Dulu Reseller Kini Jadi Supplier Mainan Edukatif

Bisnis mainan edukatif Mengawali karir bisnisnya dari menjadi seorang reseller, Ricky Aditya (29) tak pernah menyangka bahwa kini Ia bisa menjadi supplier mainan edukatif dan produk-produknya sudah mulai dipasarkan ke beberapa toko mainan yang ada Jawa Barat dan sekitarnya.

Ketika ditanya mengenai awal mula merintis usaha, pengusaha muda yang akrab dipanggil Ricky ini mengaku dulunya Ia hanya seorang reseller dari salah satu produk mainan edukatif dan hanya melakukan pemasaran lewat aplikasi Blackberry Messenger. “Saya memasarkan mainan edukatif kepada kerabat dekat, teman, tetangga dan beberapa kontak yang ada di daftar kontak BBM saya,” jelasnya kepada tim liputan BisnisUKM.com.

Seiring dengan berjalannya waktu, Ricky pun mulai menitipkan mainan edukatif tersebut di klinik ibu dan anak karena pada saat itu istrinya sedang hamil anak pertama. “Alhamdulillah dari hasil penjualan di klinik tersebut bisa saya belanjakan lagi untuk membeli mainan yang lebih banyak. Dari satu klinik saya mencoba untuk menitipkan kembali mainan edukatif ini ke beberapa toko mainan anak di kota Bandung tempat saya tinggal. Respon yang saya dapat ternyata diluar dugaan, dan penjualan setiap toko saya alokasikan untuk belanja mainan lagi,” ungkapnya.

Bermitra Dengan Pengrajin Kayu yang Sedang Pailit

Proses pembuatan mainan edukatifSuatu hari Ricky mendapatkan liputan dari sebuah media cetak besar yang ada di Jawa Barat, dari situ Ia mulai berkenalan dengan pengrajin mainan kayu yang kondisi usahanya pada saat itu sedang pailit dan bangkrut karena tidak memiliki pasar dan kurang fokus. “Akhirnya pengrajin itu saya pekerjakan untuk memproduksi mainan saya hingga saat ini,” kata Ricky.

Saat ini dengan mengusung Seven Crayon sebagai brand produknya, Ricky sudah memiliki toko langganan yang setiap bulan rutin meminta produk mainan edukatif untuk di display di toko mereka. “Kami juga mendapatkan pesanan dari beberapa instansi pemerintahan kabupaten dan kota di Jawa Barat. Perkembangan yang kami alami cukup pesat, hanya dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun kami bisa membuka toko offline dan memiliki tempat produksi walaupun masih kecil kecilan,” tuturnya.

Selama menjalankan bisnis mainan edukatif, Ricky mengaku pesatnya persaingan pasar dan regulasi pemerintah tentang SNI yang cukup rumit menjadi tantangan tersendiri bagi dirinya. “Kedepannya kami memiliki target dan harapan untuk bisa memiliki legalitas lengkap, memiliki sertifikat SNI Mainan, memiliki pabrik yang lebih besar dan lebih produktif lagi,” harap Ricky.

Di akhir sesi wawancara kami, Ricky tak sungkan untuk berbagi tips dan kunci kesuksesan bisnis yang dijalankan saat ini. “Kunci sukses menurut saya dalam berbisnis adalah membangun relasi sebanyak-banyaknya dan fokus pada satu bidang usaha,” pesannya bagi seluruh member BisnisUKM.com.

Tim Liputan BisnisUKM

1 Komentar

Comments are closed.