Inspirasi Bisnis, Video UKM

Kreasi Tas Anggun Rotan Tembus Pasar Mancanegara

Kreasi Tas Anggun Rotan Tembus Pasar Mancanegara

Selama ini rotan dikenal sebagai bahan baku industri meubel serta furniture seperti kursi, meja, dan beragam perangkat rumah tangga lainnya. Namun di tangan seorang Panut Mulyawiyata (42), bahan baku rotan bisa ‘disulap’ menjadi beragam kreasi tas unik yang mampu menembus pasar ekspor. Berbekal pengalaman kerja selama 10 tahun dalam produksi meubel rotan, Pak Panut memutuskan untuk membuka usaha sendiri pada tahun 2001. Mengusung Anggun Rotan sebagai nama usahanya, Pak Panut berusaha menciptakan kreatifitas baru dalam bidang kerajinan rotan dengan memproduksi jenis tas dan keranjang rotan.

Ditemui di lokasi produksinya Jl. Imogiri Wukirsari Bantul, Selasa (6/12), Pak Panut berujar mengenai awal mula mengembangkan usahanya tersebut. “Indonesia merupakan salah satu penghasil rotan mentah terbesar di dunia, namun sebagian besar justru diekspor ke luar negeri, oleh karena itu dengan mendirikan Anggun Rotan ini, kami berusaha menciptakan pasar baru agar rotan tidak serta merta diekspor dalam kondisi bahan mentah, karena bisa mematikan industri rotan dalam negeri” ujarnya. Dengan kreativitas yang dimilikinya, Anggun rotan kini mampu tumbuh menjadi salah satu produsen tas rotan yang melayani pesanan produk untuk skala nasional dan internasional (ekspor).

Tas RotanDibantu 40 orang tenaga produksinya, Anggun Rotan saat ini memiliki 260 jenis kreasi produk berupa tas dan keranjang. “Yang kami produksi 90% tas, sementara sisanya basket (keranjang), ide ataupun desain dari masing-masing produk tersebut merupakan inovasi kami sendiri, namun ada juga yang merupakan desain langsung dari customers,” imbuh Pak Panut. Dalam sebulan, mereka (Anggun Rotan) mampu memproduksi 2.000 pcs aneka produk rotan, baik tas maupun keranjang. Namun, kapasitas tersebut dipastikan akan melonjak saat pesanan mengalir, baik dari pesanan lokal, maupun dari mancanegara.

Menurut Pak Panut, saat ini pihaknya mengambil bahan baku rotan dari wilayah Kalimantan dengan harga Rp.26.000,00/ kg. Bahan mentah tersebut kemudian diolah menjadi produk kreatif sesuai dengan desain yang telah disepakati. “Tahapan-tahapan untuk membuat kreasi tas rotan maupun produk lainnya secara proses hampir sama, yaitu diawali dari menyesuaikan cetakan, kemudian penganyaman, pewarnaan, pengecatan, setelah itu dijahit, dikasih asesoris, sampai dengan packing produk,” jelasnya. Dibutuhkan ketelitian dan ketelatenan agar produk yang dihasilkan memiliki bentuk yang sempurna, sesuai dengan permintaan customers.

Strategi Pemasaran

Bapak Panut MulyawiyataSelama ini, dalam memasarkan produknya, Anggun Rotan memanfaatkan pameran dan melalui media online (website). “Perbandingannya 70% pameran, 30% dari internet, dan selama ini para buyers yang berasal dari pameran biasanya ordernya dalam jumlah besar, sementara yang berasal dari internet kebanyakan eceran,” imbuh Pak Panut. Hingga saat ini, produk kreasi Anggun Rotan sudah tersebar ke berbagai daerah diantaranya Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali, Kalimantan, dan Medan. Bahkan mampu menembus pasar mancanegara, yaitu Jepang, Iran, Brazil, Singapore, Turki, dan Malaysia.

Dengan harga produk Rp.50.000,00-Rp.200.000,00/ pcs, Anggun Rotan saat ini mampu memperoleh omzet rata-rata 80 juta/ bulannya, dengan keuntungan 15%. Harga yang dipatok Anggun Rotan tersebut disesuaikan dengan model, tingkat kerumitan, dan eksklusifitas desainnya. “Kreasi seperti ini (tas rotan) memiliki tingkat kerumitan yang cukup tinggi, sehingga dengan harga demikian sangatlah wajar, karena sebanding dengan kualitasnya,” kata Pak Panut.

Anggun RotanDi akhir wawancaranya dengan tim liputan bisnisUKM, beliau berharap usahanya (Anggun Rotan) tersebut mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas produknya. Hal itu tentunya didukung dengan kualitas SDM dan ketersediaan bahan baku yang memadai. “Dengan kebijakan pemerintah yang saat ini mulai menghentikan/ melarang ekspor bahan mentah rotan ke luar negeri, semoga bisa menjadi solusi agar para pengusaha rotan seperti saya mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas produk kreasinya,” terang Pak Panut.

Tim liputan bisnisUKM