Inspirasi Bisnis, Video UKM

Belajar dan Bekerja di Annabila Bordir Grobogan

Annabila BordirBerbicara tentang Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, maka orang pasti mengenal dengan tokoh legenda masyarakat setempat yaitu Ki Ageng Selo. Sebagai tokoh yang dipercaya sebagai cikal bakal raja-raja di tanah Jawa, nama Ki Ageng Selo masih sangat lekat dengan masyarakat yang terletak 10 km sebelah timur kota Purwodadi, terutama bagi warga desa Selo. Bahkan, makam beliau saat ini pun dijadikan sebagai lokasi wisata spiritual yang sangat ramai dikunjungi oleh warga masyarakat. Akan tetapi, belum banyak yang tahu jika Desa Selo ternyata juga menyimpan potensi lain yang masih sangat mungkin untuk dikembangkan, yaitu sentra produksi mukena bordir.

Tim liputan bisnisUKM berkesempatan mengunjungi Annabila Bordir yang dikenal sebagai salah satu pionir produksi mukena di wilayah Desa Selo, Kamis (9/3). Ibu Fathonah (47) selaku pemilik berujar jika usahanya tersebut sudah dirintis sejak tahun 1993. “Awalnya dari hobi, kemudian mencoba peruntungan dengan mulai menerima pesanan pembuatan aneka jenis kebutuhan busana, seperti baju, busana muslim, mukena bordir, dll,” jelasnya. Seiring berjalannya waktu, mukena bordir justru menjadi produk yang paling sering menerima pesanan. Atas dasar itulah, maka Ibu Fathonah mulai merubah fokus produksinya dengan hanya memproduksi mukena bordir.

Motif Kreasi Annabila BordirDibantu 14 orang tenaga produksi yang sebagian besar merupakan santri bimbingannya, Ibu Fathonah mengaku cukup kualahan memenuhi pesanan yang terus mengalir. Hal itu juga patut dipahami karena tenaga produksinya memang tidak difokuskan 100% membantu usahanya tersebut. “Sebenarnya tujuan utama mereka (tenaga produksi) disini adalah belajar ilmu agama, namun saya juga mengajarkan ke mereka tentang ketrampilan menjahit, dengan tujuan ketika nanti kembali ke rumah, mereka akan mengembangkan sendiri ketrampilannya tersebut,” terang Ibu Fathonah yang juga memiliki pondok pesantren.

Bersama dengan suaminya Bapak Muh. Ulin Nuha (52), Ibu Fathonah membekali santrinya dengan ilmu umum (sekolah), ilmu agama (pesantren), dan ilmu ketrampilan menjahit. “Sejauh ini semuanya berjalan dengan baik, karena mereka juga mendapat upah dari apa yang mereka kerjakan di sini (Annabila Bordir),” imbuh Ibu Fathonah. Tiga sampai dengan dua belas bulan menjadi waktu rata-rata yang dibutuhkan oleh para santri untuk bisa menguasai ilmu ketrampilan menjahit. Dengan naluri keibuannya, beliau dengan sabar membimbing anak didiknya tersebut hingga benar-benar mahir menguasai ilmu menjahit bordir.

Info Produk Annabila Bordir

Untuk bahan baku yang digunakan dalam produksi mukena bordir Annabila adalah kain Proses Produksi Mukena Bordirpolino dan kain ero. Kedua kain berbeda jenis tersebut diperoleh Ibu Fathonah dari Pasar Klewer Solo. “Saat ini kain polino harganya Rp.50.000,00/kg, sementara untuk kain ero harganya Rp.35.000,00/kg,” jelasnya. Satu kilogram kain masing-masing berukuran 8 meter, sementara untuk membuat satu buah mukena dibutuhkan 4 meter bahan baku. Dengan 8 buah mesin bordir yang dimilikinya, Ibu Fathonah mengaku dalam sehari bisa menghasilkan 2 pcs mukena halus (polino), dan 10 pcs mukena kualitas biasa (ero).

Produk kreasi mukena bordir itu kemudian dipasarkan ke berbagai wilayah, diantaranya Blora, Pati, Bantul, Solo, dan Jogja. Harga yang ditawarkan juga bervariasi, yaitu Rp.20.000,00-Rp.200.000,00/pcs, tergantung jenis kain dan motif yang digunakan. Selain dipasarkan langsung, saat ini Annabila Bordir juga melayani 57 orang agen pemasaran yang tersebar di berbagai tempat. “Banyaknya pesanan dan mitra agen tersebut, memaksa kami untuk saat ini hanya fokus dalam produksi saja, dan itupun masih kualahan,” tambahnya.

BELAJAR DAN BEKERJA DI ANNABILA BORDIR GROBOGAN

Seiring makin meningkatnya pesanan akhir-akhir ini, Ibu Fathonah mengaku bisa memperoleh omzet 50 juta/ bulannya, dengan keuntungan 15%. Menurutnya, jumlah pesanan tersebut akan mengalami lonjakan yang signifikan ketika memasuki Bulan Rajab hingga Bulan Ramadhan. Ibu Fathonah mengaku bersyukur dengan kondisi tersebut, dan berharap ke depannya usahanya itu akan lebih maju serta lebih banyak lagi anak-anak yang bisa beliau ‘sekolahkan’.

Tim liputan bisnisUKM