Aneka-Motif-Batik-Jumput-BatikanPada hari Rabu (25/7), tim bisnisUKM berkesempatan mengunjungi salah seorang produsen batik jumput yang ada di kampung Batikan Yogyakarta. Beliau adalah Dra. Tuliswati Sandhi (47), yang mulai mengenal dan memproduksi batik jumputan pada akhir tahun 2010. Alumni Fakultas Filsafat Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta tersebut sesungguhnya telah memiliki dasar hobi menjahit sejak masa kuliah. Namun, fokus dalam menekuni dan menjalankan bisnis batik jumputan baru dilakoninya setelah mengikuti pelatihan pada tahun 2010.

“Setelah mengikuti pelatihan waktu itu saya berupaya memperkenalkan dan berbagai ilmu kepada ibu-ibu yang ada di Kelurahan Tahunan terkait batik jumputan, terutama mengenai proses produksi serta motif-motifnya,” ujar Ibu Tuliswati di rumah produksinya. Respon positif dari sebagian besar ibu-ibu tersebut ternyata mendapat dukungan pula dari Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Kelurahan Tahunan. Alhasil LPMK Kelurahan Tahunan memfasilitasi semangat dari para ibu-ibu tersebut dalam bentuk dana serta pelatihan batik jumput pada awal tahun 2011.

Selama empat hari, sekitar 22 orang ibu-ibu yang seluruhnya memiliki basic ilmu menjahit mengikuti arahan dari Ibu Tuliswati tentang proses produksi batik jumput. Dari situlah, Ibu Tulis mulai membangun paguyuban ‘Batik Jumput Batikan’ yang fokus memproduksi dan memasarkan batik aneka motif batik jumputan. “Dari awalnya 22 orang, saat ini yang masih bertahan dan berkomitmen dengan kami ada 15 orang, mereka rata-rata memproduksi batik jumput di rumah masing-masing untuk kemudian di setor ke sini (sekretariat) setelah jadi,” imbuh Ibu Tuliswati.

Kini, puluhan motif batik jumput telah mampu dikreasi oleh Ibu Tulis dan rekan-rekannya. Bahkan Batik Jumput Batikan saat ini diperkenalkan sebagai salah satu ikon pemberdayaan masyarakat Kelurahan Tahunan. “Tidak hanya dari pihak kelurahan dan kecamatan, batik jumput kreasi kami juga diapresiasi dan diborong oleh GKR Hemas serta beberapa pihak lain, menurut mereka batik ini memiliki karakter motif yang kuat serta warnanya juga unik,” tambahnya. Untuk menjaga kualitas serta mutu produknya, Ibu Tuliswati senantiasi menggunakan bahan baku serta pewarnaan yang bagus.

“Bahan baku yang biasa kami pakai antara lain primisima, dolbi, mori katun paris dan sutra, sementara untuk pewarnaan menggunakan pewarna indigosol dan naptol karena tidak gampang luntur,” kata ibu dua orang putra tersebut. Dibutuhkan minimal waktu 3 hari untuk mengerjakan batik jumput hingga siap dipasarkan. Dalam hal ini cuaca menjadi faktor penting yang berpengaruh, terutama ketika proses pengeringan (penjemuran). Kendati demikian, Ibu Tuliswati dan rekan-rekannya dalam sebulan rata-rata mampu memproduksi 70 potong kain.

Perkembangan Bisnis Batik Jumput Batikan

Tidak hanya kain, Batik Jumput Batikan juga membuat selendang, mukena, baju batik, serta produk aplikasi dari sisa-sisa kain, yang semuanya bernuansa batik jumput. Harga yang dipatok untuk kreasi batik jumput mereka juga terhitung cukup terjangkau, yakni Rp150.000,00 s.d. Rp250.000,00 per potongnya (2 meter). “Harga sebenarnya terhitung relatif, tergantung bahan baku yang digunakan, pewarnaan, serta motifnya, namun berapapun itu kami selalu menjaga dan mempertahankan kualitas produk kami,” jelas Ibu Tuliswati.

Diakui oleh Ibu Tuliswati jika keuntungan dalam menjalankan usaha ini cukup menggiurkan. Dalam satu potong produk kain saja mereka mampu mengantongi keuntungan hingga 100% dari biaya produksi. “Rata-rata dalam sebulan kami bisa memperoleh omzet 5 juta Rupiah,” akunya. Keuntungan tersebut selain untuk kesejahteraan anggotanya juga digunakan untuk membeli/ kulakan bahan baku. Internet (social media), pameran, serta reseller menjadi media pemasaran yang selama ini Batik Jumput Batikan jalankan. Tidak ketinggalan pula beberapa pelatihan yang beliau ikuti juga menjadi salah satu ‘ladang pasarnya’.

Selama melakoni usaha ini, Ibu Tuliswati tidak ‘pelit’ berbagai ilmu dengan pihak-pihak yang ingin belajar batik jumputan. Beliau sering didaulat menjadi pemateri untuk memberikan pelatihan produksi batik jumput di berbagai tempat. “Sebenarnya ada semacam kekhawatiran dari para anggota yang lain ketika saya memberikan pelatihan di beberapa tempat, mereka khawatir jika hal tersebut nantinya justru menjadi pesaing dalam bisnis yang sama, tetapi saya selalu berprinsip jika rejeki sudah ada yang mengaturnya sendiri,” ujarnya ibu asli Banyuwangi tersebut.

Di akhir wawancaranya, Ibu Tuliswati berharap ke depannya Batik Jumput Batikan bisa makin berkibar dengan motif dan kreasi yang lebih bervariasi. Selain itu, untuk memudahkan akses pemasarannya beliau juga berkeinginan untuk memiliki showroom di lokasi yang strategis agar bisa menampung karya-karya Batik Jumput Batikan.

Tim liputan bisnisUKM