Potensi Lobster AcehWilayah pesisir di Propinsi Nagroe Aceh Darussalam (NAD) mempunyai panjang garis pantai 1.660 km, dengan luas wilayah perairan laut seluas 295.370 km² terdiri dari laut wilayah (perairan teritorial dan perairan kepulauan) 56.563 km² dan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 238.807 km².

Video Praktisi

Kunci Pemasaran Bisnis Kuliner Roti van Java

Hampir di seluruh kabupaten yang terdapat di Provinsi NAD dikelilingi oleh perairan dan berbagai hasilnya, baik perikanan baik tangkap maupun budidaya. Luas lahannya mencapai  ±12.014 ha, tersebar mulai di Sabang, Aceh Besar, Aceh Barat, Aceh Selatan, Simeulue dan Pulau Banyak (Aceh Singkil).

Pengembangan budidaya laut ini didukung juga oleh sebaran luas terumbu karang di Nad seluas ±274.841 ha. Tersebar mulai dari Sabang, Aceh Besar dan pantai barat selatan Aceh. Beberapa potensi perikanan yang bisa dikembangkan di Aceh antara lain adalah budidaya laut untuk jenis komoditi rumput laut, kerapu, kakap dan lobster.

Pengembangan Budidaya Lobster

Salah satu potensi alam yang cocok untuk dikembangkan di NAD adalah pengembangan lobster. Lobster merupakan salah satu komoditi unggulan NAD dari sektor perikanan. Masyarakat dan investor mulai bergairah membudidayakan komoditi tersebut.

Saat ini masyarakat nelayan di NAD sudah membudidayakan dengan menggunakan kerambah dan hasilnya diekspor melalui Medan, Sumatera Utara disamping menangkap lobster langsung di laut.

Bahkan ada salah pengusaha yang membeli sebuah pulau kecil di daerah itu untuk dijadikan tempat budidaya lobster. Di sekitar pulau tersebut ditabur bibit lobster dalam jumlah besar dan udang tersebut tidak akan ke mana-mana sehingga ketika usianya sudah cukup, mereka tinggal memanen.

Jumlah produksi lobster di Provinsi NAD pada tahun 2005 saja sudah mencapai 123,0 Ton (Dinas Perikanan Prov. NAD). Dalam satu minggu diperkirakan ada 15 ton lobster yang dikirim ke Medan dengan menggunakan pesawat untuk kemudian diekspor ke negara tujuan.

Harga lobster bervariasi sesuai jenisnya. Di tingkat pedagang pengumpul, lobster jenis batu mencapai Rp120 ribu/kg dan jenis bambu Rp140 ribu/kg. Dan komoditi ini sudah termasuk komoditi yang diekspor yang tentunya harganya akan semakin tinggi.

Dengan melihat potensi lahan yang siap dan sudah dikembangkan, suatu saat NAD bisa menjadi sentra produksi lobster besar. Hal ini terlihat dari sudah adanya beberapa investor yang membudidayakan lobster ini dalam skala besar.