Stik Talas Mbak Tum, Produksi 200 kg Keladi Per Hari

Owner Stick Talas Mbak TumDirintis sejak delapan tahun yang lalu oleh pasangan suami istri, Waris (38) dan Tuminah (35), camilan keripik talas yang diberi merek Stick Talas Mbak Tum ini tak hanya melegenda di kalangan masyarakat Pontianak namun juga mampu meraih berbagai macam penghargaan lokal maupun nasional.

Ditemui tim liputan BisnisUKM.com di kediamannya yang terletak di Siantan Hulu, Pontianak Utara beberapa waktu yang lalu, Tuminah menuturkan saat ini camilan stick talas buatannya telah berkembang menjadi berbagai macam pilihan rasa, seperti rasa balado, asin (original), dan keju.

“Saya dan suami selalu mengandalkan inovasi dalam pembuatan produk. Sekarang kami juga sudah mempunyai ijin usaha Perusahaan Perorangan (PO),” jelasnya.

Tak hanya dipasarkan di beberapa warung yang ada di sekitarnya, Tuminah memiliki pelanggan tetap yang selalu memesan Stick Talas Mbak Tum dalam jumlah besar. Sebut saja seperti Supermarket Kaisar, Supermarket Harum Manis, Toko Oleh-oleh di samping Supermarket Kaisar, serta Toko A Min di lokasi wisata kuliner kawasan Keboen Sajoek Pontianak.

Baca Juga Artikel Ini :

Peluang Bisnis Olahan Talas Omzetnya Terus Menetas

Bisnis Plan Keripik Talas

Setelah delapan tahun berdiri, segudang prestasi pun pernah mereka raih. Diantaranya adalah mendapat penghargaan galeri Indonesia Wondeful Of World (WOW) 500 untuk produk UMKM dari Kementerian Koperasi dan UKM RI pada 16 januari 2015, juga mendapat penghargaan dari Badan Koordinasi Penanaman Modal  pada 15 mei 2012, dari Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri tahun 2013, serta dari Dinas Pertanian dan Holtikultura Kalbar tahun 2011 lalu.

“Kami juga pernah mengikuti pameran di Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan. Untuk produk stick talas Mbak Tum sendiri sudah dijual di Pontianak dan dikirim ke Singkawang, Sintang, Ketapang, dan Sanggau,” ujar Tuminah.

Bisnis camilan keripik talasDengan dibanderol mulai dari Rp 85.000 per kilo sampai Rp 105.000 per kilogram, saat ini bisnis camilan keripik tersebut bisa meraup omzet sekitar Rp 50-60 juta per bulan. Dibantu 5 orang karyawannya, untuk  satu kali menggoreng ia membutuhkan sekitar 200-300 kg keladi (talas).

“Tiap 5 kg keladi mentah bisa menghasilkan 1 kg snack talas. Ke depan, saya ingin produk stick talas Mbak Tum semakin baik, terutama dari segi pemasaran dan kemasan,” tuturnya.

Kendala Merintis Bisnis Keripik Talas

Ia menceritakan, saat ini karyawannya hanya tiga kali masuk dalam seminggu. Padahal biasanya masuk tiap hari dari Senin-Sabtu. “Tiga hari belakangan, kami mengurangi produksi karena permintaan berkurang. Kami juga terpaksa meliburkan karyawan hari ini,” ujar Mbak Tum.

BINGUNG CARI IDE BISNIS ?
Dapatkan Ratusan Ide Bisnis Dilengkapi Dengan Analisa Usaha
Klik Disini

Selain jumlah pembeli yang berkurang, harga bahan baku juga semakin mahal sehingga ia terpaksa menaikkan harga jual. Tentu hal ini sangat memberatkan pelaku UMKM seperti Mbak Tum.“Mulai dari harga plastik, elpiji, minyak goreng, semua naik. Apalagi kabarnya pemerintah pusat juga akan mencabut subsidi elpiji,” kata Tum.

Selaku pengusaha sekelas UMKM, ia sangat berharap peran serta dari pemerintah berupa bantuan yang bisa dirasakan langsung oleh pelaku UMKM seperti bantuan alat produksi dan pemasaran. Selain itu juga diharapkan pemerintah bisa mempermudah persyaratan agunan pinjaman bank.

“Jangan sekedar memberi pelatihan berupa teori semata,” pungkasnya.

Tim Liputan BisnisUKM

(/Vivi)

Kontributor BisnisUKM wilayah Kalimantan Barat