahulu menjadi motivasinya mendirikan usaha tersebut. “Bekal pendidikan saya yang hanya lulusan SMP kejuruan membuat saya berfikir pekerjaan apa yang cocok untuk saya tekuni, dan  setelah ikut bekerja bersama teman sebagai buruh bangunan dan tukang kayu, timbul ide untuk membuka usaha sendiri di bidang ketrampilan,” terang Bapak Sujadi kepada tim liputan bisnisUKM. Upah kerja sebagai buruh bangunan yang minim menjadi salah satu alasan Pak Jadi untuk berhenti dan lebih tertarik menekuni produksi ketrampilan berbahan baku fiber/ resin.

miniatur pesawatBerbekal peralatan yang masih sederhana (compressor, gerinda, alat gosok, selep/ poles, finishing boor, dll), Pak Jadi yang terjun langsung bersama karyawan bagian produksi mampu menghasilkan topi Belanda dan Inggris 250 pcs/ bulan. “Dalam sehari, satu orang tenaga produksi harus bisa memproduksi 2 pcs produk,” jelasnya. Di rumahnya Rejowinangun Kotagede, Pak Jadi selalu menekankan bahwa produk yang dihasilkan harus berkualitas dan berbeda dari yang lainnya. “Untuk mendapatkan pasar, maka sebisa mungkin produk yang kami hasilkan harus beda dari yang lainnya,” imbuh Pak Jati sambil mengerjakan produksi topi pesanannya.

Meskipun proses produksinya tergolong sulit, namun Ary Souvenir menawarkan aneka produknya dengan harga yang terjangkau. “Untuk topi Belanda dan Inggris, kami menawarkan harga Rp.55.000,00/ pcs; sementara untuk kerajinan kreatif miniatur pesawat terbang harganya Rp.10.000,00-Rp.60.000,00/ pcs,” tambah Pak Jadi. Dengan harga tersebut, dalam satu bulan Ary Souvenir mampu memperoleh omzet 10-15 juta Rupiah.

Proses Produksi Aneka Produk Fiber

pelaku usahaSecara sederhana, Pak Jadi membagi tahapan produksinya menjadi beberapa macam. “Untuk proses pertama pembuatan masternya terlebih dahulu, setelah itu dilanjutkan dengan pembuatan cetakan, kemudian produk dicetak sesuai dengan permintaan, produk yang sudah dicetak selanjutnya dihaluskan dan ditambal (dempul), kemudian digosok dan dicat, serta proses yang terakhir adalah finishing produk,” terangnya. Produk-produk jadi buatan Ary Souvenir kemudian dipasarkan ke pusat kerajinan Malioboro dan komunitas sepeda ontel yang kini menjamur di Yogyakarta.

produk fiberDiakui Pak Jadi, selama ini dirinya hanya fokus pada bagian produksi, sementara untuk urusan marketing semuanya diserahkan kepada putranya Sophi Karena bahan baku (fiber/ resin) yang mahal, maka Ary Souvenir hanya melayani pesanan dan jarang membuat stok produk. “Jadi seumpama stok yang ada pada langganan saya sudah habis biasanya mereka yang kontak kami, kemudian baru kita buatkan,” imbuhnya. Dengan sistem seperti itu, beliau bisa mengefektifkan tenaga kerja yang dimilikinya yang dirasa masih kurang untuk mencukupi permintaan pasar yang sangat tinggi.

Sebagai orang yang sudah banyak makan asam garam dunia usaha, Pak Jadi selalu menekankan  saling percaya dengan para pelanggannya. Selain itu, kepada karyawannya, beliau juga berpesan dalam bekerja harus rajin, teliti, dan disiplin yang tinggi. “Karena kebanyakan sudah bekerja dengan saya cukup lama, maka mereka sudah tahu apa yang saya mau,” jelas Pak Jadi sembari tertawa. Diakhir wawancaranya, Pak Jadi berharap bisa memiliki website yang akan memperkuat sistem pemasaran produk-produk kerajinannya.

Tim liputan bisnisUKM