Ada Juga Lho Abon Vegetarian, Gak Kalah Lezat dari Abon Daging!

Abon vegetarian jadi salah satu makanan alternatif untuk orang-orang yang memang tidak bisa makan bahan makanan hewani. Vegetarian adalah sebutan untuk orang yang tidak mengonsumsi makanan yang berasal dari daging atau unggas. Tapi sebagian masih mengonsumsi makanan laut seperti ikan atau hasil produk olahan hewan seperti susu atau keju.

Makanan abon adalah makanan yang terbuat dari serat daging hewan. Dari tampilannya abon berwarna cokelat terang sampai kehitam-hitaman. Abon tampak seperti serat-serat kapas, karena didominasi oleh serat-serat otot yang mengering yang disuwir-suwir. Masa simpan abon itu bisa sampai berbulan-bulan ketika dikemas dalam kemasan kedap udara. Sebab abon itu diolah sampai kering nyaris tidak tersisa kadar airnya.

Selain terbuat dari bahan dasar daging seperti sapi ,ayam, kambing, ada beberapa abon yang pembuatannya memakai bahan dasar dari makanan laut. Seperti ikan tuna, ikan lele, ikan tongkol, belut, kepiting, ikan teri, rajungan dan udang. Abon biasanya dimakan sebagai lauk taburan di atas nasi, mie pangsit atau bubur ayam, ataupun sebagai isian lemper.

Mengenal Abon Vegetarian

Tapi pada dasarnya abon itu tidak selalu harus dibuat dari bahan utama daging. Ada juga abon vegetarian yang terbuat dari bahan-bahan nabati baik itu dari sayuran maupun buah. Contohnya saja ada abon vegetarian yang terbuat dari buah kluwih atau biasa juga disebut dengan kulur atau timbul. Biasanya, buah kluwih yang dipilih itu masih muda karena memiliki serat yang lembut dan biji yang tidak keras.

Bisa dibilang abon vegetarian ini jadi salah satu produk makanan nabati yang menarik dan bisa menjangkau orang-orang yang tidak makan produk hewani tapi masih bisa merasakan sensasi makan abon. Salah satunya adalah Abon Daun Emas dari Berbah, Sleman, Yogyakarta, milik Anis Sriyati Primastuti yang memproduksi abon vegetarian dari buah kluwih dan kacang polong.

Abon vegetarian dari Abon Daun Emas ini mulai dikembangkan oleh Anis bermula dari temannya yang seorang vegetarian meminta dibikinkan produk abon nabati. Dari situ kemudian Anis merasa tertantang untuk menemukan resep abon vegan yang cocok di lidah kebanyakan orang. Pada akhirnya terciptalah abon vegetarian yang diberi nama abon nabati berbahan dasar buah kluwih, kacang polong, dan aneka rempah.

“Saya itu merasa tertantang pas ada temen yang request bisa nggak sih dibikinin abon yang non daging. Terus saya coba browsing, ternyata ada yang udah bikin dari buah kluwih sama kacang koro. Tapi saya coba ganti sama kacang polong, karena teksturnya tidak terlalu keras dan lebih mudah dimasak. Kalau pengolahannya itu nanti buah kluwih sama kacang polo dipadukan dengan rempah kemudian digoreng dengan minyak non jelantah atau minyak gorengan pertama dan pastinya non MSG,” terang Anis.

Memulai Usaha Abon Vegetarian

Anis memulai usaha Abon Daun Emas sejak tahun 2012. Pada awalnya dia karyawan di bidang marketing sebuah perusahaan. Kemudian seiring berjalannya waktu dia ingin lebih banyak menghabiskan waktu untuk keluarga di rumah. Setelah itu Anis memutuskan untuk keluar dari pekerjaan dan fokus untuk menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga. Tapi justru dari situlah muncul ide kreatif untuk mencoba-coba bisnis kuliner yaitu abon.

“Dulu saya kerja di perusahaan, tapi karena keluarga lebih membutuhkan saya di rumah jadi akhirnya keluar. Dari situ saya coba-coba bikin abon karena ya memang suka makan sama abon, lauk yang simple dan udah pasti pas di lidah. Selain karena emang suka, abon itu kalau jadi produk bisnis segmen pasarnya luas banget. Dari kelas premium sampai kelas reguler, dari balita, anak-anak, sampai lanjut usia itu ya masih bisa makan abon,” jelas Anis.

