Inspirasi Bisnis

Dayang Songket Collection, Angkat Perekonomian Penenun Sambas

Owner Dayang Songket Collection Mulai menenun sejak tahun 1990,  Imtihani atau yang akrab disapa Dayang (53) sudah mulai memproduksi kain songket Sambas di rumahnya yang beralamat di Desa Nagur, Kabupaten Sambas. Namun waktu itu kain songket buatannya belum diberi merek, Dayang hanya menjual kain songket Sambas dalam jumlah terbatas, ketika ada yang datang memesan kain.

“Kala itu masih saya sendiri yang mengerjakannya, belum punya karyawan,” ujar Dayang.

Di tahun 2000, Dayang mengadu nasib ke Pontianak dan mendirikan CV. Dayang Songket Collection. Kala ini, Dayang menyulap rumahnya menjadi tempat produksi bagi para perajin kain songket khas Sambas. “Saya kerap pulang-pergi Pontianak – Sambas untuk memantau 50  karyawan yang semuanya merupakan perempuan asli Sambas, ditambah pekerja lepas sebanyak enam orang perempuan. Di sana juga terdapat lebih dari 50 buah suri (alat pembuat kain songket),” ungkapnya.

Kerajinan tas buatan Dayang Songket CollectionSejak merintis usahanya, Dayang terbilang aktif mengikuti pameran kerajinan di kota-kota besar di Indonesia. Contohnya saja seperti di Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Lampung, Palembang, Medan, Bali, Batam, hingga Manado. Bahkan Ia pernah mengikuti pameran di beberapa negara tetangga, seperti mengikuti pameran di Kuching, Malaysia, Brunai Darussalam, Jepang, dan Belgia.

“Sekarang ini kami memproduksi kain songket Sambas, kain cual  (bahannya lebih halus dari Songket), sarung bantal kursi, syal, baju, sandal dan sepatu wanita, kopiah, sajadah, tas wanita, clutch atau dompet, dan sarung HP dari bahan Kain Songket Sambas,” kata Dayang.

Baca Juga Artikel Ini :

Bawa Suri ke Pontianak, Kurniawati Produksi Kain Tenun Sambas

Warung Sambal Nek Uwan, Andalkan Menu Sambas Tempo Doeloe

Selain mengangkat kain songket Sambas sebagai motif utamanya, Dayang juga membuat produk kerajinan dari kain corak insang khas Melayu Pontianak, kain bermotif Dayak Putussibau, Tenun Ikat Sintang, serta beberapa jenis batik motif Kalimantan yang semuanya dilukis sendiri oleh Dayang. “Beberapa benangnya juga dibuat dengan pewarnaan alami,” tambahnya.

Sandal dayang Songket CollectionKini, dibawah naungan CV. Dayang Songket Collection, kerajinan kain songket sambas dijual dengan harga mulai dari Rp 500.000 – Rp 6 juta. Sedangkan kain cual dibandrol dengan harga yang lebih murah, yakni sekitar Rp 400.000 – Rp 1 juta/ potong. Dari bisnis kerajinan tenun yang Ia jalankan, setiap bulannya Dayang mampu meraih omzet mencapai Rp 50 juta.

Tak omzet besar saja yang Ia dapatkan, segudang prestasi pun pernah diraihnya. “Saya pernah mendapat penghargaan Pengusaha Indonesia Berprestasi 2012 dari Yayasan Nirwana Indonesia, Jakarta, dan penghargaan sebagai pelopor dalam mengembangkan dan melestarikan batik di daerah Pontianak, Provinsi Kalbar dalam rangka Hari Batik Nasional 2013  yang diberikan oleh Yayasan Batik Indonesia. Kedepan, saya ingin lebih kreatif lagi dalam berkarya,” ujarnya.

BINGUNG CARI IDE BISNIS ?
Dapatkan Ratusan Ide Bisnis Dilengkapi Dengan Analisa Usaha.
Klik Disini

Kain Songket SambasDayang mengatakan, selama ini pelanggan yang sering memesan kain batik Kalimantan bermotif Dayak dalam jumlah banyak berasal dari instansi pemerintah di Kabupaten Landak dan Kabupaten Kayong Utara, Kalbar. “Pernah juga Dinas Pendidikan Provinsi Kalbar memesan  40 potong kain cual disini. Desainer dari Jakarta juga memesan kain songket Sambas dengan saya,“ kata Dayang dengan bangga.

Dayang mengaku, ia memang tidak pernah menurunkan harga jual kain songket Sambas buatannya, meskipun saat mengikuti pameran. Strategi ini sengaja Ia jalankan karena selain bahan yang Ia gunakan merupakan kualitas nomor satu, ia juga membayar para pengrajin dengan upah tinggi dari pelaku UMKM sejenis.

“Kalau kita menjual murah, bagaimana bisa membayar upah tinggi kepada mereka?” ucap Dayang seraya mengakhiri pembicaraan dengan Tim BisnisUKM.

Tim Liputan BisnisUKM

(/Vivi)

Kontributor BisnisUKM.com wilayah Kalimantan Barat