Sukses Mempertahankan Bisnis Makanan Tradisional Etnis Tionghoa

Adonan kompia dibuat dengan bahan sederhana yakni tepung terigu

Adonan kompia dibuat dengan bahan sederhana yakni tepung terigu, bumbu bawang putih, dan garam. Namun rasanya begitu gurih.

SOLO, JAWA TENGAHNama makanan kompia atau kompyang memang terdengar kurang populer dibanding jajanan tradisional lain seperti lumpia dan bakpia. Meski sama-sama hasil percampuran budaya Tionghoa, tak banyak yang tahu apalagi pernah mencicipi kompia. Namun, sejatinya penganan ini menyimpan sejarah yang luar biasa.

Sekali lihat jajanan legendaris ini terlihat mirip dengan burger. Namun, ketika masuk ke mulut akan kentara bedanya karena tekstur kompia jauh lebih padat dan tahan lama. Kompia terbuat dari bahan sederhana yakni tepung terigu dicampur bumbu garam dan bawang putih. Karena mengenyangkan, tak heran dulunya kompia dijadikan bekal tentara Tiongkok berperang.

Di masa Dinasti Ming atau sekitar tahun 1560, kompia digunakan sebagai persediaan perang melawan Jepang. Karena keawetannya konon kompia dianggap berjasa besar membawa Tiongkok memenangkan perang. Di Indonesia, roti tersebut dibawa oleh para pedagang saat dibukanya Malaka sebagai jalur pelayaran dan perdagangan.

Bisnis makanan tradisional akulturasi Indonesia-Tiongkok

Makanan tradisional akulturasi Indonesia-Tiongkok ini ternyata memiliki sejarah panjang. Di tempat asalnya kompia sempat dijadikan makanan bekal perang.

Pada akhirnya kompia berakulturasi dengan budaya nusantara sehingga tercipta penambahan seperti adanya wijen di permukaannya. Sayangnya, penganan perpaduan Indonesia-Tiongkok saat ini tak banyak diproduksi. Produsen kompia di Solo tinggal hitungan jari, itu pun kapasitas produksinya tak begitu besar.

Salah satu yang masih memproduksi kompia di Solo adalah Haryono. Bersama tiga karyawannya, tiap malam ia membuat kompia untuk dijajakan paginya di Pasar Gede dan disetor ke pedagang keliling. “Tinggal sedikit produsen kompia di Solo. Mungkin mereka sudah berpindah membuat penganan lain,” ungkap Haryono di rumah sekaligus tempat produksi kompianya di Penjalan, Kelurahan Gandekan, Jebres, Solo.

Uniknya Kompia

Kompia dipanggang dengan cara yang unik

Kompia dipanggang dengan cara yang unik yakni ditempel dalam tungku besar mirip sumur dan dipanaskan terus menerus selama setidaknya setengah jam.

Masyarakat Solo sering menjadikan kompia sebagai alternatif menu sarapan. Cara memakannya pun unik yakni ditumpuk menjadi satu dengan pia khas Solo, lalu dilahap sekali duduk. Demi menyajikan kompia dengan tekstur yang tepat, tak ayal Haryono dan karyawannya harus bekerja memproduksi kompia mulai jam 11 malam hingga 7 pagi.

Dinginnya malam mungkin sudah tak terasa bagi mereka berempat karena tungku besar seperti sumur yang mereka jaga agar selalu panas. Tungku berukuran besar tersebut dipakai sebagai pemanggang. Ada dua tungku besar di tempat Haryono dan keduanya mampu menampung puluhan adonan kompia sekali panggang.

Baca Juga Artikel Ini :

Mengemas Makanan Tradisional khas Pontianak Secara Instant

Angkat Potensi Bisnis Kuliner Betawi Lewat Festival Makanan

Dalam proses pemanggangan unik itu, tungku dipanaskan lebih dulu. Setelah dirasa cukup panas, adonan ditempel satu per satu di dinding tungku. Kompia terus dibakar dengan api besar selama paling tidak setengah jam hingga kompia mengeras dan berubah warna menjadi kecoklatan.

Proses pemanggangan inilah yang membuat kompia bertahan lama. “Kami mempertahankan tradisi memanggang kompia seperti ini. Sampai sekarang belum ada alat atau cara lain untuk membuat kompia yang sama enaknya dan tahan lama,” jelas Haryono.

Melestarikan Tradisi

Dibutuhkan stamina lebih bagi pembuat kompia

Dibutuhkan stamina lebih bagi pembuat kompia karena mereka harus bekerja tengah malam hingga pagi hari agar kompia tetap nikmat saat disajikan sebagai alternatif menu sarapan warga Solo.

Terus memproduksi kompia berarti juga melestarikan tradisi nenek moyang. Dalam prakteknya, menjadi produsen kompia ternyata bukan tanpa kendala. Haryono mengaku kini ia harus pintar mengatur manajemen akibat harga bahan yang terus naik. Ia juga tak dapat serta merta menaikkan harga kompianya karena penikmat makanan gurih ini rata-rata masyarakat menengah ke bawah.

Tantangan Haryono jelas tak mudah karena harus berhadapan dengan makanan cepat saji seperti burger. Namun dia tetap optimis dapat terus memproduksi kompia. “Saya percaya makanan tradisional seperti kompia ini akan terus ada selama masyarakat kita masih berbudaya,” katanya.

Haryono pun berharap dapat menurunkan usahanya kepada anak cucunya kelak. Lebih dari itu, ia berangan besar membawa penganan daerah ini naik kelas dapat dinikmati semua kalangan tak terkecuali mereka yang menengah ke atas.

Tim Liputan BisnisUKM

(/Rizki B. P)

Kontributor BisnisUKM.com wilayah Solo Raya