Liputan UKM, Pengusaha Sukses

Sukses Memproduksi Brownies Dari Tepung Mocaf

SHARE YUK!

pengusaha brownies mocafBerlatar belakang sarjana teknologi pertanian, Guritna Chandra Dewi (30) atau yang biasa dikenal sebagai Mbak Dewi sukses mengembangkan bisnis brownies berbahan baku tepung mocaf. Berbekal ilmu olahan pangan yang dikuasainya di bangku kuliah serta modifikasi resep dari berbagai sumber, menjadikan brownies tepung mocaf kreasinya menjadi salah satu makanan yang disukai banyak orang. Apa yang dilakukan Mbak Dewi tersebut cukup menarik karena selama ini orang lebih mengenal brownies sebagai olahan makanan yang terbuat dari bahan baku tepung terigu.

Istri dari Renta Dwi Ardhana (31) tersebut lebih memilih menggunakan bahan baku tepung mocaf karena merasa prihatin dengan semakin tingginya impor gandum dewasa ini. “Sengaja memang kami memilih mocaf yang notabene merupakan tepung singkong termodifiksi sebagai bahan baku olahan ini (brownies), karena selain ingin mengangkat potensi singkong itu sendiri, kami juga ingin membuktikan kepada masyarakat bahwa tepung singkong (mocaf) bisa digunakan untuk membuat olahan makanan khususnya brownies,” terang Mbak Dewi kepada tim liputan bisnisUKM, Selasa (10/9).

Bukan tanpa alasan, karena faktanya sebagain besar masyarakat kita memang belum familiar dengan tepung mocaf. “Masyarakat belum bisa beralih untuk menggunakan tepung mocaf karena mereka belum mengenal jika bahan baku tersebut bisa menghasilkan produk yang berkualitas,” imbuh Mbak Dewi. Atas dasar itulah Mbak Dewi beserta suaminya berupaya memperkenalkan serta mengangkat derajat singkong menjadi sebuah olahan yang lebih bergensi, dalam hal ini adalah brownies.

Awal Mula Merintis Bisnis Brownies Mocaf

brownies singkongHal pertama yang dilakukan Mbak Dewi beserta suami dalam mengembangkan usahanya itu adalah melakukan ujicoba penanaman singkong pada sebuah lahan seluas 2 ha di wilayah Srandakan Bantul. Dalam prosesnya mereka kemudian mendirikan pabrik mocaf untuk mengolah hasil penanamannya. “Pada tahapan ini kita melibatkan masyarakat, jadi prosesnya dari hulu ke hilir, mereka (petani) juga kita berikan juga semacam pelatihan dari proses penanaman sampai dengan pengolahan tepung mocaf,” jelas Mbak Dewi.

Proses trial error dijalani Mbak Dewi demi menemukan komposisi dan formulasi yang pas dalam memproduksi brownies. Buku-buku resep, browsing internet, serta berkonsultasi dengan berbagai pihak dilakoni ibu tiga orang putra tersebut demi mendapatkan sebuah brownies yang sesuai dengan keinginannya. “Resep-resep yang bersumber dari internet maupun buku-buku itu kalau dicoba hasilnya kurang maksimal, sehingga dibutuhkan kreativitas dari kita sendiri untuk menghasilkan sebuah produk yang sesuai keinginan,” lanjutnya.

Pengusaha Muda

Menjadi Pengusaha Muda.

Berbagai macam tips dan ide bisnis bagi Generasi Milenial

Perlahan tapi pasti apa yang menjadi keinginan Mbak Dewi mulai tervisualisasi dalam sebuah usaha yang dinamakan Brownies Telo. Terdapat beberapa varian rasa Brownies Telo kreasi Mbak Dewi, diantaranya original telo, choco telo, cheese telo, double cheese, dan twin pandan. “Tahap awal memang perlu perjuangan extra, terutama memberikan edukasi ke masyarakat tentang bahan baku mocaf yang kami gunakan,” terangnya. Namun berkat kerja keras serta trik pemasaran yang tepat, masyarakat mulai menyadari tentang kualitas olahan brownies Mbak Dewi yang notabene terbuat dari 100% tepung mocaf.

Strategi Memperkenalkan Brownies Telo

brownies telo“Mengikuti pameran, mengadakan lomba masak, lomba fotografi, dan lomba menggambar menjadi strategi kami dalam memperkenalkan brownies telo ini, dari situ bisa dilihat bahwa segmen pasar kami ternyata dari semua kalangan, baik anak-anak maupun dewasa,” lanjut Mbak Dewi. Untuk anak-anak Mbak Dewi menyediakan dalam bentuk cupcake serta bisa custom order, artinya sesuai permintaan konsumen. “Biasanya untuk pesta ulang dimana bentuk dan konsep sesuai dengan tema acara,” katanya.

Mengandalkan sebuah outlet yang berada di pusat kota Bantul, kini Brownies Telo mampu memproduksi 100-150 box brownies per harinya. Namun karena keterbatasan masa kadaluarsa, Mbak Dewi mengaku jangkauan pemasaran produknya tersebut belum bisa luas. “Produk ini murni tidak menggunakan bahan pengawet, sehingga masa kadaluarsanya juga terbatas, hanya 4 hari saja, sehingga untuk mensiasatinya banyak wisatawan yang kami arahkan untuk datang langsung ke sini (outlet),” jelasnya sembari tersenyum. Sejauh ini dari hasil evaluasi mereka kebanyakan pembeli merupakan masyarakat lokal, yakni 70% dari Bantul, 20% Jogja dan Sleman, serta 10% sisanya dari luar.

Dengan harga Rp 85.000,00 s.d. Rp200.000,00/ box, Mbak Dewi mengaku dalam sebulan bisa memperoleh omzet Rp 20 juta s.d. Rp 30 juta. Baginya apa yang saat ini diperoleh baru tahap awal dari mimpi besarnya yang ingin memasyarakatkan brownies telo dan tepung mocaf itu sendiri. “Untuk tahap edukasi ke masyarakat bisa dibilang sudah mencapai 60%, meskipun tidak sedikit pula yang masih membanding-bandingkan kualitas tepung mocaf dengan tepung terigu, namun intinya kami sudah berada di jalur yang benar, tinggal memaksimalkannya saja,” katanya.

Bersama dengan suaminya yang juga merupakan Ketua Asosiasi Pengusaha Pangan Lokal Kab. Bantul, Mbak Dewi juga memproduksi tepung instan yang diberi nama Telomix. Tepung inilah yang sejauh ini menjadi produk alternatif pilihan dari masyarakat untuk mengenal tepung mocaf lebih jauh. Ke depan, selain ingin mengembangkan usaha brownies telonya, Mbak Dewi berharap mocaf bisa dikenal lebih luas di masyarakat. “Mocaf itu selain baik untuk pencernaan (karena free gluten) juga bagus untuk penderita autis,” lanjutnya.

Di akhir wawancaranya, Mbak Dewi mengungkapkan rahasia serta tips suksesnya dalam menjalankan usaha tersebut. “Intinya kalau kita menekuni usaha itu harus sabar, tekun, dan berkarakter,” terang Mbak Dewi sekaligus menutup wawancaranya pada siang hari itu.

Tim liputan bisnisUKM

 

SHARE YUK!