Beberapa bidang pekerjaan pernah digeluti Sugiarso (42) yang beralamat di Palbapang Bantul. Mengawali usaha dengan menekuni dunia pigura lukisan dan foto, kemudian beralih dengan menjual bambu, sampai menekuni pembuatan aquarium pernah dijalani bapak yang satu ini. Dengan bermodal keyakinan, semangat berusaha, dan berdoa beliau menjalankan beraneka bisnis tersebut dengan senang hati. Namun karena berbagai pertimbangan, saat ini hanya usaha pigura lukisan dan foto yang masih menjadi andalan. Untuk usaha penjualan bambu sudah ditinggalkan, begitu juga dengan aquarium ikut rusak karena terkena dampak gempa bumi Jogja 2006.

Tahun 1992 menjadi awal Sugiarso merintis usaha piguranya. Namun kala itu proses pemasaran produk pigura dirasa sulit karena minat masyarakat yang masih rendah. Tidak ingin menyerah begitu saja, Sugiarso kemudian beralih menjadi penjual bambu. Dan dari segi penjualan, ternyata bambu lebih banyak memberikan pemasukan untuk Sugiarso saat itu. Banyak perajin kandang ayam yang menjadi langganan tetap bambunya. Namun trend positif bambu tersebut tidak berlangsung lama, kemudian Sugiarso memilih melanjutkan usaha piguranya untuk kembali dikembangkan.

Mengikuti trend bisnis ikan louhan yang berkembang di tahun 2000, Sugiarso kembali mengembangkan bisnis lainnya yaitu pembuatan aquarium. Dengan usaha aquariumnya tersebut,  Sugiarso juga memiliki kesempatan membuka showroom di Pasar Seni Gabusan Bantul. Usaha aquarium tersebut berjalan baik dan berjalan beberapa tahun sampai akhirnya banyak produknya yang rusak ketika terjadi gempa bumi Jogja 2006. Dengan kondisi seperti itu, Sugiarso kemudian  menjual aquarium-aquariumnya yang masih tersisa dan kembali menekuni usaha piguranya.

Usaha pembuatan pigura yang ditekuninya bisa bertahan sampai saat ini. Aneka pigura beragam ukuran dan bentuk diproduksi bapak satu orang putra ini dibantu seorang tenaga produksinya. Sugiarso terjun langsung dalam produksi pembuatan pigura-pigura tersebut karena sulit memperoleh tenaga kerja yang sesuai dengan yang diharapkan. Untuk pigura berukuran kecil, Sugiarso mengaku bisa memproduksi hingga ratusan setiap bulannya. Sementara untuk ukuran yang besar beliau melayani sesuai dengan pesanan. Harga pigura yang ditawarkan juga terjangkau, yaitu berkisar ribuan hingga jutaan sesuai dengan ukuran dan jenisnya.

Dengan peralatan yang cukup memadai, banyak instansi pemerintahan dan swasta lokal yang selama ini menjadi pelanggan pigura-pigura tersebut. “ Meskipun tidak rutin, namun pasti ada itu orderan pigura ukuran besar setiap bulannya”, kata Sugiarso kepada tim bisnisUKM. Dengan usaha piguranya tersebut, saat ini Sugiarso dan istrinya Rina mulai merintis usaha lain lagi yaitu kuliner. Warung makan dengan menu andalan bebek goreng saat ini sudah dalam proses finishing tempat usahanya. “Seperti subsidi silang, penghasilan yang kami peroleh dari pigura kemudian kami gunakan juga untuk membangun usaha warung kuliner,” tambah Sugiarso tentang usaha kulinernya.

Selama ini, Sugiarso tidak secara aktif melakukan pemasaran untuk produk piguranya. Hanya berbekal ‘gethok tular’ atau dari mulut ke mulut beliau yakin produk-produk tersebut masih diminati pasar. “Saat ini kami mengalir seperti ini saja, yang penting kuncinya disiplin dalam memenuhi pesanan dan dalam proses produksi,” lanjutnya sambil menutup wawancara sore itu (16/2).

(tim liputan bisnisUKM)