Pelatihan Kemasan Makanan dan Label Produk Oleh Kadin Jateng

Keterbatasan akses informasi dan pemahaman tentang kemasan di tingkat pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) masih sangat rendah di Indonesia. Begitu juga di Jawa Tengah masih banyak pelaku UKM yang terkendala dengan masalah kemasan makanan dan label produk olahan.

Dikatakan praktisi Thomas Ghozali, kemasan sangat penting dalam mendongkrak kualitas produk dan pemasaran. “Berdasarkan hasil survey 80% pengunjung, konsumen membeli sesuatu secara spontan karena melihat kemasan,” ujarnya dihadapan puluhan peserta pelatihan Kemasan dan Label Makanan Olahan yang diadakan Edukadin Kadin Jateng bekerjasama dengan Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementrian Perdagangan, di Gedung JDC, kemarin.

Lanjut dia, banyak pelaku UKM yang belum memahami pentingnya pengukuran kuantitas produk yang dikemas. Demikian pula dengan pemasangan label kemasan yang berisikan identitas produk. Akibatnya, produk yang dihasilkan UKM tersebut tidak punya daya saing untuk pasar global. “Apalagi nanti saat AFTA 2015, produk dari negara ASEAN masuk ke Indonesia, kita harus bebenah,” ujarnya.

Jika pelaku UKM tidak mulai membebani produknya mulai dari, kemasan produk, pemasaran produk, standar dan persyaratan kemasan (Kemasan Produk di Indonesia & Kemasan Produk untuk Ekspor), label informasi kemasan, barcoding, desain kemasan produk, bisa jadi pelaku UKM hanya menjadi penonton saja.

“Saya berharap pelaku UKM di Jateng ini bisa segera bebenah. Sudah ada regulasinya, di UU Pangan no 7 tahun 1996 tentang perlindungan pangan dimana produk atau kemasan tidak diperbolehkan jika mengeluarkan cemaran yang membahayakan,” tegas dosen IPB ini.

Faktor penting fungsi kemasan kata dia, harus memperhatikan faktor pengamanan, faktor ekonomi, faktor pendistribusian, faktor komunikasi, faktor ergonomi, faktor estetika dan faktor identitas.

“Salah satu syarat penting labeling adalah kejujuran, pada kemasan harus mencantumkan syarat label ketentuan produksi. Karena dengan kemasan yang baik akan membuat sebuah opini di konsumen bahwa produk pangan tersebut diolah melalui mekanisme pengolahan,” tegasnya juga menjelaskan terkait teknologi kemasan makanan dan minuman kepada peserta pelatihan.

Sementara itu Kabid Komunikasi Bisnis Kadin Jateng Sri Gendari Agustini mengatakan diharapkan dengan pelatihan kemasan makanan dan label produk ini peserta dapat mengetahui peran kemasan dalam pemasaran produk serta mengetahui standar dan persyaratan kemasan Indonesia. “Peserta dapat mengetahui dasar-dasar produksi kemasan produk, apalagi menghadapi AFTA mendatang,” ujarnya.

Untuk diketahui pelatihan Kemasan dan Label Makanan Olahan ini diadakan selama 3 hari mulai 3-5 September 2016. Di hari kedua diisi oleh praktisi Eddy Syahbudi dengan materi label kemasan makanan dan minuman, barcoding, studi kasus. Hari ketiga diisi oleh Hendriana W dengan materi desain kemasan makanan dan minuman yang baik, konsultasi desain kemasan. Selama pelatihan berlangsung peserta juga diajak berdiskusi dan melakukan evaluaasi kemasan makanan yang mereka miliki.

Sumber Tulisan:
kadinjateng.com