Berawal dari Ethnic Food Berkembang menjadi Instan Food

tiwul-instan

Ketahanan pangan masih menjadi topik yang hangat dibicarakan. Masalah ketahanan pangan bukan hanya menyangkut ketersediaan namun juga keterjangkauan oleh masyarakat. Oleh karena itu perlu adanya suatu usaha pemberdayaan ekonomi rakyat dalam program ketahanan pangan dan penganekaragaman pangan yang dilakukan dengan cara melakukan perubahan pola makan dari makanan pokok nasi ke menu bahan pangan yang lain.

Penataan pola makan yang tidak tergantung pada satu sumber pangan (beras), memungkinkan tumbuhnya ketahanan pangan keluarga yang pada akhirnya dapat meningkatkan ketahanan pangan nasional karena berkurangnya ketergantungan akan impor beras dari luar negeri. Ini sangat beralasan, mengingat sumber pangan dunia nantinya diolah dari biji-bijian, gandum, jagung, dan umbi-umbian.

Penganekaragaman pangan melalui produk olahan ubi kayu sangat mungkin untuk dikembangkan. Hanya saja perlu adanya modifikasi agar lebih menarik bagi konsumen. Tiwul adalah makanan pokok pengganti nasi beras yang dibuat dari ubikayu atau ketela pohon atau singkong khas masyarakat pegunungan kidul (Pacitan, Wonogiri, Gunung Kidul). Mengkonsumsi tiwul bukan berarti keadaan masyarakat itu miskin, rawan pangan, kelaparan, tetapi hal ini lebih merupakan budaya/perilaku pola makan masyarakat setempat yang telah ada sejak dulu. Ada yang bilang “kalo belum makan tiwul ya artinya belum makan”

Makanan yang dipandang sebelah mata ini ternyata memiliki nilai nutrisi yang bisa dijadikan sumber kalori alternatif utama. Keunggulan berdasarkan aspek nutrisi dibandingkan dengan padi adalah lemak, kalsium, zat besi, vitamin A dan C. Bila tepung ubi kayu dicampur dengan 18 persen tepung kedelai, tepung komposit tersebut menjadi bahan pangan pokok yang bergizi tinggi dan lebih lengkap dibandingkan dengan padi.

Dalam perkembangannya, tiwul dapat menjadi pangan alternatif atau makanan fungsional yang dapat memembus kalangan menengah perkotaan layaknya roti atau mie. Hal ini dapat terwujud dengan lahirnya produk tiwul instan yang dikemas dengan kemasan plastik yang menarik. Selain memperpanjang masa simpannya, diharapkan dengan ditawarkannya produk siap saji dalam bentuk tiwul instan akan dapat meningkatkan antusiasme masyarakat untuk mengkonsumsinya, sehingga tujuan dari penganekaragaman pangan yang mendukung terciptanya ketahanan pangan dapat terwujud. Mau tau bagaimana cara membuat tiwul instan??

Bahan :

•Ubi kayu kuning
•Tepung tempe

Alat-alat :

•Seperangkat alat dapur
•Kompor
•Penggiling

Proses Pembuatan:

1.Persiapan bahan meliputi, pengupasan, pemotongan dan pencucian, kemudian dilakukan penjemuran dibawah sinar matahari atau menggunakan alat pengering hingga kering (ka. 12%).

2.Setelah ubi kayu kering dilakukan penggilingan hingga menjadi tepung.

3.Tepung gaplek dicampur secara merata dengan tepung tempe (15%).

4.Pengukusan dilakukan untuk mematangkan adonan dan dilakukan selama 20-25 menit dengan suhu 85-90 oC sehingga dihasilkan tiwul.

5.Tiwul yang telah dikukus dikeringkan kembali dalam oven atau sinar matahari sehingga cukup kering (diperoleh tiwul instan), sebelum dikemas tiwul harus didinginkan terlebih dahulu pada suhu ruang.

Tepung tempe dapat diganti dengan tepung jagung, tepung kacang-kacangan, dan lain – lain. Dengan menambahkan tepung kacang – kacangan, jagung dan lain – lain dapat meningkatkan kandungan protein tiwul instan. Apabila akan dikonsumsi, tiwul instan tinggal dikukus saja.

Lalu bagaimana rasa tiwul? Tiwul memiliki rasa yang khas. Rasa tiwul kualitas baik agak manis akibat sebagian karbohidrat dalam pati singkong terfermentasi menjadi gula pada proses pembuatan gaplek maupun penepungan. Cara mengkonsumsi tiwul ada dua macam. Sebagai “snack” tiwul dimakan dengan kelapa parut. Bisa diberi gula (pasir atau merah), bisa juga diberi garam. Namun sebagai makanan pokok pengganti nasi, tiwul dikonsumsi dengan sayuran dan lauk-pauk misalnya dengan ikan asin, sambel terasi atau sayur pedas yang terbuat dari santan, cabe dirajang serta dicampur tempe.

Sebenarnya masih banyak sumber daya alam kita yang memiliki potensi untuk terus dikembangkan. Mari kita ikut membangun bangsa ini dengan mewujudkan ketahanan pangan yang tangguh melalui usaha penganekaragaman pangan hasil bumi kita sendiri serta berusaha untuk memasyarakatkannya.

2 thoughts on “Berawal dari Ethnic Food Berkembang menjadi Instan Food”

  1. Pak mau tanya singkong kasesat,thailan,adira(masuk dlm katagori singkong racun tapi masuk dlm kata gori bahan pembuat aci/tepung tapioka) bisa enggak utk bahan pembuat tiwul instan???? Trimakasih

    Reply

Leave a Comment

Bingung Cari Peluang Usaha?

Yuk Gabung Jadi Agen/ Mitra Waralaba