Suksesnya Pelopor Kreasi Bunga Kering Yogyakarta

Kreasi bunga keringSaat pertama kali mendengar kata bunga kering yang terbesit di pikiran kebanyakan orang mengarah kepada bunga alami yang dikeringkan. Namun tahukah Anda, jika bunga kering ternyata merupakan salah satu kerajinan yang tidak menggunakan bunga alami sebagai bahan bakunya. Bahan-bahan alam seperti daun lontar, klobot jagung, serutan kayu, sawo kecik, dll menjadi pengganti bunga alami untuk diolah menjadi produk kerajinan bunga kering yang cantik. Usaha itulah yang selama ini ditekuni oleh Bapak Yadi Jayadi (46) sebagai produsen kerajinan bunga kering yang pertama kali ada di Yogyakarta.

Ditemui di rumahnya Badran Yogyakarta, Jumat (8/3), bapak asli Sukabumi tersebut bertutur jika pada awal mula menggeluti usaha bunga kering berasal dari rasa penasaran. “Pernah suatu saat saya melihat bunga kering di pasar, karena penasaran bunga kering tersebut saya beli dan sesampainya di rumah saya bedah untuk mempelajari bagaimana proses pembuatannya,” kata Pak Yadi yang mengaku memulai usaha tersebut tahun 1990. Sejak itulah, jiwa seni Pak Yadi sebagai seorang pengrajin makin terasah dan mulai rajin memperkenalkan produk bunga kering buatannya ke berbagai event pameran, pasar, instansi pemerintah maupun swasta, dan perusahaan trading.

bunga kering JayadiKarena saat itu masyarakat belum familiar dengan produk bunga kering, maka responnya juga belum begitu signifikan. “Perlu perjuangan keras untuk memperkenalkan bunga kering kepada masyarakat, dan kala itu saya jalani dengan optimisme tinggi,” jelas Pak Yadi yang ditemani istrinya sore itu. Dari perjuangan tersebut, lambat laun produk bunga kering mulai bisa diterima masyarakat sebagai sebuah kerajinan yang unik. Beragam pesanan bunga kering deras mengalir ke tangan Pak Yadi yang memproduksi sendiri bunga keringnya dengan dibantu istri dan putranya. Bahkan undangan untuk menjadi trainer produksi bunga kering dari instansi pemerintah maupun swasta juga makin sering diperoleh bapak 2 orang putra tersebut.

Berbekal alat produksi yang diciptakan sendiri, Pak Yadi saat ini mampu membuat ratusan jenis bunga kering beragam ukuran. Berbagai inovasi bunga kering bisa dikreasi hingga memiliki detail yang sama persis dengan bunga aslinya. “Dalam menjalankan usaha kerajinan seperti bunga kering, yang paling penting adalah inovasi produk agar masyarakat tidak bosan,” imbuh Pak Yadi. Selain melayani beragam pesanan desain dan kreasi bunga kering aneka jenis, Pak Yadi dan keluarga juga melayani dekorasi interior berbagai macam acara. “Kami biasa melayani dekorasi interior dengan bunga kering untuk acara pernikahan, rapat, fashion show, dan seminar,” jelas bapak yang kini ‘muridnya’ sudah banyak yang membuka sendiri usaha produksi bunga kering.

Pengusaha bunga keringSelama ini Pak Yadi sangat detail dalam memperhatikan kualitas produksinya. Dari mulai bahan baku hingga proses produksi dijalankan secermat mungkin agar hasil yang didapatkan bisa maksimal. “Kebanyakan customer menginginkan produk buatan tangan saya langsung, sehingga harus pintar dalam membagi waktu agar semuanya bisa terlayani dengan baik,” kata Pak Yadi yang sering mendapat pesanan bunga kering dari Jepang. Harga jual untuk produk bunga kering Pak Yadi sangat bervariasi, tergantung jenis, ukuran, dan tingkat kesulitan pembuatan. Dengan harga Rp.200,00 sampai dengan ratusan ribu rupiah, Pak Yadi mengaku bisa memperoleh omzet jutaan rupiah dalam sebulan. “Selama ini saya jarang mengambil keuntungan dalam jumlah besar, yang terpenting adalah kepuasan batin dan bisa membuat orang senang cukup bagi saya,” terang Pak Yadi yang mengaku bisa memproduksi 100-200 buah bunga kering dalam sehari.

Meskipun tidak melaksanakan pemasaran secara aktif, namun produk bunga kering Pak Yadi banyak tersebar hingga Kalimantan, Jakarta, Solo, Palembang, dan kota besar lainnya. Bahkan beberapa kali produk Pak Yadi menghiasi beragam acara televisi nasional baik itu talkshow, sinetron, dan FTV.

kreasi bunga keringBagi siapa saja yang ingin memesan bunga kering tersebut, bisa datang langsung ke rumahnya dengan membawa gambar, foto, maupun desain bunga kering yang diinginkan. “Rata-rata customer yang datang itu membawa foto bunga asli, kemudian saya diminta untuk membuat bunga keringnya,” jelas Pak Yadi yang beberapa kali memenangkan kontes kreasi bunga kering skala nasional. Di akhir wawancara, Pak Yadi yang mengaku masih sering terkendala modal berujar untuk bisa bertahan dalam menjalankan bisnis bunga kering adalah inovasi produk. Tanpa adanya inovasi maka dipastikan bisnis rumahan yang bisa beromset jutaan rupiah ini tidak akan berumur panjang.


Tim liputan bisnisUKM