Kreasi Usaha Kerajinan Decoupage Laku Mahal di Pasaran

Proses produksi kerajinan decoupagePernahkah terpikirkan jika ada suatu kerajinan yang terbuat dari tissue? Padahal sifat tissue itu mudah rusak dan hancur. Tissue digunakan hanya sekali pakai, misalkan untuk membersihkan benda yang kotor atau untuk menyerap kelebihan minyak pada makanan yang digoreng.

Selain digunakan untuk hal-hal tadi, tissue ternyata bisa juga dipakai sebagai bahan dasar untuk membuat kerajinan agar tampak indah dan anggun serta memiliki nilai seni. Tapi jangan salah, tissue yang digunakan bukanlah tissue biasa tetapi tissue khusus yang disebutServietten. Lantas bagaimana caranya membuatnya.

Decoupage berasal dari bahasa Perancis, Découper, berarti memotong. Decoupage merupakan seni menghias benda dengan cara menempelkan kain atau kertas pada permukaan benda tersebut menggunakan lem khusus. Kerajinan Decoupage menggunakan tissue Servietten bisa di aplikasi pada media apa saja, misalnya kaca, kain, kayu maupun kaleng dan kulit sintesis.

Seperi yang dilakukan dua ibu rumah tangga di Kabupaten Jember Jawa Timur ini. Reny Indriana dan Rakhma Kartika namanya. Mereka mulai mengembangkan usaha kerajinan Decoupage dari hobinya membuat kerajinan tangan. Reny bertugas mengelola promosi dan pemasaran, sedang Rakhma mengurusi hal teknis pembuatan produk.

Kedua ibu rumah tangga yang bersahabat sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama ini memfokuskan kerajinan Decoupage yang mereka buat khusus di aplikasi pada media anyaman dari rotan, bambu, daun lontar serta anyaman daun pandan.

Kerajinan decoupageSekilas tas dari anyaman daun lontar atau dompet dari anyaman daun pandan terlihat biasa saja, namun setelah di proses tampilan tas dan dompet tampak berbeda dengan tambahan motif bunga-bunga berwarna cerah pada bagian permukaannya. Begitu juga pada kipas anyaman bambu yang sudah diberi sentuhan Decoupage tampak lebih anggun dan bernilai seni.

“Kebetulan sih kita mengaplikasikan ke semua (benda), untuk saat ini banyak ke cloutch (sejenis dompet besar) sama tas tetapi kemarin-kemarin ada ke kayu untuk hiasan dinding bisa juga ke bahan-bahan sintetis, ke mebel juga bisa dan kita menerima di aplikasikan ke mebel yang mereka (konsumen) minta dengan tema seperti di costum model vintage dan macam-macam seperti itu,” kata Reny.

Baca Juga Artikel Ini :

Membuat Kerajinan Akar Keladi Air Khas Kalbar

Produk Kerajinan Serat Alam Tembus Pasar Internasional

Selain itu, produk yang mereka buat memiliki keunikan tersendiri, seperti pada anyaman tas, kedua sisi tas mempunyai gambar atau motif yang berbeda. Ini yang disukai konsumen kata Reny. “Disini keunikan kita, tas itu kita buat dua sisi gambar yang berbeda, lumayan iritlah jadi punya satu tas tapi bisa dengan dua sisi yang berbeda gambarnya,” ujarnya.

Produk kerajinan Decoupage yang di jual Reny dan Rakhma ke pasaran memiliki variasi harga, untuk cloutch kecil dibandrol Rp.130.000, tas besar dari anyaman daun lontar dibandrol Rp.400.000 hingga Rp.500.000 tergantung dari tingkat kesulitan dan banyaknya motif hiasan yang digunakan.

Sedangkan untuk produk dari kayu dan bambu seperti kipas, talenan dan hiasan dinding, di bandrol mulai dari Rp. 50.000 hingga Rp.100.000. Dari usaha kerajinan ini dalam sebulannya mereka mampu meraih omzet Rp.3.000.000 hingga Rp.5.000.000.

Gandeng Perajin Anyaman dan Ibu Rumah Tangga

Owner Reka DecoCraftReny dan Rakhma memang belum mampu memproduksi kerajinan anyaman sendiri, tetapi mereka menjalin kerjasama dengan para perajin anyaman dari Jember dan luar kota. Produk setengah jadi dari para perajin anyaman mereka beli, kemudian di kreasi kembali sampai siap dipasarkan. Mereka juga menjalin komitmen untuk saling mempromosikan.