Hal pertama yang Anis lakukan sebelum memulai usaha Abon Daun Emas ini adalah melakukan riset dengan tes produk-produk abon yang sudah beredar di pasaran, terutama untuk produk abon rumahan. Kemudian dari situ dianalisa kira-kira apa saja kelebihan produknya dan apa saja kekurangannya. Sehingga bisa menjadi modal untuk mengembangkan produk abonnya.

Sembari melakukan riset dan analisa kompetitor, Anis juga terus mengembangkan produk bisnisnya sebelum benar-benar dipasarkan. Pasalnya, Anis memang belum punya pengalaman di dunia bisnis kuliner. Jadi, banyak trial and error yang dilakukan sampai pada akhirnya bisa menemukan resep yang pas dan konsisten untuk produk abonnya. Begitu juga dengan Standar Operasional Prosedur atau SOP yang bisa diciptakan untuk memperlancar proses produksi dari bisnis abonnya tersebut.

Mengembangkan Usaha Abon

Trial and error adalah satu tahapan yang memang harus dilewati dalam merintis dan mengembangkan bisnis. Termasuk usaha Abon Daun Emas milik Anis yang pada mulanya produk abon yang dihasilkan hanya abon sapi, ayam, dan ikan tuna. Kemudian seiring waktu berjalan produk abonnya lebih variatif dengan tambahan abon teri, abon jantung pisang, sampai abon vegetarian atau abon nabati dari buah kluwih dan kacang polo.

Anis memilih jantung pisang untuk diolah jari abon karena sejauh ini jantung pisang kebanyakan hanya dimanfaatkan untuk campuran sayur lodeh. Padahal potensinya untuk diolah menjadi makanan yang lebih inovatif bisa, salah satunya adalah diolah menjadi abon. Untuk produk abon jantung pisang pada dasarnya bukan dikhususkan untuk para vegetarian karena masih ada campuran daging ayam pada olahannya. Tapi abon jantung pisang ini lebih dikhususkan untuk orang-orang yang ingin mengonsumsi makanan yang lebih sehat, tidak full daging, apalagi kandungan serat dari jantung pisang itu tinggi.

Perkembangan usaha abonnya ini juga didukung dengan adanya teknologi tepat guna berupa mesin peniris, mesin pencabik, dan mesin penggoreng yang sangat mendukung untuk proses produksi. Mesin-mesin tersebut Anis dapatkan setelah melalui proses diskusi dan perencanaan yang cukup panjnag bersama rekannya yang memang punya bisnis di produksi mesin tepat guna.

“Kalau masih manual dulu itu waktu yang dihabiskan untuk produksi terlalu banyak. Tapi pas saya coba diskusi sama temen yang memang punya bisnis pembuatan mesin itu ya akhirnya bisa ketemu mesin yang cocok dan memang bisa support untuk perkembangan bisnis abon ini,” ujar Anis.

Pemasaran Produk

Sejak tahun 2012, Abon Daun Emas hanya memanfaatkan pemasaran secara offline dengan menyasar super market, toko sembako, dan toko-toko sayur di sekitar wilayah Yogyakarta. Dari segi kesiapan produk sudah pasti Abon Daun Emas memang sudah tidak diragukan lagi. Mulai dari kemasannya yang eye catching sampai legalitas produk berupa izin edar SPP-IRT dan Sertifikasi Halal.

Tapi sejak masa pandemi awal tahun 2020 lalu, Anis mulai merambah pada pemasaran online karena penjualan secara offline memang menurun drastis. Pemasaran secara online yang dilakukan dengan memanfaatkan media sosial seperti instagram, platfrom marketplace, dan google my business.

Itulah kisah perjalanan bisnis dari Abon Daun Emas @abon_daun_emas yang semoga bisa menjadi inspirasi untuk kamu dalam menjalankan bisnis. Bagikan juga tulisan ini ke teman kamu yang lain supaya makin banyak orang yang terdorong untuk terus mengembangkan bisnisnya.

Ikuti terus kisah menarik dari perjalanan para pelaku bisnis UMKM lainnya hanya di BisnisUKM.com

Apakah kamu tertarik untuk mencoba abon vegetarian?

Leave a Comment