Pohon Cendana (Santalum album Linn) yang merupakan kebanggaan Nusa Tenggara Timur (NTT), ternyata sudah sulit dijumpai di wilayah tersebut. Hal ini merupakan dampak Peraturan Daerah (Perda) NTT Nomor 16 Tahun 1986 tentang pengelolaan cendana. Perda tersebut antara lain menyatakan pohon cendana yang tumbuh di pekarangan rumah penduduk adalah milik pemerintah. Akibatnya, warga memilih menebang cendana milik mereka dan menjualnya dengan harga murah.

Video Praktisi

Kunci Sukses Memulai Bisnis Brownies Telo

Padahal saat itu, harga per kilogram kayu cendana mencapai Rp12 juta. Cendana juga merupakan tanaman obat yang berkhasiat sebagai obat tradisional mengembalikan nafsu makan yang mudah kita ramu sendiri. Hal tersebut bertujuan membangkitkan kesadaran dan kepedulian warga membangun upaya konservasi dan budidaya tanaman cendana . Pada tahun 1980-an produksi cendana NTT masih berkisar 15 ribu ton. Tetapi mulai menurun pada 2000 yang hanya 100 ton dan terhenti pada tahun 2004 karena seluruh pohon cendana sudah ditebang.

Pada penjajahan Belanda, pohon cendana di Pulau Timor ditebang secara besar-besaran untuk dikirim ke Belanda, sehingga ketika itu NTT terkenal sebagai satu-satunya daerah penghasil cendana. Tetapi setelah punahnya cendana, sekarang NTT harus mendatangkan lagi bibit cendana dari Kabupaten Gunung Kidul, Yogjakarta. Padahal, bibit cendana yang dibudidayakan di daerah itu, diambil dari Pulau Timor.

Gubernur NTT Frans Lebu Raya mengakui terjadi kesalahan dalam pembuatan perda tersebut. Karena itu, pada 2004, perda dicabut dan diganti dengan perda nomor 2 Tahun 1999. Perda itu memberikan porsi yang cukup besar kepada warga untuk menanam cendana. Tetapi nyatanya belum efektif untuk memulihkan kepercayaan masyarakat membangun kembali upaya konservasi dan budi daya cendana.

Pemerintah dan lembaga perguruan tinggi di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) diharapkan memiliki konsistensi dalam mengembangkan tanaman cendana. Hanya dengan konsistensi, rencana untuk mengembalikan NTT sebagai gudang cendana bisa tercapai.Pemerintah NTT yang telah mencanangkan pengembangan cendana sejak tahun 2006 perlu konsisten dalam program tersebut. Konsistensi pengembangan cendana mulai dari hulu sampai hilir dan dilaksanakan dari tingkat propinsi dan daerah. Bila Pemerintah Propinsi NTT konsisten dalam pembangunan bidang kehutanan, maka lima tahun mendatang luas tutupan hutan yang kini hanya lima persen akan bertambah. Namun kalau luas hutan tidak bertambah, berarti pemerintah bersama masyarakat NTT tidak berbuat apa-apa.

Menurut Gubernur, data menunjukkan pada tahun 1997 pohon cendana memang masih ada sekitar 250.940 yang tumbuh di Pulau Timor bagian barat. Tetapi pada pendataan 2008, dari populasi itu berkurang sebesar 46,05 persen. Itu pun hanya pohon kecil yang tumbuh secara alami, dan untuk tahun ini belum dilakukan pendataan ulang berapa populasi pohon cendana yang masih tumbuh.

(Sumber Gambar : indonetwork.co.id)