GEBER UMKM: Momen Pelaku Usaha Untuk Naik Kelas

Geber umkm jadi program dari kementerian koperasi UKM yang diresmikan pada April 2021, berbarengan dengan acara Jabar Paten. Geber adalah langkah menyinergikan usaha mikro, kecil, dan menengah dalam satu gerakan bersama. Progam Gerakan Indonesia Bersama Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (GEBER) adalah bentuk usaha pemerintah untuk mendukung umkm bangkit di tengah situasi pandemi.

 Program geber umkm ini merupakan salah satu cara untuk mempercepat pemulihan ekonomi. UMKM memiliki arti penting bagi perkembangan ekonomi Indonesia. Teten Masduki, selaku menteri koperasi dan ukm mengatakan bahwa 64 juta UMKM berkontribusi 14% terhadap totoal ekspor non migas, 60% total investasi, 97% total tenaga kerja, dan 61% total PDB Nasional.

Situasi pandemi punya dampak besar bagi perkembangan UMKM Indonesia. Menurut data dari wartaekonomi.co.id, sebanyak 80% tercatat mengalami penurunan pendapatan. Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa beberapa pelaku usaha, terutama perempuan, tidak memiliki akses sama dalam pembiayaan pemerintah.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, geber umkm menarik beberapa asosiasi, komunitas, hingga organisasi masyarakat untuk merealisasaikan konsep #UMKMNaikKelas, dengan cara melakukan pendamping untuk umkm. Saat ini ada delapan lembaga yang telah bersedia melakukan pendamping, ke depannya jumlah pendamping akan terus bertambah.

Lewat platform twitter, kemenkop ukm  mengatakan bahwa program ini dijalankan melalui Sparc Campus dan Sparc Trac yang dikembangkan oleh smescoindonesia lewat kerjasama dengan beberapa pihak.

Gandeng Organisasi Untuk Perkuat Geber UMKM

Dari data kemenkop, sudah ada delapan organisasi masyarakat, komunitas, dan asosiasi yang telah bekerjasama. Jumlahnya akan terus bertambah seiring dengan pengembangan program ini. Data organisasi/komunitas/asosiasi yang terlibat adalah sebagai berikut:

1. Amen (ASEAN Mentorship Entrepreneurs Network) Indonesia: Saat ini memiliki 1.540 UMKM dampingan, dengan jumlah pendamping 478.

2. BDS (Business Development Services Association) Indonesia: Saat ini memiliki umkm dampingan sebanyak 54.167, jumlah pendampingan 2.240.

3. Fokus Usaha Mikro Kecil Menengah (non goverment organization yang bergerak di bidang Investment dan Community Development): Terdapat 20.542 ukm dampingan dengan jumlah pendamping sebanyak 3.122.

4. idEA (Indonesian E-Commerce Association): on-boarding digital UMKM Sealam BBI adalah 4.300.878.

5. Mercy Corps: total umkm dampingan mencapai 40.000 dengan pendamping yang tersedia 10.000.

6. ICCN (Indonesia Creative Cities Network): Total dampingan mencapai 10.000+ dengan pendamping 6000+.

7. ICSB (International Council for Small Business): ukm dampingan 1000 dengan jumlah pendamping 200.

8. Yukbisnis: umkm dampingan berjumlah 62.712 dengan alumni program 5.500.

Tingkatkan Ekosistem Digital dengan Geber UMKM

Konsep dari program Gerakan Indonesia Bersama Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah adalah gotong royong. Teten melaporkan bahwa sinergi yang dihadirkan oleh seluruh lembaga telah membuat ukm naik kelas. Saaat ini angka UMKM yang telah melakukan digitalisasi tumbuh mencapai angka 19%, yang berarti ada penambahan 12 juta UMKM.

Program ini menyasar kolaborasi 30 juta UMKM, dengan 500.000 produk akan muncul pada 2023 nanti. 30 juta UMKM diharapkan akan mulai memfokuskan pada penjualan platform digital (onboarding digital).

Oleh karena itu, materi yang dibutuhkan untuk UMKM meliputi: literasi digital, pengembangan kapasitas SDM, hingga peningkatan kapasitas produksi dan kualitas. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pemerintah akan berencana untuk mengadakan banyak program lanjutan dari Geber UMKM.

Dua Faktor Penghambat Kemajuan UMKM

Situasi UMKM Indonesia masih kalah jauh dari Vietnam. Negara tersebut mampu menyediakan dana hingga Rp19 miliar dan menghasilkan banyak wirausaha. Saat ini ada dua faktor penghambat pengembangan UMKM di Indonesia. Fakor pertama adalah rendahnya produktivitas, dan kedua daya saing UMKM. Dua hal tersebu yang membuat UMKM tidak bisa bersaing di pasar.

Produktivitas umkm yang masih rendah mendorong pemerintah untuk melakukan impor daripada melakukan penyerapan. Permasalahannuya, UMKM belum saling terintegrasi, sehingga proses jual-belinya masih perorangan. Skala ekonomi yang sangat kecil membuat produk UMKM tidak bisa dihitung dalam neraca ekonomi nasional.

Pendampingan dari kelompok-kelompok swasta akan membantu mengatasi hambatan produktivitas UMKM. Oleh karena itu, sinergi pemerintah-masyarakat-swasta dibutuhkan untuk mengatasi rendahnya penyerapan produk UMKM sekaligus mempersiapkan sektor ini untuk naik kelas dengan digitalisasi.

Persoalan kedua meliputi rendahnya daya saing UMKM. Daya saing dapat diartikan sebagai kemampuan menghasilkan produk yang memenuhi standar sekaligus dapat menciptakan dan memelihara pendapatan yang berkelanjutan, hingga membuka kesempatan kerja yang tinggi.

Salah satu kunci peningkatan daya siang UMKM adalah dengan menjalin kolaborasi dengan pihak-pihak tertentu serta go digital. Oleh karena itu, UMKM diharapkan untuk masuk ke dalam program GEBER UMKM.

Pemerintah saat ini sedang gencar-gencarnya membuka kesempatan bnagi UMKM untuk melakukan pengembangan. Hal ini tidak terlepas dari faktor bahwa UMKM ternyata bisa jadi faktor kenaikan tingkat ekonomi nasional yang potensial. Selain itu, UMKM telah bantu memperluas kesempatan kerja.

Ikuti terus informasi menarik seputar peluang usaha lainnya hanya di BisnisUKM.com

Leave a Comment