Bagi Anda yang hobi ngemil pasti tidak asing lagi dengan produk camilan yang satu ini. Manggleng/ menggleng/ grosok menjadi camilan yang cocok untuk menemani waktu santai bersama keluarga. Rasanya yang gurih dan renyah menjadikan makanan berbahan baku ketela pohong tersebut banyak digemari berbagai kalangan. Hal itulah yang diakui oleh Ibu Nur Widatik  (38) yang sejak tahun 1996 menekuni produksi camilan menggleng. Menurut Ibu dua orang putri tersebut, manggleng bisa menjadi menu camilan yang bisa dinikmati kapan saja dan dimana saja berada.

Ditemui di rumahnya Kamis (17/3), Ibu Nur menuturkan awal mula menekuni bisnis camilan manggleng tersebut ketika masih berada di Muntilan. Waktu itu, Ibu Nur sering melihat dan menikmati manggleng buatan ibunya yang renyah dan enak. “Sering ibu membuat manggleng untuk camilan keluarga di rumah, karena rasanya yang renyah dan enak maka saya mencoba untuk belajar tentang proses pembuatannya,” kata Ibu Nur. Berbekal resep warisan ibunya tersebut, kemudian Ibu Nur memberanikan diri untuk memproduksi dan menawarkan manggleng ke beberapa rekannya. Respon positif yang diterima Ibu Nur terhadap mangglengnya tersebut menjadi titik awal beliau untuk fokus dan menekuni usaha memproduksi manggleng.

Diakui Ibu Nur, memproduksi camilan seperti manggleng sangat tergantung dari cuaca. Hal tersebut karena dalam proses pengeringannya menggunakan cahaya matahari. “Ketika cuaca panas, kami biasa memproduksi 20-25 kg, namun ketika hujan seperti akhir-akhir ini, kami hanya memproduksi 10-15 kg setiap harinya,” terang Ibu Nur ditemani salah seorang tenaga produksinya. Menggunakan nama “RENA” yang berarti renyah dan enak sebagai label produknya, Ibu yang juga membuka usaha kos-kosan tersebut saat ini mengaku kualahan dalam memenuhi permintaan konsumennya. Meskipun tidak melakukan pemasaran secara aktif, namun produk manggleng “RENA” saat ini sudah memiliki pelanggan yang rutin membeli camilan tersebut setiap harinya. “20 bungkus dibawa suami ke rekan kerjanya, sementara di rumah juga sudah antri 7 orang penjual yang rutin mengambil manggleng dari kami, dan itu rutin setiap hari,” imbuh Ibu Nur.

Saat ini di rumahnya Gunungketur Yogyakarta, Ibu Nur dibantu seorang tenaga produksinya mulai memproduksi manggleng dari pagi sampai sore hari. Ketela pohong sebagai bahan bakunya beliau beli dari Pasar Ketela Karangkajen setiap 2 hari sekali sebanyak 50 kg. Proses produksinya, ketela pohong tersebut awal mulanya dikupas lalu dikukus. Ketela yang sudah dikukus kemudian diiris manual dengan pisau tipis-tipis. Setelah itu dilakukan penjemuran, baru dilakukan penggorengan. Bumbu yang digunakan juga sederhana, berupa bawang dan garam. Dari hasil penggorengan itu, manggleng-manggleng kemudian dikemas dengan menggunakan plastik ukuran ¼ kg sampai 3 kg.

Dengan harga jual Rp.5.000,00 per ¼ kg, Ibu Nur mengaku bisa meraih omzet per bulannya sebesar Rp.2.500.000,00. Dan untuk kedepannya, beliau berharap bisa meningkatkan kapasitas produksinya agar mampu memenuhi permintaan produk mangglengnya yang makin meningkat. Dan ternyata, untuk bisa sukses kita tidak perlu menghasilkan produk yang muluk-muluk, terbukti dengan produk sederhana seperti manggleng, Ibu Nur bisa bertahan dan tetap eksis sampai saat ini.

Tim liputan bisnisUKM