Angkat Identitas Lokal Jember Lewat Usaha Desain Kaus Kata-kata!

Owner Biru Daun kaus khas Jember Kabupaten Jember merupakan wilayah yang memiliki keunikan sendiri di Propinsi Jawa Timur. Sejarahnya masyarakat Jember terbentuk dari percampuran dua suku yang dominan di wilayah ini, Jawa dan Madura. Akibat dari percampuran budaya tersebut, Kabupaten Jember juga sering disebut sebagai daerah Pendalungan yang mengidentikan akulturasi itu.

Maka bukan hal aneh jika di Jember muncul kosakata-kosakata yang tidak ditemukan di wilayah Jawa Timur lainnya. Dari kosakata dan bahasa keseharian masyarakat Jember itulah yang menginspirasi Dian Fatahillah Ahmad (35) untuk membuat konsep usaha desain kaus bertemakan lokal Jember.

Bisnis kaus khas JemberDian menceritakan awalnya menggeluti usaha desain kaus. Pria asli Jember ini beberapa tahun sebelumnya pernah bekerja di kota Malang sebagai desainer lepas pada salah satu distro disana, namun orangtuanya meminta Dian untuk pulang kampung dan bekerja di Jember. Selama di Jember, Dian menjadi guru jurusan multimedia pada salah satu sekolah menegah kejuruan.

Lepas menjadi guru, Dian mendirikan usaha desain kaus yang diberi nama Biru Daun. “Motif ekonomi kan ya, hobi saya harus menghasilkan duit ini. Jadi saya buat kaus. Waktu itu pertama kausnya masih tema-tema umumlah anak muda dan laku,” kata Dian.

Baca Juga Artikel Ini :

Gempa Jogja Memaksa Erry Memilih Bisnis Kaos Sablon

Bisnis Kaos Semarangan Ternyata Menguntungkan

Namun Dian merasa hasratnya belum terpenuhi untuk membuat kaus yang unik dan digemari, apalagi dia mengakui harga kaus buatannya masih dirasa lebih mahal ketimbang harga kaus di toko pakaian.

Sambil memikirkan desain kaus apa yang akan dibuat dan harganya juga terjangkau, Dian menjalani usahanya dengan menerima order pembuatan kaus dari konsumen. Tak disangka ibunya malah memberi sebuah ide untuk Dian agar mendesain sendiri kaus buatannya. “wes koen gae kaus Jemberan ae loh, pasti onok sing tuku (sudah kamu buat kaus Jember saja, pasti ada yang beli),” ujar Dian mengingat petuah ibunya.

Dian pun membuatnya, namun masih ragu-ragu apakah produknya akan laku dibeli orang. Desain kaus bertema lokal pertama yang dibuat Dian menggambarkan salah satu ikon kota Jember, yakni menara air zaman kolonial yang berlokasi di salah satu pasar tradisional disana.

Bermodal dua lusin, kaus mulai ditawarkan. Lewat seorang temannya yang waktu itu menjual secara langsung ke konsumen saat acara Car Free Day di Alun-alun kota Jember. Ternyata kaus tersebut laku dijual. “Mulai dari situ, nih kayaknya bisa diseriusin. Ya udah buat kaus khas Jember,” ujarnya.

Outlet Biru DaunDalam perjalanannya, Dian banyak mengadopsi dialog, kosakata dan bahasa keseharian masyarakat Jember untuk desain kausnya. Tapi bukan itu saja yang yang coba diangkat Dian. Ikon-ikon kota, Pahlawan lokal dan tempat-tempat wisata juga diangkat dalam desainnya.

Seperti desain kaus yang menggambarkan karakter kartun bernama Kardiman singkatan dari “Karepah Dibik Ngalak Nyaman” mengkonotasikan orang yang sangat egois dan mau menang sendiri, siapapun yang berurusan dengan orang yang punya sifat seperti karakter kartun itu, dijamin tidak bakal menang.

