Pebisnis Yang Selalu Ingin Menciptakan Karya Inovatif

pebisnis inovatif

Bisnis utamanya general supllier dan berkembang ke arah divisi pertamanan. Saat ini kliennya adalah BUMN-BUMN yang beroperasi di wilayah Jogjakarta. Selain nilai kontraknya yang cukup besar, kontrak-kontraknya berkesinambungan. Menurut Bondan Danu Kusuma, pendiri BAF (Barokah Adiniaga Firdaus), pekerjaan umum merupakan proyek pemerintah yang mempunyai anggaran terbesar setelah pendidikan. Pada saat kondisi krisis global yang melanda saat ini,dengan banyaknya PHK, pemerintah berusaha mengatasi dengan meningkatkan proyek-proyek padat karya.

Saat ini bisnis general supllier sudah berjalan stabil dan sudah mempunyai sistem manajemen yang baik sehingga tinggal menyelaraskan dengan proyek – proyek yang sedang ditangani dan sedikit bisa mengalihkanb fokus ke divisi usaha lainya.Selain general supllier, usaha peternakan kambing etawa juga digeluti. Hanya saja perkembangan ternak kambing dewasa ini sangat berbeda dan lebih berkembang dibandingkan dahulu. Bila dulu ternak kambing hanya diambil daging dan keturunannya, sekarang diambil susu dan kotorannya sebagai pupuk kandang. Selain itu juga citra kambing etawa naik cukup bagus.Tidak heran apabila beberapa waktu lalu dia berhasil menjual seekor kambingnya dengan harga Rp75.000.000,-.

Saat ini BAF termasuk pemain tingkat atas diantara pemain lama di bidang general supllier seperti Diamon dan Mutiara.Produk buis beton BAF termasuk yang terbaik,begitu juga produk pagar beton dan penyewaan scafolding. Walaupun secara resmi baru berdiri 4 tahun,BAF telah memilik peralatan dan sdm yang sesuai standar. Cikal bakal BAF dimulai saat Bondan duduk di bangku kuliah dengan menjadi broker proyek yang pada saat itu belum berbadan hukum. Kemudian mulai mengikuti beberapa tender dengan mengajukan proposal sehingga sampai sekarang mempunyai klien tetap BUMN-BUMN di Jogjakarta.

Salah satu kesuksesannya adalah saat bencana gempa bumi melanda Jogja dimana BAF menjadi supllier bagi 17 LSM internasional dimana mereka lebih mengutamakan kualitas dan pelayanan dibandingkan harga yang hal ini tidak dipenuhi oleh kebanyakan supllier . Belum lagi permintaan dari masyarakat umum yang jumlahnya ribuan dan ingin membangun rumah pada waktu yang hampir bersamaan.

General supllier ditekuni karena dia merasa tidak pandai, apalagi pada saat kuliah dia jarang masuk. Selain itu modal yang dimiliki tidak terlalu besar sehingga apabila dia mencoba mengikuti arus bisnis yang digeluti kebanyakan pebisnis muda akan sulit bersaing. Pemain di bidang general supllier mayoritas pemain tua dan kebanyakan pemain tua kurang inovatif dan terlalu percaya diri dengan pengalaman yang dimiliki. Hanya saja mereka kurang inovatif baik dari sisi penciptaan produk sampai pemasaran.Hal inilah yang menjadi kunci keberhasilannya menembus dominasi pemain lama di bidang general suplier.

Perjalanan Bisnis

Awal perjalanan karir usahanya dimulai sejak duduk di bangku sekolah. Alumni SMU Muhammadiyah 1 Yogyakarta ini tertarik untuk menerjuni bisnis karena alasan yang sederhana, ingin kaya. Usaha awalnya berjualan kambing di pasar dimana dan usaha ini kemudian terhenti cukup lama. Saat kuliah dia mencoba menekuni asaha material yang pernah dirintis oleh orangtuanya yang dulu gagal. Dia mencoba menciptakan inovasi produk yang sudah ada. Pada tahun 1997 saat terjadi krisis, banyak perusahaan kontraktor bangkrut yang menjual scafolding untuk menutup kerugian. Saat itu,Bondan membeli scafolding dengan sistem kiloan dengan harga Rp1500,-/kg. Apabila membeli baru saat ini 1 set scafolding bisa mencapai Rp850.000,-. Musibah bagi orang lain tetapi berkah bagi Bondan.”Tergantung bagaimana mensikapinya”,katanya.

Awalnya scafolding tersebut dia gunakan untuk kepentingan proyeknya sendiri, setelah selesai, supaya produktif scafolding tersebut disewakan. Menurutnya, salah satu nyawa sebuah proyek di scafolding. Saat ini bahan bambu sudah banya ditinggalkan karena dari segi biaya cukup mahal. Selain bambu dan paku, pemasangandan pembongkaran bambu cukup sulit dan memakan waktu lama,akhirnya biaya tenaga kerja membengkak.Sedangkan bila menggunakan scafolding, pemasangannya cukup singkat dan ketinggiannya akurat karena ukurannya yang standar.

