Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) D.C.) merupakan salah satu tanaman dari suku polong-polongan (fabaceae) yang merupakan bagian dari ordo fabales. Kecipir berasal dari indonesia bagian timur. Tanaman kecipir termasuk tanaman yang mudah di tanam di manapun, di hampir seluruh daerah nusantara. Sehingga tidak heran tanaman ini memiliki beberapa nama di tiap daerah, antara lain di Sumatera dikenal sebagai kacang botol atau kacang belingbing, kacang embing (Palembang), jaat (Sunda), kelongkang (Bali), cipir (Jawa Tengah dan Jawa Timur), kaceper (Madura), serta biraro (Ternate).

Video Praktisi

Menyiasati Persaingan Bisnis PaperOn

Tanaman kecipir merupakan tanaman tahunan, tumbuh menjalar di atas tanah atau merambat pada tanaman lain, bunganya mampu menyerbuk sendiri. Tanaman ini merupakan tanaman pangan multimanfaat. Daun, bunga, polong muda, biji, dan umbinya biasa diolah menjadi bahan makanan kaya zat gizi.

Seperti bunga gambas dan bunga turi, bunga kecipir juga enak dimakan mentah sebagai salad atau lalap, direbus, maupun digoreng. Rasanya enak seperti jamur. Bunganya dapat diolah menjadi bumbu, rempah-rempah, permen, dan bahan pewarna alami. Protein bunga kecipir (5,6 g) lebih besar dari jantung pisang (1,6 g) dan bunga gambas (1,3 g) per 100 gramnya.

Daun kecipir konon dapat digunakan sebagai obat sakit mata, sakit telinga, dan bisul. Daun, khususnya yang berwarna hijau gelap kaya akan provitamin A. Proteinnya (5,07,6 g) lebih tinggi dari daun singkong (6,9 g), bayam (3,6 g), daun talas (4,1 g) per 100 gramnya.

Umbi kecipir rasanya agak manis, daging berwarna putih gading, berserat kokoh seperti apel, tetapi berbau kurang sedap. Protein umbinya (10,9 g) lima kali lebih tinggi dari kentang dan gadung serta ubi jalar dan sepuluh kali dari protein ganyong.

Polong muda dapat dimakan mentah (sebagai lalap), direbus, atau dicampur sayuran lain sebagai sayur asam, sayur lodeh, urap, karedok, pecel, gado-gado. Juga dapat diolah dengan cara ditumis atau dioseng. Di Bangladesh, polong muda digoreng dan dimakan dengan ikan atau daging.

Seratus gram polong muda mengandung vitamin A (340-595 SI), zat besi (0,2-12,0 mg), vitamin C (21-37 mg), serta vitamin dan mineral penting lain. Sebagai sayuran, polong muda tak hanya unggul dalam gizi, cita rasanya juga khas.

Biji kecipir tua komposisi gizinya paling baik, meski lebih banyak digunakan sebagai benih ketimbang bahan pangan. Mengandung protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral cukup tinggi dibanding polong muda, umbi, dan daunnya.

Protein dan karbohidrat biji kecipir bahkan mengungguli kacang tanah dan hampir setara kacang kedelai. Biji kecipir mengandung protein sangat baik. Asam aminonya hampir sama dengan kedelai, sumber protein nabati paling baik. Namun, protein pada biji kecipir juga kekurangan asam amino seperti sistein, methionin, triptofan, sehingga pemanfaatan protein oleh tubuh kurang efisien.

Biji kecipir kaya akan asam amino lisin, mencapai 413-600 mg per 100 g N, sedangkan pada kedelai hanya 399 mg per 100 g N. Asam amino lisin berperan penting dalam proses pertumbuhan. Kandungan lisin pada biji kecipir dapat dipakai untuk menutupi kekurangan lisin pada bahan pangan pokok, seperti beras, jagung, dan umbi-umbian. Karena itu, biji kecipir sangat baik sebagai lauk berbagai hidangan.

Salah satu produk olahan yang tepat untuk biji kecipir adalah produk tauco. Tauco merupakan salah satu jenis produk fermentasi yang telah lama dikenal dan disukai oleh sebagian masyarakat Indonesia. Karena tauco memiliki rasa dan aroma yang khas maka tauco sering digunakan pula sebagai flavoring agent.

Tauco adalah bumbu makanan berfungsi sebagai penyedap masakan karena bau dan rasanya yang khas. Tauco berbentuk pasta yang berwarna kekuning-kuningan, rasanya agak asin. Biasanya tauco dibuat dari biji kedelai (Glycine max) tetapi kali ini di buat dari bahan dasar biji kecipir. Penasaran bagaimana rasanya? Mau tahu bagaimana cara pengolahannya? Berikut ini disampaikan cara pengolahan tauco dari biji kecipir.

Bahan

  1. Biji kecipir 2 kg
  2. Jamur tempe 100 gram
  3. Garam dapur 5 kg
  4. Gula merah 500 gram
  5. Kecap, ebi (udang kering), poka (bumbu kecap) kayu manis, dan daun salam secukupnya
  6. Air 21 liter

Alat

  1. Drum atau tong kayu
  2. Tampah (nyiru)
  3. Ayakan
  4. Panci
  5. Rak penjemuran
  6. Sendok kayu
  7. Tungku atau Kompor
  8. Kain Saringan atau kain blacu
  9. Rak botol
  10. Corong
  11. Botol dan tutup yang sudah disterilkan

Cara Pembuatan

  1. Bersihkan biji kecipir kemudian rendam selama satu hari (24 jam), lalu rebus sampai lunak (+ 1~2 jam);
  2. Kupas kulit biji kecipir, lalu kukus selama 1 jam kemudian tiriskan dan dinginkan;
  3. Setelah itu lakukan peragian dengan jamur (bibit) tempe, Aduk hingga rata dan peram pada suhu kamar (25 0 ~30 0 C) selama 3~7 hari sampai seluruhnya ditumbuhi jamur (kapang);
  4. Jemur biji kecipir yang telah berjamur tersebut sampai kering. Hasil penjemuran ini disebut bungkil tauco;
  5. Rendam bungkil tauco dalam 20 liter air yang telah diberi garam (5 kg). Diamkan rendaman ini pada suhu kamar (25 0 ~30 0 C) selama 10~20 hari;
  6. Masukkan gula merah, ebi atau udang kering, poka, kayu manis, dan daun salam ke dalam rendaman tersebut, lalu masak hingga menjadi bubur;
  7. Jemur hingga menjadi pasta dan masukkan ke dalam botol yang sudah disterilkan.

Catatan:
Pemberian ragi yang kurang atau lebih, dapat membuat hasil tauco kurang sempurna

(Sumber gambar: http://cybertravel.cbn.net.id/UserFiles/Image/cybermed/Healthy%20Food/juli08/kecipir.jpg)