Sale pisang merupakan salah satu kekayaan kuliner khas Indonesia yang digemari berbagai lapisan masyarakat. Rasanya yang manis plus gurih, membuat sale pisang cocok dijadikan hidangan camilan dikala santai ataupun buah tangan untuk orang-orang terdekat. Ciamis, Banyumas, Pacitan, dan Purwodadi, merupakan beberapa sentra produksi yang menjadikan sale pisang sebagai salah satu icon kuliner daerahnya. Namun, meskipun sama-sama sale pisang, rasa dan karakter dari tiap daerah tersebut memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Ciamis dan Banyumas lebih populer dengan sale pisang keringnya, sementara untuk Pacitan dan Purwodadi terkenal dengan sale pisang basah.

Masing-masing jenis sale (kering maupun basah) dapat dengan mudah dibedakan dari kemasan maupun cita rasanya. Sedangkan untuk urusan rasa, kedua jenis sale tersebut dijamin mampu menggoyang lidah orang yang menikmatinya. Belum lama ini, tim liputan bisnisUKM sempat mengunjungi salah seorang produsen sale pisang khas Purwodadi, yang berada di Dusun Karang Asem, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan. Dibutuhkan waktu kurang lebih 2 jam perjalanan dari pusat Kota Purwodadi untuk bisa sampai ke lokasi tersebut. Akses jalan yang kurang mendukung menjadi salah satu faktor lamanya waktu perjalanan yang ditempuh.

Di wilayah tersebut, terdapat beberapa produsen yang menggantungkan hidupnya dari memproduksi dan berjualan sale pisang. Salah satunya adalah pasangan suami istri Bapak Sukardi (56) dan Ibu Narti (58). Ditemui di rumahnya, Jumat (9/3), Bapak Sukardi menjelaskan awal mula mengembangkan usaha produksi sale pisang tersebut. “Usaha ini kami rintis sejak tahun 1983, dimana waktu itu ada tetangga kami yang punya usaha semacam ini (sale pisang), namun tidak sanggup untuk mengembangkannya, alhasil kamilah yang kemudian mengembangkan dan melanjutkan usaha tersebut,” terang pensiunan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Grobogan itu.

Info Bisnis Sale Pisang Rizky

Mengusung Sale Rizky sebagai nama produknya, Bapak Sukardi yang dibantu istri dan 5 orang tenaga produksinya, memproduksi sale pisang basah berbahan baku pisang Ambon dan pisang Raja. Proses produksinya terbilang cukup lama, karena masih mengandalkan cara alami dalam pengeringannya. “Tidak ada perlakuan khusus, pisang yang utuh kami keringkan di bawah sinar matahari langsung selama kurang lebih 2 minggu, itupun kalau kondisi cuacanya bagus, kalau seperti saaat ini, pengeringannya akan lebih lama lagi,” jelasnya.

Bahan baku yang digunakan (pisang Ambon dan pisang Raja) tidak sulit untuk didapatkan. Sale Pisang RizkyNamun, harga yang cenderung terus mengalami kenaikan menjadi sesuatu hal yang cukup mempengaruhi produksi usaha tersebut. “Bahan baku kami dapatkan langsung dari pasar, saat ini pisang Raja harganya Rp.7.000,00/ sisir, sementara pisang Ambon harganya Rp.10.000,00/ sisir,” imbuh bapak dua orang putra itu. Kondisi demikian membuatnya harus pandai dalam mengatur harga jualnya, supaya tidak mengalami kerugian produksi.

Saat ini, harga jual sale pisang produksi Bapak Sukardi adalah Rp.7.500,00/ bungkus untuk pisang Ambon, dan Rp.4.500,00/ bungkus untuk pisang Raja. Sale pisang tersebut dipasarkan ke beberapa toko oleh-oleh yang ada di Purwodadi. Menurut pengakuannya, ada 7 toko oleh-oleh yang selama ini menjadi langganan sale pisang Rizky. Dalam sekali order, toko-toko tersebut biasanya memesan sebanyak 100 bungkus Sale Pisang, dimana tiap bungkusnya berisi 10 buah sale.

Keunggulan sale pisang kreasi Bapak Sukardi adalah tidak adanya bahan pengawet yang digunakan. Jadi, rasa manis dan gurih yang ada dalam sale pisang itu murni kombinasi rasa alami dari pisang yang digunakan. Meskipun tanpa bahan pengawet dalam proses produksinya, sale pisang tersebut sanggup bertahan selama 3 bulan.

Pengalaman bertahan puluhan tahun dalam produksi sale pisang membuat Bapak Sukardi tidak memiliki keinginan untuk beralih profesi menekuni bidang lain. Meskipun di daerahnya (Karangasem Wirosari) banyak bidang usaha lain yang mungkin saja bisa ditekuni, seperti peternakan, produksi batu bata, genting, dan tahu. Di akhir wawancaranya, Bapak Sukardi berharap adanya perhatian pemerintah daerah setempat terkait usahanya maupun usaha lain yang ada di wilayah Desa Karangasem. Disamping itu, akses jalan satu-satunya menuju lokasi Desa Karangasem yang tidak layak,  sering mengganggu mobilitas operasional usaha kecil seperti miliknya.

Tim liputan bisnisUKM