Wanita Ini Bangun Usaha Kreatif Dengan Berdayakan 40 Ibu Rumah Tangga, Hebat !

wanita-ini-bangun-usaha-kreatif-dengan-berdayakan-40-ibu-rumah-tangga-hebat

Daripada terus mencurahkan pikiran, tenaga, dan keahlian untuk orang lain, Edi Winarsih memilih mencoba menjadi seorang yang tahan banting dengan berbagai ujian dalam usaha. Pernah mengalami pailit, Edi mampu bangkit dari keterpurukan. Bahkan, saat ini dia telah menggandeng 40 perempuan, yang semuanya ibu rumah tangga. Mereka diberdayakan memproduksi souvenir batik, usaha kreatif yang digelutinya selama ini.

Mengawali karir sebagai pekerja, kini Edi menjadi seorang pengusaha. Hal itu setidaknya tampak dalam keseharian yang terjadi di rumahnya. Selain sebagai tempat berkumpulnya ibu-ibu, rumah Edi berubah menjadi workshop produk kerajinan. Mereka adalah ibu-ibu kreatif. Mereka berkumpul bukan untuk arisan atau pertemuan bulanan. Tapi mereka membentuk rantai produksi.

Bau lem yang cukup menyengat menjadi aroma khas begitu kaki melangkah masuk ke rumah sederhana itu. Tas, gantungan kunci, dompet kain, dan aneka jenis souvenir bernuansa batik menjadi sandaran hidup mereka.

”Mayoritas memang ibu-ibu rumah tangga. Saya menggandeng mereka untuk memproduksi souvenir batik ini. Syukur-syukur bisa menjadi penghasilan tambahan bagi keluarga mereka,” ujar perempuan yang mulai merintis usaha kecil menengahnya (UKM) sejak Oktober 2013.

Berbekal pengalaman selama menjadi pegawai sebuah produsen sepatu, istri Solikhin ini memutuskan untuk merintis usaha sendiri. Mulai mencari bahan baku, memproduksi, hingga pemasarannya. Setelah memiliki jejaring yang cukup kuat, Edi mengawali usahanya dengan membuat kerudung payet. Saat itu perempuan kelahiran 5 Oktober 1976 itu masih tinggal di Jakarta. Hasil karyanya dipasarkan di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Raeaksi pasar ternyata cukup mendukung.

Nah, setelah merasa punya cukup tabungan selama hidup di perantauan, Edi kembali ke kampung halamannya. ”Saya harus  kembali membaca pasar. Ternyata ada kenalan saya di Bali yang membuka peluang untuk souvenir. Saya coba buat beberapa sampel, dan pasar menyukai. Sejak itulah saya terus mengembangkan berbagai model,” paparnya.

Edi belajar membuat aneka model souvenir secara otodidak. Dari situ, terbesit dalam benak Edi untuk mengembangkan potensi ibu-ibu tetangganya. Seiring bertambahnya pesanan produk. Edi tak segan menularkan keterampilannya kepada siapapun yang mau belajar. Dari situlah usaha yang dirintisnya berkembang. Dari semula hanya membuat lima model,  kini UKM dengan merek “Chentaly” telah menelurkan sedikitnya 20-an model kerajinan batik.

Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, Edi menggandeng penjahit-penjahit tradisional di Gunungkidul. Dia memanfaatkan kain perca batik sisa bahan jahitan yang tak terpakai. ”Kalau bahannya kurang saya cari di Sleman. Tapi kalau memang terbatas, ya, pakai gulungan,” jelas  perempuan berkerudung ini.

Setiap hari Edi mampu memproduksi antara 1.600-2.000 souvenir berbagai model. Selain Bali dan Jogja, hasil karyanya telah beredar hingga Panarukan. Bahkan sampai Makasar, Sulawesi Selatan.

Melihat geliat usaha kreatifnya yang semakin mapan, Edi tergerak untuk menambah produk dengan bahan vinil dan kulit. Setiap produk dijual grosiran. Gantungan kunci, misalnya. Tiap kodi dibanderol Rp 12 ribu-Rp 20 ribu. ”Omzet per bulan bisa mencapai Rp 60 juta untuk tiga kali pengiriman,” ujarnya.

Hasil itupun tak lantas membuat Edi cepat berpuas diri. Dia bertekad terus berkreasi mengembangkan model-model lain. Meski saat ini masih tergolong usaha rumahan, Edi mengejar mimpi membangun sebuah industri modern. Dia ingin seluruh produksi berada dalam satu atap. ”Kalau sekarang ada yang sebagian dikerjakan di rumah ibu-ibu sendiri. Penjahit juga masih di luar rumah,” ungkapnya.

Sumber