Usaha wajan cor aluminiumMemproduksi peralatan rumah tangga seperti wajan, ketel, dan panci menjadi kesibukan sehari-hari bagi Ibu Mardi Handoyo (60) dan keluarganya sejak 39 tahun yang lalu. Usaha yang dirintis oleh Alm. Wagiyo suaminya tersebut, pada awalnya memanfaatkan barang rongsokan yang terbuat dari aluminium untuk didaur ulang menjadi aneka barang kebutuhan rumah tangga. Namun semenjak Pak Wagiyo meninggal dunia tahun 2001, fokus usaha tersebut dialihkan untuk produksi wajan cor aluminium.

Mengusung “WGY” sebagai nama usahanya, kini Bu Mardi dibantu 5 orang putranya bahu membahu mempertahankan eksistensi produksi wajan cor-coran aneka jenis. Dengan 10 orang tenaga produksi yang dimilikinya, setiap hari WGY rutin memproduksi wajan aluminium untuk dipasarkan ke beberapa kota di tanah air. “Saat ini dengan ada atau tidak adanya pesanan, kami tetap rutin berproduksi sebagai stok produk yang sewaktu-waktu bisa kami pasarkan,” jelas Ibu Mardi saat ditemui tim liputan bisnisUKM Rabu (20/4) di rumahnya Mutihan RT.02/ RW.17 Wirokerten Banguntapan Bantul.

proses produksi wajan corProses produksi WGY kini menggunakan bahan baku batangan aluminium yang dibeli seharga Rp.18.500/ kg. “Kalau dulu kita mengumpulkan rongsokan untuk kemudian kita lebur dan dijadikan bahan baku produksi, namun saat ini kami langsung menggunakan bahan baku yang siap cetak,” imbuh Ibu Mardi yang ditemani salah seorang putrinya Ibu Sumiyati (39). Selain lebih efisien, menggunakan bahan baku yang siap cetak juga lebih menghemat biaya operasional produksi.

Proses produksi

Dalam proses produksinya, bahan baku yang berwujud batangan aluminium dilebur dengan menggunakan panas yang sangat tinggi. Setelah mencair atau berwujud jenang, kemudian dituangkan dalam cetakan wajan dan ditutup dengan menggunakan tanah. Selang beberapa saat, wajan tersebut diangkat dan dilakukan penghalusan pada bagian yang masih kasar. Proses terakhir dilakukan finishing untuk mempercantik dan menyempurnakan wujud wajan. “Dalam sehari kami biasa melakukan dua kali pengecoran yaitu pada pagi dan siang hari,” terang Bu Sumiyati yang menemani tim liputan bisnisUKM ke lokasi produksinya.

aluminiumWajan WGY selama ini memiliki pasar tersendiri. Hal tersebut dikarenakan harga yang ditawarkan lebih mahal jika dibandingkan dengan produk wajan pada umumnya. “Wajan kami memiliki keunggulan lebih tebal dan awet karena dibuat dari proses cor-coran, sementara kebanyakan yang beredar di pasaran terbuat dari logam dan lebih tipis,” imbuh Ibu Mardi. Bahkan Ibu Mardi membandingkan jika bahan baku pembuat 1 wajan cor miliknya bisa digunakan untuk membuat 4-5 wajan biasa.

Pemasaran produk

Kerajinan aluminium WGY memiliki 12 jenis wajan berbeda ukuran dan harga. Beberapa diantaranya yaitu Wajan Cor No.10 Rp.17.000,00; Wajan Cor No.12/ 13 B Rp.25.000,00; Wajan Cor No.15/16B Rp.30.000,00; Wajan Cor No.17B Rp.50.000,00; Wajan Cor No.24 Rp.100.000,00; Wajan Cor No.28/30 Rp.650.000,00; dan Wajan Cor No.40 Rp.1.250.000,00. Dalam kondisi stabil, WGY bisa menghasilkan omset 50 juta per bulan. “Saat ini pasar cenderung sepi, namun ada saja yang setiap hari pesan meskipun dalam jumlah yang tidak banyak,” kata nenek 7 orang cucu tersebut.

peleburan aluminiumJika beberapa tahun yang lalu WGY melayani pesanan hingga ke Sumatera, Kalimantan, dan Papua, saat ini proses pemasaran lebih banyak melayani pasar lokal Jogja. Wajan WGY kini banyak beredar di Pasar Beringharjo, Pasar Prambanan, dan beberapa lokasi lain. Selain wajan yang menjadi produk akhirnya, sisa/ limbah produksi tersebut ternyata masih bisa didaur ulang  menjadi bahan baku batangan aluminium. “Jadi istilahnya muter, limbah produksi diambil pengepul untuk kemudian dijadikan batangan aluminium dan dikirim kembali ke kami sebagai bahan baku produksi,” jelas Bu Mardi.

Di akhir wawancaranya, Bu Mardi berharap agar WGY tetap eksis sebagai produsen wajan cor-coran aluminium yang masih bertahan di Yogyakarta. Dengan dukungan putra-putri beliau saat ini, Bu Mardi tetap yakin produk WGY masih tetap diminati dan menjadi produk wajan berkualitas nomer satu.


Tim liputan bisnisUKM