pusat oleh-olehRamainya lalu lalang kendaraan di musim lebaran, ternyata memberikan berkah tersendiri bagi para pedagang oleh-oleh. Biasanya, para pemudik sengaja mampir ke toko oleh-oleh untuk berburu buah tangan sebelum pulang ke kampung halaman. Kondisi inilah yang dimanfaatkan dengan baik oleh para pemilik toko oleh-oleh, sehingga tidak heran bila omset puluhan juta rupiah bisa mereka kantongi di musim libur lebaran.

Video Praktisi

Memaksimalkan Bisnis Berbasis Hobi, Asimetris Craft

Dari sekian banyak toko oleh-oleh yang kebanjiran pelanggan, kota Yogyakarta merupakan salah satu sentra oleh-oleh yang selalu ramai dikunjungi masyarakat. Selama musim libur lebaran tahun lalu, daerah Jl. Mataram (belakang Malioboro) mengalami kenaikan omset hingga mencapai empat kali lipat. Jika di hari-hari biasa para pedagang hanya mengantongi omset sekitar 3-4 juta/hari, maka di musim libur lebaran omset yang mereka dapatkan bisa melonjak tajam hingga mencapai Rp 12 juta per harinya.

Untuk menyiasati banyaknya permintaan selama musim libur lebaran, para pedagang sengaja mempersiapkan stok lebih banyak meskipun harganya sedikit mengalami kenaikan di setiap menjelang lebaran tiba. Beberapa makanan khas yang paling diminati pemudik antara lain bakpia Jogja, geplak, yangko, peyek tumpuk, tape ketan hitam, dan lain sebagainya. Untuk harga satu kotak bakpia Jogja, biasanya dibandrol dengan harga sekitar Rp 20.000 sampai Rp 30.000, sedangkan untuk geplak dihargai Rp 20.000 sampai Rp 26.000 per kg, dan kue yangko berada di kisaran harga sekitar Rp 12.000 sampai Rp 17.000 per kotaknya.bakpia

Selain peningkatan omset toko oleh-oleh di kota Gudeg (Yogyakarta), peningkatan jumlah pengunjung juga dialami pengelola toko oleh-oleh di Daerah Semarang. Dengan menawarkan produk unggulan seperti bandeng presto, lumpia semarang, serta wingko babat, para pengelola toko mendapatkan lonjakan transaksi hingga mencapai 50% dibandingkan hari-hari biasa. Bila di hari normal bandeng presto yang terjual sekitar 200-300 kg per hari, maka di musim lebaran penjualannya bisa meningkat dua kali lipatnya, yakni sampai 400 kilogram per hari.

Sedangkan untuk penjualan wingko babat yang biasanya hanya 50-100 pack per hari, di musim lebaran bisa melonjak hingga 150 pack per hari. Tidak hanya itu saja, para pedagang lumpia Mataram juga kebanjiran pesanan hingga 3x lipat. Jika biasanya bahan kulit yang dibutuhkan hanya sekitar 500 lembar, maka dimusim lebaran para produsen lumpia menaikan kapasitas produksi menjadi 1.500 lembar.

Tingginya lonjakan omset toko oleh-oleh di musim lebaran, menjadi bukti nyata bagi kita semua bahwa peluang bisnis ini menjanjikan keuntungan yang cukup besar. Jadi, tidak menutup kemungkinan bila Andapun bisa mendapatkan untung besar dengan menekuni peluang bisnis lebaran ini.

Semoga informasi berita bisnis yang berjudul “Menjelang lebaran toko oleh-oleh diserbu pemudik” ini bisa memberikan manfaat bagi para pembaca dan menginspirasi seluruh masyarakat Indonesia untuk segera bergerak memanfaatkan peluang bisnis lebaran sebaik-baiknya. Maju terus UKM Indonesia dan salam sukses.

Sumber gambar :
1. http://www.solopos.com/dokumen/2011/06/PUSAT-OLEH-OLEH_BUR1.jpg
2. http://trulyjogja.com/images/Image/oleh2/dalembakpia.jpg