Inspirasi Bisnis, Pengusaha Sukses

Kreasi Rajut Menjadi Bisnis Sampingan Ibu Rumah Tangga

Menjadi ibu rumah tangga bukan menjadi penghalang bagi seseorang untuk menekuni serta mengembangkan sebuah usaha. Bahkan dengan banyaknya waktu luang yang dimilikinya, justru banyak ibu rumah tangga yang memanfaatkan waktu luangnya dengan aktifitas yang bersinggungan dengan dunia usaha. Seperti halnya yang dilakoni oleh Maryati (26), yang sejak dua tahun belakangan ini menekuni bisnis sampingan kreasi rajut di rumahnya sembari melakoni peran utamanya sebagai seorang ibu rumah tangga.

MaryatiAwalnya, istri dari Dadang Darmawan (32) tersebut tidak berniat mengembangkan kreasi rajutnya ke arah komersil. “Jujur pertama kali hanya sebatas iseng, pengisi waktu luang saya sebagai seorang ibu rumah tangga, namun beberapa produk kreasi yang saya produksi saat itu ternyata diminati banyak orang, terutama dari teman dan para tetangga, dari situlah saya mulai berfikir untuk menjadikannya sebagai sebuah bisnis yang berorientasi komersial,” jelasnya kepada tim liputan bisnisUKM.

Merintis Usaha Rajut Secara Otodidak

Dari segi skill produksi, Maryati mempelajarinya secara otodidak. Kebetulan, di sekitar lokasi tempat tinggalnya tidak sedikit para pelaku UMKM yang memproduksi kreasi rajut. Adanya kemudahan dalam menggali informasi dan ilmu tentang kerajinan rajut membuat Maryati semakin mantap untuk menekuninya. “Tidak bisa dipungkiri alasan ekonomi menjadi faktor utama niatan saya dalam mengembangkan usaha ini, selain memang seperti ada rasa kepuasan ketika produk yang saya buat banyak yang menyukainya,” ujarnya.

tas rajutMengusung Iloed Rajut sebagai brand usahanya, Maryati saat ini mampu memproduksi bros rajut, tas rajut, dompet rajut, sarung bantal rajut, dll. “Saat ini saya masih sebatas hanya melayani pesanan, karena adanya keterbatasan modal jika harus membuat stok dalam jumlah besar,” terangnya sembari tersenyum. Namun keterbatasan tersebut tidak mengurangi semangat Maryati dalam menciptakan kreasi produk yang dipasarkannya melalui pasar Sunday morning UGM dan media online.

“Seminggu sekali saya rutin memasarkan produk ini di sunmor (Sunday morning) UGM, dan responnya sangat positif karena pasti ada yang laku,” ujarnya. Selain sunmor, Maryati juga memanfaatkan media sosial khusunya facebook dalam menjaring konsumen dari dunia online. Adanya dunia online memberikan kesempatan bagi Maryati membuka sistem reseller, meskipun sejauh ini belum memberikan konversi yang cukup signifikan bagi perkembangan usahanya.

Dibantu dua orang tenaga produksinya, Maryati mampu memproduksi pesanan tas dalam jangka waktu 2 hari. Sementara untuk dompet rajut bisa diselesaikannya dalam waktu 2-3 jam. Sedangkan bros bisa diproduksi hanya dalam waktu maksimal 20 menit. “Meskipun secara umum kami hanya melayani pesanan, namun sebagai persediaan produk untuk Sunday morning UGM, kami mau tidak mau harus bikin stok sampel,” imbuh ibu satu orang putra tersebut.

Kreasi tas rajutDalam menjaga kualitas produknya, Maryati selalu melakukan control pada setiap kreasi tenaga produksinya. Hal tersebut dilakukan semata-mata untuk menjaga kepercayaan dari para pelanggannya, baik pelanggan offline maupun dari online. “Sejauh ini comment mereka (pelanggan) cukup positif, bahkan banyak yang bilang dengan harga yang tergolong murah, tetapi kualitas produknya tidak murahan,” katanya.

Untuk harga, Maryati mematok Rp.30.000,00 s.d. Rp.80.000,00/ pcs untuk dompet rajut, Rp.100.000,00 s.d. Rp.350.000,00/ pcs untuk tas rajut, dan Rp.2.000,00 s.d. Rp.5.000,00/ pcs untuk bros. Dengan patokan harga segitu, Maryati mengaku dalam sebulan bisa mengantongi omzet 1,5 juta Rupiah.

Di akhir wawancaranya, Maryati berharap ke depan bisa memiliki showroom sendiri. Dengan adanya showroom, dirinya bisa lebih meningkatkan kapasitas produksi, bahkan memproduksi bahan bakunya sendiri. “Secara umum memang bahan baku menjadi kendala kami saat ini, karena di toko tidak setiap saat apa yang kami inginkan tersedia,” jelasnya. Salam sukses!

Tim liputan bisnisUKM