Usia pensiun tidak membatasi seseorang untuk berhenti berkarya dan mengembangkan sebuah usaha yang memiliki pangsa pasar luas. Hal itulah yang coba dijalankan Bapak Sabar Muli Manik (55) dengan memulai menjalankan usaha budidaya jamur pada Bulan Agustus 2010. Setelah mengabdikan diri pada perusahaan minyak negara selama 23 tahun, Pak Manik mengembangkan jiwa entrepreneurnya dengan menekuni usaha ternak ayam dan budidaya ikan. Namun, karena memiliki resiko usaha yang tinggi, suami dari Ibu Kuswanti (55) tersebut menjatuhkan pilihannya untuk menekuni bisnis budidaya jamur. Berlokasi di Pakem Sleman, Pak Manik memiliki sebuah kumbung jamur berukuran 7 m x 10 m yang berkapasitas 5.000 buah baglog.

Ditemui di kumbungnya Sabtu (16/7), Pak Manik yang ditemani istrinya mengungkapkan awal mula menjadi seorang petani jamur. “Mengembangkan budidaya jamur itu tidak membutuhkan modal yang besar dan memiliki resiko kerugian yang kecil, serta berbanding lurus dengan tingkat konsumsi masyarakat yang semakin tinggi,” terang ayah dari 2 orang putri tersebut. Atas dasar itulah, Pak Manik berinisiatif untuk bertanya langsung kepada para petani jamur yang sudah berpengalaman mengenai seluk beluk proses budidayanya. Bahkan beliau mengakui sempat beberapa waktu magang di lokasi pertanian jamur milik rekannya untuk makin memperdalam ilmu budidaya jamur.

Dibantu oleh Ibu Kuswanti, Pak Manik setiap hari dengan tekun merawat dan mengikuti alur perkembangan jamur miliknya. Menurutnya, proses perawatan (budidaya) jamur itu mudah, namun butuh ketekunan dan ketelatenan dalam menjalankannya. “Secara teknis cukup mudah, namun akan terasa sulit kalau hanya sekedar dijadikan usaha sambilan, karena ‘bermain’ dengan jamur harus tekun dalam hal perawatannya,” imbuh Pak Manik. Menurutnya, yang perlu mendapat perhatian adalah kebersihan kumbung dan pengaturan kelembapan di dalam kumbung. “Jamur itu termasuk sensitif terhadap kelembapan dan suhu, sehingga seorang petani harus jeli menyesuaikan kondisi tersebut agar jamur bisa menghasilkan produksi maksimal,” terangnya.

Selain suhu dan kelembapan, beberapa hama serangga juga menjadi ‘musuh’ para petani jamur kebanyakan. “Semut dan merutu/ kepik menjadi masalah lain yang sering dijumpai para petani jamur, untuk semut biasanya karena kondisi kumbung yang tidak bersih sehabis panen, sementara merutu kerap bertelur di sela-sela lipatan dan memakan daun jamur,” jelas Pak Manik. Sehingga, kebersihan kumbung dan jeli memperhatikan perkembangan pada jamur menjadi hal yang sangat penting dilakukan.

Untuk kumbung miliknya, isinya saat ini didominasi jamur tiram dan beberapa jamur kuping. Media tanam (baglog) dibeli dari para pembibit yang ada di Yogyakarta seharga Rp.1.500,00-Rp.1.750,00/ baglog. “Saat ini kumbung kami isi penuh (5.000 baglog) dengan jamur tiram dan sedikit jamur kuping, hingga bisa menghasilkan 15-20 kg jamur setiap harinya,” tambah Pak Manik. Hasil dari produksi Jamur Tiram dan Jamur Kupingnya tersebut kemudian dipasarkan ke para pedagang yang ada di Pasar Pakem Sleman. “Sebenarnya ada beberapa rumah makan/ restoran yang mengajukan kerjasama dengan kita (untuk membeli jamur), namun karena kapasitas produksi yang belum mencukupi, maka kami belum menyanggupinya,” kata Ibu Kuswanti. Hal itu menjadi sebuah indikasi meskipun ‘pemain’ jamur saat ini cukup melimpah, namun peluang pasarnya masih sangat terbuka lebar.

Dengan harga jual Rp.6.500,00-Rp.7.000,00/kg, mereka mengaku bisa memperoleh keuntungan 35% per 3 bulan untuk 1.250 baglog. Untuk meningkatkan nilai jualnya, Ibu Kuswanti juga mulai memasarkan keripik jamur tiram. Beliau berujar jika keripik jamur buatannya sudah dipasarkan sampai ke wilayah Banyumas. “Olahan jamur makin berkembang seiring makin banyaknya rumah makan yang menyajikan masakan dari jamur sebagai menu andalan mereka, misalnya sate, tongseng, nughet, burger, abon, dll,” ujar Ibu Kuswanti. Bahkan untuk jamur lain seperti Jamur Ling Zhie, Jamur Shiitake, Jamur Kuping mulai diolah menjadi bahan baku obat herbal.

Banyaknya produk turunan dari jamur memberikan sebuah peluang usaha yang masih sangat terbuka untuk mengembangkannya. Pak Manik yang berkeinginan mengembangkan usaha jamur di kampung halamannya (Medan) menuturkan pentingnya menjaga kualitas produksi jamur dan harus serius dalam mengelolanya. Di akhir wawancaranya, beliau berharap bisa terus belajar dan menyempurnakan tahapan budidaya jamur miliknya. Selain itu dalam jangka panjang bisa mengembangkan proses pembibitan sendiri serta memperkaya inovasi aneka olahan jamurnya.


Tim liputan bisnisUKM