Selama proses perjalanan bisnisnya, banyak dirasakan suka dukanya. Ibarat orang yang baru belajar naik sepeda, pasti mengalami jatuh. Seperti order material yang tidak dibayar, proyek yang tidak selesai kemudian ditinggal lari kliennya dan sebagainya.Yang terpenting menurutnya, bagaimana belajar dengan cepat mengatasi tantangan dan kendala yang dihadapi.Kiatnya adalah belajar dari kasus – kasus dan strategi perusahaan- perusahaan besar dengan membaca bisnis. Dengan metode copy paste, meniru dan kemudian diterapkan di bisnisnya sendiri. Selain itu, untuk menjadi pebisnis yang baik harus memiliki kepekaan sehingga setiap kendala dan kejatuhan yang dialami merupakan pukulan yang pertama dan yang terakhir, tidak terulang di kemudian hari.

Seiring berjalannya waktu, suami Lia ini, bisa menemukan kunci bagi usaha yang digelutinya. Salah satu buku favoritnya, Blue Ocean Strategy, banyak memberikan inspirasi bagi pengembangan usahanya. Ketika pemain lama hanya fokus terhadap produk-produk yang sudah ada, dia mencoba menciptakan produk yang inovatif seperti metode pembuatan buis beton dengan sistem cor dimana yang lain masih menggunakan sistem pres manual atau jojok.Desain paving yang dia ciptakan cukup inovatif, berbeda dari produk lainnya. Juga ukuran tinggi buis beton BAF mempunyai ukuran tinggi akurat 50cm, sedangkan produk lain berkisar 45cm. Hal- hal inilah yang menjadi keunggulannya sehingga dia bisa mengontrol harga di saat produk lain berharga Rp 45.000,- per buah, Dia menjual dengan harga Rp50.000,- per buah.

Hal itu pula yang mendorong untuk memulai usaha peternakan kambingnya menggunakan strategi yang sama. Menurutnya, seorang pengusaha yang hebat bisa menciptakan pasar. Pasar kambing etawa mulai membaik baru 2-3 tahun yang lalu. Harga kambing yang dulunya rata-rata per ekor Rp 2000.000,- sudah mendapat kambing dewasa, sekarang dengan harga yang sama hanya memperoleh kambing usia 2 minggu. Hal ini membutuhkan proses yang cukup lama. Untuk meningkatkan nilai jual kambing, Bondan mencoba mengemas usaha peternakan kambing dengan berbagai cara seperti kontes kambing. Kontes pertama diadakan di Kaliurang dimana dia sebagai ketua panitia. Selain kontes juga diadakan bursa,pameran dan dilakukan ekspose melalui koran, tv dan internet. Dan tujuan dari penyelenggaraan event – event tersebut dirasa cukup berhasil sejauh ini. Harga kambing dewasa untuk indukan yang bagus bisa mencapai rata – rata Rp10.000.000,- per ekor. Dari hasil inilah dia dan istrinya bisa membiayai ibadah haji.

Pengembangan kambing perah dan pupuk kandang, menurutnya, juga merupakan salah satu strategi “blue ocean”. Selain itu, dalam membidik segmen pasar, dia membidik pasar di internet yang menurutnya segmen di internet merupakan segmen kelas atas sehingga bisa mendapat margin yang tinggi. Spesifikasi segmen yang dia bidik adalah orang – orang hobiis yang ingin bernostalgia. Mereka biasanya tidak terlalu banyak tuntutan dan tidak bermasalah dengan harga dan ini berbeda dengan pasar pedagang atau peternak yang meperhatikan berbagai aspek seperti jenis makanan sampai dengan cara berjalannya. Dengan strategi itulah dia mendapatkan keuntungan menjual 3 ekor kambing sama dengan orang lain yang menjual 100 ekor kambing.

Kiat – Kiat

Pertama, harus jeli. Dengan mengamati kondisi pasar sehingga bisa mengetahui kebutuhan pasar dan menghindari kejenuhan pasar. Contohnya, saat bisnis penjualan tanaman menurun, Bondan mencoba menjual media tanam,pupuk atau menawarkan usaha penyewaan tanaman ke instansi – instansi. Dalam menciptakan pasar, dia juga mempersiapkan persediaan dan strateginya sehingga saat pasat booming dia bisa mengambil hasil maksimal.

Kedua, dengan semboyan “obah mamah, ubet ngliwet”, bahwa jangan mengharap mendapat uang bila hanya berdiam diri. Indonesia dengan sumber daya alam yang melimpah banyak memberikan keuntungan apabila mau dimanfaatkan dengan baik.

Ketiga, kunci usaha adalah memiliki kepekaan dan minat karena bisa menciptakan kreatifitas. Di bidang general supllier sebagai pemain muda atau di peternakan kambing etawa, Bondan mengambil sasaran dan metode yang berbeda dengan pemain lama sehingga tidak berebut pasar yang sama. Bila ada produk buis beton yang rusak, coba dimanfaatkan sebagai bahan baku kansting, pembatas jalan raya. Pengagum Tung Desesm Waringin ini juga mengembangkan susu kambing bubuk yang bisa bertahan selama 2 tahun dibandingkan susu cair yang bertahan hanya 2 bulan.

Saat ini, dalam menghadapi krisis global, BAF berusaha mensolidkan usaha yang sudah berjalan dan mencoba terus berinovasi dalam pengembangan produknya sehingga tidak ada produk yang tidak menghasilkan.

11 thoughts on “Pebisnis Yang Selalu Ingin Menciptakan Karya Inovatif”

Leave a Comment

Bingung Cari Peluang Usaha?

Yuk Gabung Jadi Agen/ Mitra Waralaba