Inspirasi Bisnis

Usaha Keripik Paru Bu Mangun Pertahankan Resep Legendaris Sejak 1960

Hendro. Cucu penerus usaha Keripik Paru Bu Mangun

Hendro. Cucu penerus usaha Keripik Paru Bu Mangun

SOLO, JAWA TENGAH – Kabupaten Klaten, meskipun sering kali hanya dianggap sebagai daerah penghubung antara dua kota besar Solo dan Jogja, ternyata Klaten punya oleh-oleh legendaris yang sudah ada sejak 1960. Ialah keripik paru Bu Mangun yang berada di Tegal Kepatihan, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klaten Tengah. Meski kini usaha tersebut berada di tangan sang cucu, semua resep masih dipertahankan.

Almarhum Bu Mangun memulai usaha keripik parunya sejak 56 tahun yang lalu. Menemukan resep keripik paru yang lezat dan gurih tidak begitu saja. Ibarat melangkah, Bu Mangun harus menempuh jalan sejarah yang cukup panjang. Awalnya Bu Mangun menjajal memproduksi aneka macam keripik seperti keripik tempe, keripik daun singkong, dan keripik lainnya.

Gurihnya keripik paru Bu Mangun membuat pembeli datang kembali.

Gurihnya keripik paru Bu Mangun membuat pembeli datang kembali. Rasa yang tak berubah menjadi alasannya.

Dalam perjalanannya, aneka keripik buatan Almarhumah Bu Mangun ternyata mendapat tanggapan yang kurang positif dari masyarakat. Hingga akhirnya ia bertemu dengan bahan paru sapi yang langsung diolahnya menjadi keripik paru. Bumbu dan cara memasak awalnya juga belum sesuai dengan lidah masyarakat kebanyakan.

Soklat Banget, Murah Banget

Soklat Banget, Murah Banget

Paket mulai dari 3,8 Juta mendapatkan semua perlengkapan lengkap.

Setelah menentukan paru sapi sebagai bahan utama, almarhumah Bu Mangun pun lebih banyak menghabiskan waktunya di dapur. Ia mencoba berbagai bahan, bumbu, dan cara memasak selama berbulan-bulan untuk mendapatkan cita rasa keripik paru yang terbaik.

Saat Bu Mangun merasa mendapati rasa yang pas, produk keripik paru pun terus dipertahankan sebagai menu andalan. Resep dan cara memasak keripik tersebut diajarkan kepada para penerusnya. “Resep, bumbu, dan cara memasak tetap sama seperti kala Nenek memasak dulu,” ungkap Hendro Dwi Kurniawan, cucu penerus usaha keripik paru Bu Mangun, saat ditemui di rumahnya, Selasa (3/1/2017).

Pelanggan Dari Luar Jawa

Keripik Paru menjadi makanan andalan yang di jual Almarhumah Bu Mangun

Keripik Paru menjadi makanan andalan yang di jual Almarhumah Bu Mangun dari dulu hingga usaha dipegang cucunya sekarang.

Dalam sebulan Hendro mengaku rata-rata mampu menghabiskan 100 kilogram bahan paru sapi. Pelanggannya tak hanya datang dari Klaten dan kota sekitarnya, tetapi juga daerah lain bahkan dari luar Jawa.

Kebanyakan para pelanggan rutin membeli keripik paru Bu Mangun sebagai oleh-oleh. Tak jarang dari mereka sudah bertahun-tahun menjadi pelanggan. “Setiap saya berkunjung ke Jogja atau Solo saya pasti sempatkan ke sini. Sudah bertahun-tahun saya jadi pelanggan keripik paru di sini, rasanya enak dan gurih,” ungkap Amel, pelanggan keripik paru Bu Mangun yang berasal dari Bengkulu.

Baca Juga Artikel Ini :
Dari Resep Sederhana, Sirup Wedang Jahe 3 Teko Beromzet Ratusan Juta

Wariskan Resep Masakan Melayu Hingga Generasi Ketiga

Amel dan pelanggan lain merasa keripik paru Bu Mangun tak pernah berubah baik dalam hal rasa maupun kerenyahannya. Hendro sebagai penerus pun mengaku tak merubah apapun termasuk kemasan 250 kilogram yang masih menjadi satu-satunya kemasan keripik paru. Untuk 250 kilogram keripik paru tersebut, Hendro menjual dengan harga 40 ribu rupiah.

Hendro Pertahankan Resep Asli dan Sentuhan Teknologi

Hendro masih menggunakan resep dan cara memasak peninggalan Sang Nenek.

Hendro masih menggunakan resep dan cara memasak peninggalan Sang Nenek. Namun untuk mempercepat produksi ia memakai sedikit sentuhan teknologi.

Meski tetap menjaga keaslian resep dari sang nenek, tak dipungkiri Hendro harus melibatkan teknologi dalam proses pembuatan keripiknya. Ia kini memakai mesin pemotong dan mesin vacuum untuk meningkatkan kecepatan produksi dan menjaga keawetan keripik. Hendro juga mengganti kompor kayu dengan kompor gas bertekanan tinggi supaya suhu panasnya dapat terjaga.

Penyematan teknologi tersebut semata-mata untuk meningkatkan mutu dan kapasitas produksi keripik. “Kami beri sentuhan teknologi untuk membantu produksi. Selain itu semua sama. Konsistensi itu lah yang mungkin membuat pelanggan tak pernah kabur,” ungkap Hendro.

Selain keripik paru yang memang menjadi produk andalan, Hendro melengkapi tokonya dengan aneka produk lain seperti keripik belut dan jajanan lainnya. Sebagian produk itu dibuatnya sendiri, sebagian lainnya dia ambil dari produksi para tetangganya.

Hendro menambahkan ada saat-saat tertentu produksinya ramai pesanan, seperti menjelang lebaran atau libur natal dan tahun baru seperti saat ini. Saat ramai produksi Hendro bisa meningkat hingga lima kali lipat dibanding biasanya.

Tim Liputan BisnisUKM.com
(Rizki B.P)
Kontributor BisnisUKM.com Wilayah Solo Raya