Adalagi desain kaus dengan gambar dan tulisan seperti ini “Mayak Koen Mad !!! Mak Dibuwak Nang Kali Sampahe (keterlaluan kamu, kok dibuang ke kali sampahnya)” atau “Arek Jember Gak Nangisan (anak Jember gak cengeng)”.

“Bahasanya orang Jember itu kan unik, bahasa campuran, bahasa Jawa di Madura-kan, bahasa Madura di Jawa-kan. Nah dengan bahasa yang unik kita coba angkat salahsatunya mungkin edukasi, menyelipkan nilai-nilai moral. Ada juga yang belum saya produksi misalkan, “wes maghrib rek, gak muleh ta”, ada unsur religius juga. Apa yang bisa kita masukan melalui media kaus Jember ini kita masukan yang positif-positif itu,” ucap Dian menjelaskan desain kausnya.

Kaus yang ditawarkan Dian seharga Rp 65.000 khusus anak-anak dan untuk dewasa mulai dari Rp 75.000 hingga Rp 150.000. Dian juga menyediakan kaus bagi konsumen yang membeli dalam jumlah banyak atau istilahnya untuk produk low end seharga Rp 50.000 per kaus.

Normalnya dalam sebulan Dian mampu meraup omzet sekitar 5 hingga 7 juta rupiah, beda lagi jika ada acara-acara besar di kota Jember, semisal yang sudah terkenal seperti acara Jember Fashion Carnaval (JFC), omzet dua kali lipat pun mampu di raihnya.

Peduli Lingkungan dan Manjakan Konsumen

Goodybag gratis dari Biru DaunSejak adanya wacana pengurangan kantong plastik bagi kelestarian lingkungan, Dian meresponnya dengan membuat kebijakan bagi usahanya, yakni memberlakukan penggunaan tas khusus bagi konsumennya. Tas tersebut terbuat dari bahan-bahan sisa produksi kaus, dikreasi kembali dengan bagus menjadi tas yang berfungsi sebagai pembungkus produk kaus Biru Daun.

“Orang beli satu pcs itu dapat satu tas jinjing,kalau beli tiga kita kasih tasnya agak besar, tas selempang. Jadi sebagai gimmick juga untuk menarik konsumen, terus ya sedikit sumbangsih untuk kampanye go green-lah,” kata Dian.

BINGUNG CARI IDE BISNIS ?
Dapatkan Ratusan Ide Bisnis Dilengkapi Dengan Analisa Usaha.
Klik Disini

Bukan hanya sekedar pemberian tas gratis untuk konsumen, di outlet Biru Daun juga diberlakukan diskon untuk konsumen yang datang dan membeli kembali produknya sambil membawa tas tersebut. “Kalau dia (konsumen) datang ke toko kita lagi bawa tas itu, dia dapat diskon 5 persen untuk semua item,” ucap Dian.

Kaus khas Jember Biru DaunDian mengakui jika menjual kaus dengan desain khas ini merupakan salah satu cara bagi masyarakat Jember untuk mencintai produk lokal. Sementara untuk konsumen diluar Jember, Dian menawarkan produknya sambil mengajak mereka untuk bernostalgia tentang kota Jember.

“Kalau untuk orangnya Jember sendiri harapan kita kaus ini gak sekedar kaus, wah ini kualitasnya bagus saya pakai ini gak malu, ini loh kaus khas Jember. Kalau yang dari luar kita jual ini memorinya, menjual romantisme masa lalu. Orang yang pernah hidup di Jember sekarang sudah merantau atau pernah singgah di Jember kan mereka punya banyak kenangan ya, harapannya mereka (ketika membeli kaus) yang di ingat di Jember itu yang bagus-bagusnya gitu loh,” kata Dian menerangkan.

Dian berharap, produknya semakin banyak dipakai masyarakat, terutama warga Jember sendiri dan keberadaan usaha Biru Daun miliknya paling tidak ikut menyumbang agar Jember makin dikenal secara luas.

Tim Liputan BisnisUKM

(/Detro)

Kontributor BisnisUKM.com wilayah Jawa Timur