Untuk proses produksi kerajinan Decoupage, Reny dan Rakhma juga mengajak ibu-ibu rumah tangga di lingkungan mereka untuk membantu. Sedikitnya 5 ibu rumah tangga menjadi pekerja tetap, namun jika ada banyak pesanan, tak kurang dari 10  ibu rumah tangga terlibat didalamnya. Ibu-ibu rumah tangga ini mendapat penghasilan dari hasil keuntungan penjualan produk.

“Proses produksi itu memperkaryakan teman-teman, tetangga sekitar memang ibu rumah tangga dan istilahnya untuk mengisi waktu luang, karena ini kan bisa disambi juga dengan kegiatan masing-masing jadi gak terbatas dengan waktu yang dia punya,” terang Reny.

Namun sebelum terlibat dalam proses produksi, ibu-ibu rumah tangga ini diberikan pelatihan terlebih dahulu. “Awal kita latih untuk menggunting dulu sampai mengguntingnya setiap sudut rapi baru kita ajari tahap berikutnya menempel, setelah itu kita ajari lagi mengoles pernisnya,” kata Rakhma menjelaskan.

Biasanya kaum ibu rumah tangga dalam pelatihan diberikan media yang terkecil dulu, hal itu dilakukan semata-mata agar mudah beradaptasi dalam proses produksi selanjutnya.

BINGUNG CARI IDE BISNIS ?
Dapatkan Ratusan Ide Bisnis Dilengkapi Dengan Analisa Usaha.
Klik Disini

Selain penjulan dan promosi via online mereka berharap konsumen datang langsung ke tempat mereka. “Lebih enak kalau melihat langsung barang dari pada via foto, dari luar kota juga ada, kebetulan sih sudah ada yang masuk (pesanan) dari negara tetangga sebagian kecil,” ucap Reny.

Sering juga mereka diminta untuk mengisi pelatihan membuat kerajinan Decoupage. “Biasanya yang datang kesini itu perorangan, kita kumpulkan jadi satu maksimal 5 orang kita ajari. Tetapi yang paling banyak permintaan dari instansi, komunitas-komunitas seperti itu,” ujar Rakhma.

Bisnis kerajinan decoupageSelepas dilatih dan dirasa sudah mampu membuat kerajinan Decoupage, para peserta pelatihan biasanya datang kembali menemui Reny dan Rakhma. “Mereka kembali kesini beli bahan baku, beli tas yang masih kosongan, mereka hias sendiri sesuai keinginan mereka desainnya,” kata Rakhma.

Tak hanya pelatihan dan menjual produk jadi, Reni dan Rakhma juga menyediakan kebutuhan bahan baku pembuatan kerajinan Decoupage, seperti menjual paket bahan baku pembuatan kerajinan Decoupage terdiri dari lem khusus, kuas, cairan pernis dan tissue Servietten. Masing-masing paket untuk lem khusus dan cairan pernis ukuran kecil mereka jual seharga Rp.50.000 sedangkan yang besar Rp.100.000.

Mereka mengatakan jika paket-paket itu dapat digunakan membuat kerajinan Decoupage dalam jumlah banyak dan itu cocok bagi mereka yang ingin menyalurkan hobi membuat kerajinan atau untuk menghias barang-barang dirumah.

Reny dan Rakhma juga mempersilahkan mitra pelatihannya untuk menentukan sendiri produk kerajinan Decoupage untuk dipasarkan. “Kalau misalnya dia mau jual sendiri boleh, mau masuk ke kita seperti itu sistem penitipan juga boleh dan itu ada sistemnya, karena kan bisa menjadi lapangan pekerjaan yang baru bagi orang lain,” terang Reny.

Tim Liputan BisnisUKM

(/Detro)

Kontributor BisnisUKM.com wilayah Jawa Timur

4 thoughts on “Kreasi Usaha Kerajinan Decoupage Laku Mahal di Pasaran”

Leave a Comment

Bingung Cari Peluang Usaha?

Yuk Gabung Jadi Agen/ Mitra Waralaba